Waspada
Waspada » Belajar Matematika Perlu Untuk Kepercayaan Diri
Nusantara

Belajar Matematika Perlu Untuk Kepercayaan Diri

JAKARTA (Waspada): Selama ini pelajaran matematika seringkali menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Bahkan dalam salah satu komentar di instagram yang membahas Ujian Nasional, ada siswa yang mengatakan lebih baik jualan kue nastar daripada harus ujian matematika.

Ungkapan itu menggambarkan betapa banyak siswa yang membenci pelajaran satu ini. Selain dianggap sulit, seringkali metode pengajarannya pun kurang menyenangkan.

Bukti kalau pelajaran matematika memang tidak disukai banyak anak, dapat dilihat dari hasil skor Programme for International Student Assesment (PISA) untuk Indonesia di 2018 yang diumumkan The Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Skor PISA Indonesia untuk matematika dan sains adalah 379. Untuk sains adalah 396.

Angka itu jauh di bawah rata-rata dunia. Rerata skor PISA negara anggota OECD untuk matematika dan sains 489.
Sebagai pembanding, China dan Singapura menempati peringkat tinggi untuk skor matematika dengan skor 591 dan 569.

“Siapa bilang matematika itu sulit? Ternyata kalau kita paham konsepnya, matematika itu menyenangkan, lho!” ujar Keiko Ishii Toyoizumi, Presiden Direktur PT Benesse Indonesia yang menaungi bimbingan belajar matematika asal Jepang, Shinkenjuku. Dalam Bahasa Jepang, Shinkenjuku artinya ‘mengerti itu menyenangkan’.

Kamis (23/1) siang itu, Keiko Ishii mengumumkan adanya kompetisi matematika Shinkenjuku yang ke-3, pada 26 Januari 2020 di beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Dia ditemani rekannya, Tatsunosuke Suzuki (Direktur PT Benesse Indonesia), Jovan Basir, Manajer QE selaku Ketua Panitia The 3rd Shinkenjuku Math Championship serta pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili Setiawan.

Belajar matematika sangat penting. Ada beberapa hal membuatnya demikian. Matematika adalah ilmu yang dipakai seumur hidup. Matematika juga dipakai sebagai dasar bagi ilmu sains bahkan literasi. Memahami dengan baik konsep matematika dasar, dipercaya para ahli dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa.

“Sebab matematika itu bagian paling dasar dari kemampuan pemecahan masalah. Dengan memahami konsep saja, bukan sekedar menghafal rumus, maka siswa dapat dengan mudah memecahkan soal-soal yang memerlukan penalaran tinggi atau high order thinking skills atau HOTS,” kata Keiko.

Perlu diperhatikan adalah metode pengajarannya. Shinkenjuku sendiri mengaku punya metode pembelajaran yang menyenangkan. Tidak hanya bermain di tataran berhitung, justeru pemahaman siswa akan konsep dan kerja sama dalam memecahkan soal, menjadi yang utama.

“Kami menginginkan anak-anak senang belajar matematika. Itulah yang seharusnya. Sebab sebenarnya matematika itu mudah, asal kita tahu konsep dasarnya,” kata Suzuki.

Merasa perlu urun serta membantu para siswa bimbingan belajarnya berprestasi, Benesse pun menggelar kejuaraan matematika antar outlet di seluruh Indonesia. Pada tahun ini disebut Jovan Basir adalah pelaksanaan tahun ketiga. Antusiasme semakin tinggi. Ada sedikitnya 200 an sekolah asal para pelajar anggota bimbel yang terdata mengikuti kejuaraan ini.

“Kejuaraan ini sekaligus menandai peran serta aktif kami dalam mewarnai proses belajar para siswa Indonesia. Tentu saja ke depannya kami ingin sekali bekerja sama dengan Kemendikbud dalam upaya meningkatkan kapasitas guru-guru matematika di sekolah-sekolah di Indonesia,” ujar Jovan. (dianw/B).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2