Waspada
Waspada » Anggaran Besar Penanganan Covid-19 Tak Terserap Maksimal.
Nusantara

Anggaran Besar Penanganan Covid-19 Tak Terserap Maksimal.

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS, Anis Byarwati (kiri), Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PAN Intan Fauzi (tengah) dan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia/IAKMI Dr. Hermawan Saputra.(Waspada/Ramadhan Usman)

JAKARTA (Waspada): Anggota Komisi IX DPR Intan Fitriana Fauzi mengingatkan pemerintah agar serius menggunakan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terkait dampak Covid-19 sebesar Rp695,2 Triliun. Alokasi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang sangat besar itu harus benar-benar bisa memperbaiki kehidupan ekonomi rakyat.

Sementara anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F PKS ) Anis Byarwati mengungkapkan, pemerintah Indonesia memang kurang dalam menghargai riset anak-anak bangsa dibandingkan dengan negara-negara yang terkena virus yang sama.

“Demi nasib rakyat dan perbaikan ekonomi, kita setuju saja dengan anggaran yang diusulkan pemerintah,” kata Intan Fitriana Fauzi dalam diskusi “Vaksin Covid-19, Masalah Atau Solusi” di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/7).

Sesuai ketentuan perundangan Anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) ini mengatakan pada prinsipnya setiap rupiah atau uang pajak rakyat yang disetor ke APBN harus digunakan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Karena itu, tata kelola penggunaan anggaran ini harus memberi benefit yang maksimal untuk rakyat. Ini prinsip dasar,” ujarnya.

Apalagi di era krisis kesehatan dan krisis ekonomi sekarang ini, lanjut Intan , alokasi anggaran harus tepat sasaran.

“Percuma kita memiliki anggaran tetapi anggaran tersebut tidak bisa secara cepat dibelanjakan untuk rakyat. Padahal rakyat membutuhkannya,” tegasnya.

Sayangnya, kata Legislator daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat VI ini, daya serap anggaran saat ini masih sangat rendah. Realisasi per 1 Juli 2020 masih sebesar Rp127,4 triliun atau 18,3 persen dari alokasi total dukungan fiskal penanganan Covid-19 sebesar Rp 695,2 triliun.

“Hal ini terjadi lantaran tidak punya konsep yang jelas dalam mendesain program kerja,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Intan lagi, negara telah menyiapkan anggaran untuk membiayai semua program tersebut.

Lagi-lagi, impelementasi dan eksekusi program tidak jelas. Karena itu, sangat penting langkah yang cepat, tepat dan efisien.
Alasannya, karena pada 2020 ini dalam suasana krisis kesehatan dan perekonomian. “Saya kira, perlu kebijakan extraordinary yang harus dilakukan Pemerintah. Kebijakan Extraordinary ini untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan bangsa dan negara,” imbuhnya.

Anis Byarwati menyorot anggaran guna menemukan vaksin untuk melawan virus Corona.

Menurut dia, untuk menemukan vaksin tidak terlepas dari melakukan riset.

“Terbukti dari alokasi anggaran penguatan riset dan perkembangan di tanah air yang setiap tahunnya masih di bawah 0,8% dari total pendapatan domestik bruto negara,”ungkapnya.

Perlu diketahui anggaran riset di Indonesia tahun ini hanya 1,37 triliun, angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu mencapai 2,01 triliun.

Menurut Anis, ada beberapa catatan penting yakni pemulihan kesehatan masyarakat merupakan ujung tombak dari penanganan Covid 19, karena tanpa penanganan kesehatan yang memadai, kita bisa tergelincir ke jurang ketidakpastian, baik dari sisi kesehatan masyarakat, maupun kondisi ekonomi pada umumnya.

Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia/IAKMI Dr. Hermawan Saputra mengatakan sejak virus Corona muncul di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok dan kemudian menjadi global pandemic sejak 13 April 2020, maka semuanya panik di awal, tetapi malah abai belakangan ini.

“Nah ini menjadi sebuah paradoks, ketika kasus Covid baru ditemukan di Indonesia dengan hitungan jari, kita begitu paranoid, bahkan terjadi panic buying,” ujarnya.

Namun sekarang, kata Hermawan, pemerintah malah permisif dan seolah-olah sudah merdeka. Padahal sekarang hampir mencapai 100.000 kasus positif Covid-19 saat ini dan terjadi ledakan potensial secara local transmission yang ada di tengah masyarakat.

Menurut Hermawan, Vaksin itu sebuah keniscayaan yang harus diupayakan. Jadi wajar, negara-negara berlomba-lomba mencari dan menemukan vaksin yang tepat. Tetapi juga menjadi sebuah tantangan ketika Indonesia belum melewati critical momentum atau puncak pandemi di Indonesia ini belum terlewati,” tegasnya.(j04)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2