Waspada
Waspada » Belajar Di Rumah, Orang Tua Harus Rajin Ajak Anak Bermain
Nusantara

Belajar Di Rumah, Orang Tua Harus Rajin Ajak Anak Bermain

JAKARTA (Waspada): Selama pandemi Covid-19, belajar di rumah menjadi satu-satunya jalan untuk terus menempuh pendidikan. Meski tidak mudah, proses belajar dari rumah dapat dilakukan dengan baik, asal ada kolaborasi antara orang tua dan guru.

Orang tua tidak harus mendorong anak untuk terus menerus belajar, melainkan juga harus diselingi dengan kegiatan bermain. Sebab bermain pun berguna untuk membentuk kreativitas anak.

“Dengan bermain anak jadi senang secara psikologis dia aman pembelajaran pun maksimal dia ingin mengeksplorasi karena dia ingin tahu berbagai aspek dari permainan tersebut itu dari dirinya,”ujar pakar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Prof Fasli Jalal kegiatan Webinar `Pendidikan yang Membahagiakan Anak di Era Covid-19`, yang digelar oleh Majelis Dikdasmen PP Aisyiyah, pada Senin (11/5).

Kegiatan webinar tersebut diikuti oleh ratusan guru Aisyiah di seluruh Indonesia, dihadiri oleh Ketua PP Aisyiyah Prof Masyitoh Chusnan; Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Muhammad Hasbi; Rektor Universitas Yarsi sekaligus Ahli PAUD Prof Fasli Djalal, dan dimoderatori oleh Ketua LP3 Universitas Muhammadiyah Jakarta, Herwina Bahar.

Peran orang tua, tambah Fasli menjadi sangat dominan dalam PAUD di rumah. Kunci keberhasilan peran itu adalah kemampuan menstimuli kreativitas dan imajinasi anak lewat bermain.

“Dan jangan buat anak menderita dalam arti tidak menikmati pendidikannya. Ketika kita buat dia menderita dan dia tidak dapat membangun kreatifitasnya, maka akhirnya konsep-konsepnya dia tidak bisa dia dapat. Padahal dengan bermain kita membangun kreatifitas,” tandas Fasli.

*Bukan Tanpa Kendala*

Sama seperti kakak-kakaknya di sekolah dasar dan menengah, siswa PAUD juga belajar dari rumah dengan menggunakan akses internet. Namun dalam prosesnya, kerap tersendat karena terkendala keterbatasan akses.

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Muhammad Hasbi dalam kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya melakukan survei pada 10.601 PAUD di 514 kabupaten seluruh Indonesia. Sebanyak 19,3 persen responden menyebut internet yang tidak stabil menjadi hambatan selama pembelajaran jarak jauh saat pandemi.

“Kendala terbesar yang dihadapi adalah jaringan internet tidak stabil. Ini terjadi di mana-mana,” kata Hasbi.

Kendala terbesar kedua adalah minimnya kemampuan orang tua dalam menggunakan teknologi informasi. Sekitar 16,8 responden mengakui minimnya kemampuan mereka tersebut.

Selanjutnya, 15,4 persen responden mengungkapkan, kendala PJJ ada pada keterbatasan bahan ajar daring maupun biayanya.

“Biaya pulsa atau paket data yang tidak sedikit, menjadi satu kendala yang banyak dikeluhkan orang tua” kata Hasbi.

Sementara itu, Ketua PP Aisyiyah Prof. Masyitoh Chusnan menuturkan, sejak diberlakukan belajar dari rumah akibat pandemi Covid-19, banyak guru-guru Aisyiyah di pelosok tidak mendapatkan honor bulanan.

Kondisi itu sesuai hasil survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang menyatakan sebanyak 40 persen orang tua yang memiliki anak di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), tidak membayar biaya pendidikan selama pendemi virus corona baru (Covid-19).

Padahal, guru-guru tersebut menurut dia yang selama ini berjuang di garda terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa.

Akhirnya lanjut dia, pada 22 april lalu, jajaran PP Aisyiyah dan Muhammadiyah semua bergerak untuk gerakan ‘taawun’ sosial.

” Guru-guru jadi prioritas kami. Karena guru ujung tombak dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah,”tutup Masyitoh. (j02)

Pakar PAUD, Prof Dr Fasli Jalal. (Foto: ist)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2