Waspada
Waspada » 14 Varietas Unggul Kedelai BATAN, Siap Atasi Kelangkaan Kedelai
Nusantara

14 Varietas Unggul Kedelai BATAN, Siap Atasi Kelangkaan Kedelai

Arwin, salah satu peneliti kedelai dari BATAN menunjukkan salah satu bibit unggul kedelai yang siap dibudidayakan.

TANGERANG SELATAN (Waspada):
Naiknya harga kedelai di pasaran hingga mencapai 50 persen, membuat masyarakat menjerit. Industri tempe dan tahu dan rumah makan rakyat yang paling terpukul. Kini, para pengusaha tempe dan tahu hanya bisa berharap adanya solusi bagi ketersediaan kacang kedelai, supaya ancaman gulung tikar tidak senantiasa membayangi.

Kondisi ini ditanggapi serius Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan. Dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Rabu (13/01), dia mengatakan, kurangnya pasokan kedelai akan berpengaruh pada ketahanan pangan dan kondisi kesehatan masyarakat.

Menurutnya, kelangkaan kedelai ini menjadi hal yang serius dan perlu dicarikan solusinya sesegera mungkin. Terlebih lagi diketahui bahwa kenaikan harga kedelai di Indonesia dikarenakan naiknya harga kedelai impor, sedangkan kebutuhan kedelai nasional saat ini, sebagian besar dipenuhi melalui impor. 

“Sebagai lembaga penelitian, BATAN melihat hal ini juga sebagai momentum untuk kembali menguatkan program swasembada kedelai secara nasional. Permasalahan ketersediaan benih unggul, lahan, dan harga kedelai perlu dicarikan solusi oleh semua kementerian dan lembaga yang terkait,” tambahnya. 

 

Sebagai bentuk kontribusi dalam upaya meningkatkan produksi kedelai nasional, Anhar menegaskan, BATAN telah berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai.

Hingga saat ini BATAN telah menghasilkan 14 varietas unggul benih kedelai yang sebagian besar telah diperkenalkan kepada para petani melalui program pendayagunaan hasil litbang iptek nuklir yang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi. 

 

      “Varietas unggul kedelai BATAN dihasilkan melalui sebuah proses yang memanfaatkan radiasi gamma. Pengembangan produksi varietas unggul baik padi dan kedelai menjadi salah satu program prioritas BATAN,” ungkapnya. 

 

      Anhar berharap varietas benih unggul kedelai hasil mutasi radiasi gamma yang dihasilkan BATAN dapat dijadikan varietas yang dimanfaatkan secara nasional.

Meski demikian, dia mengakui, persoalan peningkatan produksi kedelai tidak hanya ditentukan oleh jenis varietasnya saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor lain seperti teknik budi daya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.  

“Terkait ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani, bukan merupakan kewenangan BATAN sehingga saya berharap ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai secara nasional benar-benar bisa meningkat,” harapnya. 

 

Prospek Penelitian Kedelai di BATAN 

 

Pada 2020, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi kedelai 7 persen yakni dari 358.627 ton pada tahun 2019 menjadi 383.371 ton pada 2020. Untuk mencapai hal ini, pemerintah membuat program 300.000 ha di 21 provinsi ditanami kedelai.  

 
Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir, Totti Tjiptosumirat mengatakan, terkait upaya pemerintah meningkatkan produksi kedelai nasional, BATAN turut  berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai hingga mencapai 5 ton.

“Benih kedelai saat itu yang tersedia adalah varietas Anjasmoro, Grobogan, dan Mutiara 1. Benih FS Mutiara 1 yang disiapkan oleh BATAN pada akhir tahun 2018 lebih kurang 5 ton,” kata Totti. 

Melihat kondisi ketersediaan pasokan kedelai nasional yang belum mencukupi, lanjut Totti, prospek penelitian dan pengembangan varietas kedelai di BATAN sangat baik. Terlebih lagi Lembaga Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) memberikan dukungan penuh kepada Indonesia melalui program kerja sama teknik. 

“Keseriusan BATAN dalam melakukan penelitian kedelai ini dibuktikan dengan melepas 4 varietas tanaman kedelai pada dua tahun terakhir, yaitu varietas Kemuning 1 dan Kemuning 2 untuk kedelai tahan cekaman, dan varietas Sugentan 1 dan Sugentan 2,” tambah Totti. 

 
Peneliti BATAN, Arwin mengatakan, varietas unggul kedelai Sugentan 1 dan Sugentan 2 merupakan hasil perbaikan varietas yang telah ada sebelumnya yakni Argomulyo. Dengan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray, didapatkan varietas baru yang mempunyai karakter lebih baik dibandingkan varietas induknya. 

“Dibandingkan dengan induknya, Sugentan mempunyai beberapa keunggulan diantaranya umur tanamnya super genjah yakni sekitar 67-68 hari lebih cepat dibandingkan induknya yang mencapai umur antara 86-87 hari. Produktivitasnya juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per ha dengan rata-rata 2,7 ton per ha, sedangkan induknya pada kisaran 2,2-2,4 ton/ha,” kata Arwin. 

Selain itu, Sugentan 1 dan Sugentan 2 ini diklaim sebagai varietas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama pengisap polong, dan hama ulat kerayak. Kedua varietas ini tergolong super genjah, sehingga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan.   

Untuk mendapatkan varietas Sugentan 1 dan 2 ini, penelitiannya dimulai sejak tahun 2012 dan telah dilakukan uji multilokasi di 7 daerah yakni

Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bogor, Yogyakarta, dan Citayam sebanyak 2 lokasi. Dari ketujuh lokasi tersebut, sebagian besar menunjukkan hasil yang baik kecuali di Maluku hasilnya termasuk dalam kategori sedang. (J02)

 

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2