1 Januari 2022 Minyak Goreng Curah Tidak Bisa Diperdagangkan - Waspada

1 Januari 2022 Minyak Goreng Curah Tidak Bisa Diperdagangkan

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Kementerian Perdagangan memastikan mulai 1 Januari 2022 minyak goreng dalam bentuk curah tidak bisa diperdagangkan, seiring implementasi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), No. 36/2021 tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan. 

“Betul minyak goreng kemasan wajib kemasan per 1 Januari 2022. Memang ini merupakan salah satu intervensi pemerintah menghadapi harga yang menuju stabil,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, Selasa (16/11/2021).

Dia menambahkan, minyak goreng kemasan cenderung memiliki harga yang stabil karena daya simpannya mencapai 1 tahun.  Sebagaimana diketahui, harga minyak goreng melanjutkan tren kenaikan mengikuti pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). 

“Kalau sudah kemasan harga lebih stabil karena dia tahan 1 tahun. Ini yang ribut [harga naik] adalah minyak goreng curah, sifatnya tidak tahan lama. Sehingga perlu dipastikan mandatori [kemasan] yang tertunda ini berjalan,” jelasnya. 

Menurutnya, hanya ada 2 negara di dunia yang masih memperdagangkan minyak goreng dalam bentuk curah, yakni Indonesia dan Bangladesh. Padahal daya simpan minyak curah lebih pendek sehingga membuat harganya fluktuatif mengikuti harga CPO internasional. 

“Karena umur simpannya pendek, ia sangat tergantung dengan harga CPO internasional. Jadi harganya mengikuti harga global,” terang Oke. 

Saat ini, lanjutnya, konsumsi minyak goreng nasional per tahun berkisar 4 sampai 5 juta ton yang terdiri atas minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah untuk rumah tangga serta industri. 

Dari jumlah tersebut, sebagian besar minyak goreng untuk konsumsi diperdagangkan dalam bentuk curah. Sementara komposisi minyak goreng kemasan masih kecil. 

“Kebutuhan minyak goreng sederhana biasanya 5 persen dari 410.000 ton yang diperdagangkan per bulannya,” ujar Oke. 

Dalam Permendag No. 36/2021, minyak goreng kemasan sederhana tetap harus memenuhi ketentuan dalam perundang-undangan, sebagai jaminan keamanan pangan bagi konsumen. 

“Hal ini bisa diperoleh dari kemasan dan pelabelan yang tidak ada di minyak goreng curah. Terlebih ada indikasi minyak jelantah dibersihkan dan dijual kembali dalam bentuk minyak curah,” tandasnya. (J03) 

  • Bagikan
Search and Recover