Waspada
Waspada » 1.738 Pelajar Ikut Festival Sains Dan Budaya 2020
Nusantara

1.738 Pelajar Ikut Festival Sains Dan Budaya 2020

TANGERANG SELATAN (Waspada): Sebanyak 1.738 pelajar SMP/MTs dan SMA/MA dari 20 provinsi di Indonesia ikut ambil bagian dalam Festival Sains dan Budaya (FSB) 2020 yang digelar Eduversal bersama Sekolah Karisma Bangsa. Kegiatan berlangsung di Sekolah Karisma Bangsa Tangerang Selatan sejak 21-23 Februari 2020.

Ketua panitia FSB 2020, Dwi Prajitno Wibowo mengatakan,
FSB merupakan penggabungan program Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) ke-12, dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSEBI) ke-6, dengan mengangkat tema “Bangun Generasi Gemilang”.

“Penggabungan dua program tersebut menjadi wujud konkret untuk membangun generasi muda bangsa yang mempunyai keseimbangan karakter, kritis, inovatif, kreatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa,” kata Dwi, dalam jumpa media di Sekolah Karisma Bangsa, Sabtu (15/2).

ISPO merupakan olimpiade proyek penelitian dalam bidang sains, teknologi, lingkungan, dan komputer. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa tingkat SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK se-Indonesia.

Tercatat, sebanyak 383 proyek penelitian telah masuk dalam ajang tersebut. Dari jumlah itu, 134 penelitian masuk dalam tahap final.

Sementara itu, OSEBI merupakan ajang menggali bakat, kemampuan, dan kecerdasan siswa dalam bidang seni dan Bahasa Indonesia. Kegiatan ini diperuntukkan bagi generasi muda berusia 6-18 tahun.

Sebanyak 997 siswa dari 142 sekolah di 20 provinsi, ikut ambil bagian dalam ajang OSEBI. Dari jumlah itu, 55 proyek terpilih untuk diadu dalam tahapan final.

Ajang tahunan FSB, lanjut Dwi, menjadi tempat bagi generasi muda berprestasi untuk menunjukkan potensinya. Generasi yang penuh percaya diri seperti para peserta FSB inilah yang akan mampu menghadirkan kemajuan bagi bangsa.

“Generasi yang berpikir maju tanpa tercerabut dari akar budayanya,”imbuh Dwi.

Tentang jumlah provinsi yang menjadi asal peserta FSB ke-2, Dwi menyebutkan diantaranya yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan DI Yogyakarta.

Presiden Direktur OSEBI, Liliana Muliastuti dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengatakan, sejatinya sekolah-sekolah sudah memiliki kurikukum seni budaya. Tapi tantangannya sekarang adalah bagaimana mengintegrasikan seni budaya dengan sains.

“Ini adalah keterampilan tersendiri yang perlu dilatih kepada para guru. Dalam meramu ini tentu tidak bisa sendiri, harus dilakukan bersama dengan guru-guru sains,” ujar Liliana.

Di sisi lain, lanjut Liliana, inovasi pembelajaran dengan menggabungkan sains dan seni budaya tentu menjadikan siswa akan lebih mudah dalam menerima materi belajar. Para siswa akan lebih mudah menerima pelajaran jika guru punya sentuhan seni dalam mendidik. Misalnya, dalam pelajaran sains tentang arah mata angin, maka guru dapat menyebutkannya sambil bernyanyi.

“Misalnya ajarkan arah mata angin, bisa dengan lagu. Ini membutuhkan kiat dan teknik dari para guru,” imbuhnya.

Dengan memadukan teknik mengajar, kata dia, ilmu-ilmu sains tidak lagi dianggap sebagai hal menakutkan bagi para siswa. Dan buat guru seni budaya merasa bahwa apa yang diajarkan menjadi bagian dari pelajaran penting.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) Prof Dr Ir Riri Fitri Sari MSc MM mengaku sangat senang dengan animo siswa SMP dan SMA serta sederajat yang melakukan penelitian untuk ajang FSB ini.

“Ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan FSB. Dari tahun ke tahun pihak penyelenggara kerap mengupayakan adanya peningkatan kualitas project yang diangkat oleh siswa. Dalam hal ini tentu memang harus ada kerjasama antara guru san siswa dalam membuat project terbaik,” unkap Riri.

Dalam setiap proyek penelitian, guru dan siswa sangat diperbolehkan untuk bekerjasama dengan tim peneliti atau tim ahli di daerahnya masing-masing. Misalnya, bekerjasama dengan perguruan tinggi. Dari situ, ilmu dan wawasan akan bertambah.

“Kami juga sangat apresisi jika siswa dapat menemukan atau mengangkat sesuatu project yang mengandung kearifan lokal,” tuturnya.

Riri mencontohkan salah satu penelitian siswa dari Aceh yang mengupas tentang manfaat buah ciplukan bagi kesehatan mulut dan gigi. Penelitiannya didasarkan pada kearifan lokal yang menyebut manfaat buah ciplukan secara turun temurun. Kebenarannya lantas diuji sampai menjawab betul rasa ingin tahu tentang kebenarannya. Pencarian ilmu dan pengujian laboratorium pun melibatkan banyak pihakz termasuk pihak yang sangat berkompeten yakni perguruan tinggi.

“Dengan mengusung project tersebut tentu jelas adanya proses interaksi antara siswa dengan guru dan ahli-ahli di perguruan tinggi setempat. Ini sangat baik menjadi wadah yang dapat memecah penasaran anak terhadap sesuatu,” ungkapnya.

Lebih jauh Riri menambahkan, hingga saat ini perkembangan minat siswa untuk belajar sains sudah sangat baik. Bahkan, peranan sekolah dan guru sebagai penggerak semangat siswa sangat luar biasa.

“Siswa dibuat jadi termotivasi dengan baik. Makanya ajang FSB ini menjadi sangat penting bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan sesama peneliti muda,” tandas Riri. (dianw)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2