Ngopi Literasi, Diplomasi Anak Negeri Menyuguhkan Verifikasi

“Ada kopi, ada inspirasi, begitu sebuah salinan dengan desain gaya millenial tertulis di sebuah kedai kopi salah satu tempat nongkrong anak muda di kota Medan. Sebuah pesan yang menyiratkan bahwa di balik seteguk kopi selalu ada inspirasi yaang dikeluarkan untuk menjadi bahan diskusi terutama di kalangan anak muda yang haus akan kondisi negeri akhir-akhir ini. Dari sinilah beragam diplomasi yang kadang berujung lahirnya inspirasi maupun persuasi untuk membangkitkan daya nalar anak negeri membangun kembali kejayaan Ibu Pertiwi”.

Ngopi Literasi, Diplomasi Anak Negeri Menyuguhkan Verifikasi

OLEH : MUHAMMAD HISYAMSYAH DANI

Ada sebuah peribahasa mengungkapkan dimana ada gula disitu ada semut. Ungkapan ini sejalan dengan menjamurnya kedai-kedai kopi yang merambah kota-kota besar khususnya di kalangan masyarakat kampus. Peran kedai kopi yang awalnya selalu diidentikkan dengan generasi orang tua sudah jauh bergeser dan dinikmati oleh anak-anak muda yang memang memanfaatkan kedai kopi bukan sekadar aktifitas menyeruput kopi namun menjadi sebuah tempat diskusi dan menyuarakan narasi insan-insan akademisi. Maka jangan terkejut jika sekarang penikmat kopi bukan lagi menjadikan generasi orang tua kita menempati posisi tertinggi tapi peran penikmat kopi itu sudah diganti oleh para anak-anak muda baik laki-laki maupun perempuan yang tengah menggandrungi kopi sebagai sebuah gaya hidup.

Beda generasi, beda pula cara menikmati. Mulai dari kopi bernuansa lokal hingga produk luar menjadi sajian yang tidak terlepas dari seduhan yang diracik oleh barista (peracik kopi) untuk disuguhkan kepada para penikmat kopi. Mulai dari ekspresso hingga sajian kopi daerah dengan ragam cita rasa selalu menjadi ispirasi bagi penikmat kopi. Khususnya Sumatera Utara, memiliki deretan jenis kopi yang sudah di sertifikasi oleh Undang-Undang sebagai kekayaan produk dengan ciri khasnya masing-masing. Ada Simalungun, Mandailing, Sipirok, Samosir, Lintong, dan Karo. Kekayaan sumber daya ini menjadi sebuah ciri khas tersendiri yang menarik para generasi muda untuk menyeruput kopi.

 

Perilaku para generasi milenial yang menggandrungi kopi sebagai sajian pelengkap diskusi tentu merupakan sebuah tradisi yang harus tetap lestari. Ritual ngopi yang secara konsisten dilakoni tentu akan melahirkan gagasan yang membawa inovasi bila dibarengi dengan ritual diskusi yang melahirkan sebuah konsepsi yang cerdas dan bernarasi baik. Kekuatan generasi milenial sebagai ‘soko guru’ estafet pembangunan tentu harus diisi dengan sumber-sumber narasi yang berisi dan jauh dari berita kebohongan yang pada akhirnya akan mengikis nilai-nilai budaya dan semangat cerdas bernarasi generasi milenial itu sendiri.

Ngopi Literasi

Lazimnya, budaya ngopi sering kali hanya dijadikan sebagai pelengkap dan pelepas penat kaum milenial dari rutinitas keseharian yang melelahkan. Mulai dari bertukar cerita tentang keseharian, bertukar ide dan pengalaman, maupun hanya sekadar menjadi teman saat mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Semuanya sama, selalu memilih aktifitas ngopi untuk menjadi sebuah gaya hidup yang saat ini menjadi gaya hidup yang eksis di kalangan generasi milenial.

Budaya ngopi sambil berdiskusi membahas masalah isu-isu terkini tampaknya menjadi sebuah aktifitas baru yang juga mendapat tempat di hati kaum milenial masa kini. Apalagi isu-isu terkini menyeruak berkembang di tengah kehidupan arus media sosial yang semakin pesat tak tertandingi. Media sosial seperti twitter, facebook, dan blog saat ini telah bertransformasi menjadi wahana yang turut mewarnai wacana di ruang-ruang publik. Media sosial dianggap lebih emansipatif dan egaliter, karena dapat langsung menyuarakan pandangan individu ke ranah publik. Namun disinilah letak sebuah masalah jika aktifitas para kaum muda dengan ‘ngopinya’ tidak dicampur denga racikan sebuah tradisi baik yang pada akhirnya akan bermuara kepada hasil yang mengeluarkan narasi yang baik dan jauh dari kepalsuan. Racikan tersebut tentunya harus pula dibarengi dengan muatan literasi yang merunut setiap lintasan kronologi peristiwa menjadi sebuah peristiwa yang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Untuk mengimbangi muatan narasi yang berisi berita-berita dengan kejelasan sumber inilah, kedai-kedai kopi yang penulis pernah datangi bukan hanya sekadar memberikan akses wifi yang menjadi salah satu pemantik untuk menarik minat generasi milenial datang menyeruput kopi, namun berbagai pihak telah menyiapkan sejumlah konten menarik melalui buku-buku dan sumber-sumber bacaan yang diletakkan di setiap sudut ruangan untuk mengundang anak-anak muda melakukan upaya literasi agar menjadi generasi yang mawas diri akan gempuran berita hoaks yang saat ini penetrasinya sudah masuk ke dalam lini setiap kehidupan bermasyarakat. Terakhir, sebuah perbincangan di sebuah sudut kedai kopi sekelompok anak muda masih saja bersitegang terkait percaturan politik dalam negeri tanpa adanya disiplin verifikasi yang pada akhirnya akan menimbulkan persepsi yang justru akan membawa ke dampak perselisihan yang tak kunjung henti. Budaya ini yang seharusnya bisa dikikis dengan ngopi literasi, selain mendekatkan silahturahmi juga menambah wawasan informasi dengan sumber-sumber yang juga jelas dan jauh dari narasi palsu yang selama ini tanpa disadari menjadi sebuah rutinitas yang selalu menghampiri.

Diplomasi ngopi yang tak hanya menyuguhkan agenda menyeruput kopi selain menambah jabat erat silahturahmi anak kaum milenial juga merambah dan menyuguhkan sebuah wawasan baru akan pentingnya mencegah berita hoaks untuk menghindari perpecahan antar sesama anak negeri. Mudahnya setiap generasi milenial untuk langsung menuliskan dan membagikan sebuah sumber yang tanpa diusut kebenarannya menjadikan berita hoaks tetap tumbuh subur. Menguatkan pendapat penulis, peneliti “Emprit Drone” Ismail Fahmi mengungkapkan bahwa riset aplikasi menjelaskan kecenderungan orang akan saling berinteraksi dan mempertegas opini dari lingkar grupnya. Ini juga yang pada akhirnya diharapkan melalui budaya diplomasi kaum muda yang menyuguhkan verifikasi akan berdampak pada pengaruh positif bagi keberlanjutan narasi baik di tengah-tengah negeri.

Menurut data yang dikeluarkan Kominfo RI bahwa penetrasi internet yang telah menjangkau 132 juta masyarakat Indonesia harus pula dibarengi dengan literasi media serta tersedianya berbagai ragam jenis konten positif dalam jumlah memadai. Pemerintah juga menambahkan bahwa bukan hanya di Indonesia, kaum milenial yang sering kali langsung membagikan informasi tanpa dilihat keabsahan sumbernya, namun di Amerika Serikat 83 % masyarakatnya juga secara sadar selalu membagikan berita tanpa dirunut kebenarannya. Tentunya budaya ini yang harus kita buang dan kembali bersama melakukan budaya asli Indonesia dengan selalu Tabayyun atau verifikasi alias cek dan ricek setiap informasi yang diterima.

Tentunya, dengan budaya ngopi literasi, ngopi bukan lagi sekadar menyeruput sajian kopi lokal yang bercita rasa tinggi, namun di balik ngopi ada diplomasi yang dilakukan para generasi pembangun negeri untuk saling mengumpan dan memberikan informasi bermuatan narasi yang positif dengan sajian verifikasi yang pada akhirnya akan semakin mengakrabkan hubungan lintas personal dan bersama memerangi penyebaran berita hoaks yang semakin hari semakin ramai utamanya di linimasa media sosial. Cukuplah perselisihan anak negeri yang berakhir dengan tawuran antar kampung dan antar kampus karena kesalahan mendapatkan informasi yang di dapat dari sumber yang tak mumpuni. Saatnya menjadikan anak negeri yang berwawasan terampil dan memperkaya diri dengan informasi yang di dapat dari sumber yang mumpuni dan dapat diverifikasi. Dari hal-hal yang sederhana ini tentunya anak-anak muda akan di dorong untuk berkontribusi terhadap negeri dari yang tidak ada nothing menjadi yang punya kelas something untuk bangsa ini. Cerdas berliterasi, suguhkan verifikasi, menjadi anak negeri yang semakin berempati terhadap pembangunan Ibu Pertiwi.

Salam Literasi

Penulis adalah Anggota Komisi Infokom MUI Kota Medan,

Duta Damai BNPT RI Tahun 2018 Sumatera Utara