Nabi Dan Pengikutnya Berperang

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah kepada musuh.

Nabi Dan Pengikutnya Berperang

Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di Dunia dan pahala yang baik di Akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Allah SWT menghibur kaum orang yang beriman dari musibah yang telah menimpa mereka dalam Perang Uhud, yang sebelum itu mempengaruhi jiwa mereka sekaligus memperingatkan mereka.

Tentang berapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Makna yang dimaksud ialah berapa banyak nabi yang terbunuh dan terbunuh pula bersamanya sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa.

Sesungguhnya dia mengatakan bahwa berapa banyaknya nabi yang terbunuh, padahal dia ditemani oleh sejumlah orang yang banyak, tetapi ternyata para pengikutnya tidak lesu dan tidak lemah dalam meneruskan perjuangan nabi mereka sesudah nabi mereka tiada.

Mereka tidak takut menghadapi musuh mereka dan tidak menyerah kepada musuh karena kekalahan yang mereka derita dalam jihad demi membela Allah dan agama mereka.

Sikap seperti inilah yang dinamakan sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Mereka sama sekali tidak pernah mundur dari kewajiban membantu nabi-nabi mereka dan agama mereka, yakni dengan berperang meneruskan perjuangan nabi Allah hingga bersua dengan Allah, sampai titik darah penghabisan.

Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan tidak pula mereka menyerah (QS. Ali Imran: 146), maksudnya, tunduk dan menyerah kepada musuh. Menurut Ibnu Zaid, artinya mereka tidak pernah menyerah kepada musuh mereka.

Menurut Muhammad ibnu Ishaq, As-Saddi, dan Qatadah, semangat juang mereka sama sekali tidak pernah kendur karena bencana yang menimpa mereka, yaitu ketika nabi mereka terbunuh.

Ayat ini memberikan bandingan kepada orang orang beriman pada era kenabian nabi Muhammad mengenai orang orang terdahulu yang memiliki ketangguhan dalam sikap ketika membela ajaran Allah.

Ayat ini menegaskan bahwa apabila mengalami hambatan dalam perang membela kebenaran, tidak bermakna mendulang kerugian. Karena itu jangan takut kalah, jangan lemah membela al-haq. Betapa banyak nabi dan umatnya yang berperang dan mengalami kendala, tapi tidak mengakibatkan lemah semangat.

Mereka juga tidak takut mati dalam membela agama Allah. Orang yang demikian itulah yang sangat dicintai Allah dan disebut sebagai orang yang sabar. Mereka justru selalu berdoa dan taubat pada Allah, kalau-kalau ada kesalahan bertindak. Mereka itulah yang meraih pahala Dunia dan Akhirat, sebagaimana tersurat pada ayat 147-148.

Menurut al-Zuhri, ayat ini berkaitan dengan peristiwa perang Uhud. Ketika Rasul SAW terjatuh dari kudanya dan terluka, ada yang menghembuskan isue bahwa Rasul wafat pada saat itu. Isu tersebut menimbulkan kegundahan dan kekawatiran bagi sebgian kaum Muslimin yang sedang berjihad.

Ayat ini sebagai teguran mengapa mereka merasa lemah, khawatir, atau gundah bukankah dulu juga banyak nabi dan rasul yang berperang bersama pengikutnya tak gentar tatkala terkena musibah?

 Dengan demikian makna pangkal ayat ini betapa banyak nabi yang berperang bersama para pengikutnya, pembelanya, serta hamba Allah yang taat dan berilmu. Walau mereka menghadapi tantangan yang berat, tapi tidak menjadi lemah, lesu aupun menyerah.

Secara historis ayat ini memberikan peringatan pada kaum Muslimin yang dilanda kekhawatiran akibat berita wafatnya Rasul SAW di tengah kecamuk perang Uhud. Dengan demikian seakan bertanya, mengapa kalian merasa lemah, lesu, patah semangat gara-gara isu yang belum tentu benar. Bukankan para nabi dan pengikutnya di masa silam juga menghadapi berbagai tantangan? Jangan dikira membela yang benar itu selalu lancar.

Secara tersirat ayat ini membertikan bimbingan bahwa dalam memperjuangkan al-islam mesti terhindar dari sifat merasa hina, atau turun semangat disebabkan oleh kekhawatiran; lemah semangat tidak berani menghadapi musuh atau tantangan, disebabkan anggapan bahwa musuh lebih kuat atau lebih tinggi darinya; menyerah pada nasib, atau putus asa, hingga berhenti tidak mau bergerak.

Mengapa kalian terkena penyakit wahn, dla’if, dan istikanah, padahal Allah mencintai orang yang sabar. Pengunci ayat ini juga merupakan jaminan, bahwa orang sabar dalam perjuangan akan meraih kemenangan.

Sabar yang paling penting berdasar ayat ini adalah (1) bebas dari wahn maka mesti memiliki keberanian, penuh semangat tidak dilanda kekawatiran; (2) bebas dari dla’f, maka mesti kuat, gagah dan penuh kewaspadaan; (3) bebas dari istikanah, maka mesti terus bergetar, pantang menyerah pada nasib, tidak putus asa. Dalam ayat lain dikemukakan bahwa orang shabar walau jumlahnya sedikit dapat mengalahkan lawan yang tidak shabar walau jumlahnya lebih banyak.

Perhatikan firman-Nya: Dalam ayat ini tersirat, bahwa kualitas keshabaran pejuang merupakan faktor penting dalam mengalahkan lawan. Jika sabarnya yang maskilam, maka bisa mengalahkan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat.

Sedangkan kesabaran yang kualitasnya rendah bisa mengalahkan lawan yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Doa setiap Muslim, tidak hanya berucap sebagai pembasah bibir, tapi betul-betul dipanjatkan pada Ilahi, dan diwujudkan dalam tekad, usaha dan tindakan. Do’a yang dipanjatkan mujahid dakwah ialah: Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Esensi doa antara lain: (1) mohon ampuan dari kesalahan; (2) minta dihapuskan dari tindakan yang keliru (3) minta diteguhkan pendirian (4) mohon pertolongan dalam berjuang mengalahkan kekafiran dan memenangkan keimanan.

Ini merupakan jaminan dari Allah untuk para mujahid yang sabar, teguh pendirian, semangat berjuang, pantang menyerah terhadap yang salah. Kebahagian yang diberikan pada mereka, adalah kesuksesan di Dunia,dan pahala di Akhirat serta meraih kenikmatan Surga.

Pada tataran aplikatifnya Alquran menekankan kepada para pejuang dakwah bahwa mereka sebagai pejuang dakwah telah didahului oleh sekelompok orang yang memiliki iman dan takwa yang membuat mereka sangat disiplin dalam berjuang, tidak kenal takut dengan kelelahan dan kekalahan.

Mereka berjuang terus menerus tanpa mempedulikan hasil pencapaian yang mereka raih. Karena itu agak naif kalau mengaku pejuang dakwah tapi hidup glamour dengan menikmati hasil perjuangan tersebut sendirian dan lupa terhadap umat yang menderita sendirian ditimpa oleh penderitaan. *** Prof Dr Faisar A. Arfa, MA : Guru Besar Pascasarjana UINSU & UMSU ***