Mutu Dosen Di LPTK Dipertanyakan

JAKARTA (Waspada):Mutu dosen di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menggelar Pendidikan Profesi Guru (PPG) masih dipertanyakan. Karena itu, penyelenggaraan PPG Prajabatan Mandiri yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama 63 LPTK berjalan, diyakini tidak maksimal.

Mutu Dosen Di LPTK Dipertanyakan
Indra Charismiadji

"Mutu dosen di LPTK itu parah. Itulah sumber dari kenapa susah sekali melahirkan guru berkualitas. Mahasiswanya yang ikut PPG menjadi tidak penting lagi karena mutu dosennya sudah parah. Kalau dosennya saja gak mengeri pedagogi, andragogi bagaimana calon guru bisa mendidik anak era sekarang?,” kata pengamat pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis (Cerdas) Indra Charismiadji di Jakarta, belum lama ini.

Indra menyoroti serius mutu dosen di LPTK. Pasalnya, LPTK menjadi harapan utama bagi dunia pendidikan untuk melahirkan guru profesional. LPTK seharusnya mampu melatih calon guru yang bisa melahirkan siswa calon inovator. 

“Karena kebutuhan saat ini dan masa depan adalah sumber daya manusia yang kreatif. Dari world economic forum merilis, 60 persen lapangan pekerjaan untuk siswa SD sekarang itu belum ada saat ini. Artinya, siswa-siswa SD saat ini harus dilatih imajinasinya, kreatifitasnya. Bagaimana itu bisa terjadi? jika guru-guru yang dilahirkan LPTK juga mengerti pedagogi, andragogi dan lainnya,” katanya.

Menurut dia, seharusnya, Kemendikbud melalui Ditjen Sumber Daya menuntaskan dulu program peningkatan mutu dosen di LPTK.

Indra mengaku sudah kerap memberikan masukan kepada pejabat terkait di Kemenristekdikti saat Ditjen Belmawa belum berada di bawah naungan Kemendikbud. Menurut dia, dalam beberapa kesempatan, pejabat terkait mengakui bahwa mutu dosen di LPTK memprihatinkan.

“Saya bahkan diajak datang ke beberapa LPTK, mereka mengadakan PPG itu hanya proyek. Bahkan mereka tidak tahu aturannya. Bohong kalau LPTK siap menyelenggarakan PPG. Jadi sebelum menyelenggarakan PPG, benahi dulu LPTK nya agar bisa menyediakan calon guru yang bisa melahirkan inovator,” ujar Indra. 

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi LPTK Negeri Indonesia, menyangkal keras. Dia mengatakan, LPTK yang tahun ini ditunjuk menyelenggarakan PPG Mandiri sudah diverifikasi Ditjen Belmawa dan memenuhi standara nasional. Verifikasi tersebut meliputi kualitas dosen, akreditasi program studi dan akreditasi lembaga.

Ganefri menjamin kualitas 12.225 guru yang disiapkan untuk menjadi guru melalui PPG di 63 LPTK. Selain ada pembenahan di internal LPTK, mutu calon guru juga terus dipantau hingga menjadi guru.

Misalnya, dengan regulasi yang ada sekarang, untuk menentukan kuota ada indikator tertentu. Mulai dari akreditasi institusi hingga akreditasi program studinya. Akreditasi lembaga dan program studinya minimal B,” katanya. 

Ditambahkannya, LPTK secara jumlah memang sudah terlalu banyak, artinya tidak sesuai antara suplai dan demand. oleh sebab itu, PPG ini benteng terakhir untuk mengawal bagaimana melahirkan kualitas guru yang profesional.

Persoalannya, siapa saja yang bisa menyelenggarakan PPG? ada regulasi yang disusun. Dari 392 LPTK, memang masih terjadi disparitas mutu.

"Makanya ada standardisasi, tidak mungkin semua LPTK bisa menyelenggarakan PPG. Standar itu dibuat oleh Belmawa,” ujar Ganefri. (dianw/B).