Menolong Dunia Lewat Islam Rahmatan Lil’alamin

Kodisi dunia yang sangat dinamis serta posisi dan tantangan yang dihadapi umat Islam yang semakin berat mendapat perhatian dari ulama dan cendekiwan Muslim Asia Tenggara dalam Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Cendekiwan Muslim

Menolong Dunia Lewat Islam Rahmatan Lil’alamin
Prof. Syahrin. Waspada/Ist

yang diinisiasi oleh Yayasan Dakwah Islamiyah (YADIM) dan Majelis Agama Islam (MIWP) Malaysia, yang berlangsung di Movenvick Hotel Putra Jaya Kuala Lumpur pada 18-20, dengan sokongan penuh dari pemerintah Malaysia.

Pertemuan yang dihadiri sekitar 500 orang ulama dan Cendekiwan Muslim Asia Tenggara itu dilaksanakan dengan cita-cita besar atas kerja sama ulama dan umara di negeri yang memiliki langkah yang meyakinkan untuk maju itu menjadi sangat menarik karena dihadiri secara resmi oleh Perdana Menteri, Mahathir Mohamad, Wakil Perdama Menteri Datuk Dr. Anwar Ibrahim, dan Menteri Agama Dr. Mujahid Yusuf Rawa.

Umat Islam Malaysia dan tokohnya merasa disokong dan diberi spirit oleh pemimpinnya. Sebab, setelah dibuka Menteri Agama, secara bergantian Wakil Perdana Menteri dan Perdana Menteri datang memberi semangat bagi para penangung jawab kemajuan Islam di negeri yang berhasrat untuk berperan lebih penting  dalam memajukan umat di kawasan ini.

Saya merasa mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara dalam pertemuan itu mewakili Indonesia, sembari perasaan saya silih berganti antara senang dan penuh harap.

Senang karena telah muncul semangat bersama ulama dan cendekiwan Muslim Asia Tenggara untuk menghadapi tantangan dan peluang masa depannya. Penuh harap karena di benak saya terbersit, sekiranya Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di kawasan ini, mengambil inisiatif, tentu geliatnya akan semakin signifikan. Tapi akankah itu terjadi?

Pertanyaan itu muncul karena di saat umat penuh tantangan, negeri kita masih sibuk dengan gonjang ganjing politik yang menyebabkannya abai terhadap tantangan berat yang kini sedang dihadapi dalam kehidupan beragama dan pengembangan peradaban.

Pertemuan itu mengangkat tema utama Islam rahmatan lil’alamîn dan kerap menyinggung tentang radikalisme yang menjadi momok dalam kebangkitan Islam dunia tak terkecuali Asia Tenggara.

Menteri Agama Dr. Mujahid Yusuf Rawa dalam keynote speech-nya menyebutkan bahwa “penegakan kembali Islam rahmatan lil’ âlamîn menjadi sesuatu yang niscaya di Asia Tenggara karena kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan yang diharapkan tempat bertumbuhya Islam yang ramah, saat di kawasan lain, termasuk di Timur Tengah dan negara-negara Arab umat Islam sedang mengalami problema yang sangat akut dalam radikalisme dan percekcokan yang tak berkesudahan”.

Wakil Perdana Menteri Dr. Anwar Ibrahim melengkapi statement Menteri Agama tersebut dengan mengatakan bahwa “penegakan Islam rahmatan lil’alamîn di kawasan ini merupakan langkah strategis karena kawasan ini merupakan kawasan yang relatif aman dan damai, sementara kawasan lain sudah porak poranda.”

Perdana Menteri Mahathir Muhammad saat menutup pertemuan itu “mengingatkan umat Islam dunia untuk mereview sejarah masa lalunya di pentas dunia, saat kemajuan dan prestasi mereka mempengaruhi dan dikagumi dunia di abad keemasan.

Daya Tarik Islam dan umatnya ketika itu adalah dipentaskannya Islam rahmatan lil’âlamîn dalam kehidupan. Selanjutnya ia mendorong tokoh-tokoh Islam di kawasan ini untuk mendorong umat untuk meraih kembali prestasi itu.”

Berangkat dari berbagai statement pemimpin negeri itu dan dialog yang berkembang dalam Multaqa, disepakati bahwa penegakan Islam rahmatan lil’âlamin menjadi keniscayaan sebagai ‘pertolongan’ kepada dunia Islam dan dunia yang sedang menghadapi berbagai masalah kemanusiaan.

Dalam menganalisis pentingnya penegakan Islam rahmatan lil’âlamîn di Asia Tenggara, saya menyampaikan bahwa Islam rahmatan lil’âlamîn harus dilihat dari dua dimensi. Pertama, posisi rahmat dan pengembannya.

Rahmat itu adalah sifat Allah yang diturunkan kepada Rasulullah dan kemudian kepada manusia. Dalam penegakannya Allah dan Rasul-Nya berada pada posisi yang kuat; sebagai Pencipta dan pemimpimpin umat, sehingga dapat menebar rahmat dan kasih sayangnya. Dengan demikian, jika umat Islam ingin menebar rahmat, maka mereka harus kuat dalam berbagai sektor kehidupan.

Kedua, dilihat dari cakupan rahmat itu. Rahmat (kasih sayang) Allah dan Rasul-Nya mencakup dan menyentuh seluruh alam tanpa melihat latar belakang dan kondisinya.

Dengan demikian, jika umat Islam ingin menebar rahmat, maka cakupan kebaikana dan kasih sayang mereka haruslah  menyentuh seluruh umat manusia dan alam semesta, latar belakang ras, agama, dan etnisnya, sehingga kehadiran Islam dan umatnya membawa manfaat dan maslahat bagi semuanya.

Dr. Mujahid menambahkan bahwa “bukan agama sebenarnya kalua kehadirannya mencelakakan orang lanin dan makhluk Allah di sekitarnya”.

Gagasan dan kenginan penegakan Islam rahmatan lil’âlamîn di Malaysia dipimpin langsung oleh Menteri Agama, sehingga di negeri itu telah tumbuh NGO-NGO yang berupaya menegakkan Islam rahmatan lil’âlamîn.

Bahkan Perdana Menteri telah mencanangkan bahwa tahun 2020 negeri itu akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Multaqa Ulama dan Cendekiwan Dunia tentang Islam rahmatan li’âlamîn.

Semoga Indonesia mengambil peran yang penting dalam semangat penegakan Islam rahmatan lil’âlamîn untuk menolong dunia. Wa Allâhu A’lamu bi al-Sahwâb *** Prof. Syahrin dari Kuala Lumpur ***