WUA UIN Sumut Merintis Tradisi Baru

WUA UIN Sumut Merintis Tradisi Baru

  • Bagikan
WAKIL Rektor I UIN Sumut, Prof Dr. Hasan Asari, MA. Waspada/Ist
WAKIL Rektor I UIN Sumut, Prof Dr. Hasan Asari, MA. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Ada hal baru dalam Dies Natalis ke-48 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut), pada 19 Nopember 2021, yaitu penganugerahan Wahdatul Ulum Award (WUA).

Demikian dikemukakan Wakil Rektor I UIN Sumut, Prof Dr. Hasan Asari, MA, (foto),Senin (22/11). Ia mengatakan, jika mengacu kepada pidato rektor, penganugerahan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

“Kali ini, sebagai langkah rintisan, tiga award diberikan. Pertama,anugerah di bidang ilmu Falak, yang jatuh kepada almarhum TM. Ali Muda. Beliau berdedikasi sangat tinggi di bidang ilmu Falak dan aplikasinya dalam kehidupan keagamaan Islam,” katanya.

Kedua, sambungnya, anugerah di bidang teknik belajar membaca Alquran, diberikan kepada Muhammad Roihan Nasution. Metode Al-Hira yang dikembangkannya terbukti sangat memudahkan orang menguasai teknik membaca Alquran. Dari tak pandai menjadi pandai hanya dalam bilangan 24 jam.

Ketiga, katanya, anugerah di bidang sains, yang jatuh kepada sekelompok ‘ilmuan muda’ mahasiswa UIN Sumut Yurid Audina, M. Hadi Riva’i, Nadya Nurcahyani, Alfauzan R. Simangunsong.

Mereka mempersembahkan penemuan permen diabetes. Tim Pakar dan Asesor memandang mereka adalah best-of the best dan paling pantas. Substansi dari temuan-temuan tersebut, biarlah dijelaskan oleh para pakar di bidang masing-masing. Di luar substansi akademik, inisiatif WUA ini wajib diapresiasi karena beberapa alasan.

Pertama, penganugerahan semacam ini memang orisinil dalam sejarah UIN Sumut. Peringatan ulang tahun sudah dilakukan semenjak awal berdirinya UIN Sumut tahun 1973. Aneka ragam kegiatan menyertainya: lomba seni, kompetisi olah raga, pameran buku, pameran kreatif mahasiswa, pasar syariah, lomba tulis ilmiah, kunjungan ke panti, santunan keluarga UIN Sumut dan seterusnya.

Capaian Eksepsional Akademik

Orisinalitas WUA adalah spesifik mengacu pada capaian eksepsional akademik, kemudian bersifat berkelanjutan dan akan diadakah setiap tahun. Poin kedua ini tentu saja masih harus direalisasikan.
Kedua, WUA akan menjadi alat pemetaan perkembangan kampus, melalui upaya pemberian award termasuk kepada mereka yang sudah tiada sebagaimana yang terjadi pada penganugerahan perdana ini.

T.M. Ali Muda pastilah lekat dalam kenangan para dosen UIN Sumut yang sudah mengabdi di atas 20 tahun, karena kakhasan kepribadian dan kemampuannya. Tetapi tampaknya ia tidak atau kurang dikenal oleh generasi yang lebih muda.

WUA 2021 telah mengangkat dan memperkenalkannya kembali. Jika di tahun-tahun mendatang hal yang sama dilakukan terhadap individu-induvidu penting lainnya, maka award ini akan merajut sejarah UIN Sumut dan memfasilitasi generasi kontemporer untuk mengetahui masa awal kampusnya.

Sejarawan besar, Taufik Abdullah, berpendapat bahwa sejarah yang paling akrab dan manusiawi hanya akan diperoleh melalui pelajaran mengenai tokoh-tokoh.

Ketiga, para ahli sepakat belaka bahwa penghargaan dalam bentuk apapunadalah media pendidikan yang sangat ampuh.

WUA amat berpotensi memicu semangat meneliti dan inovasi di kalangan sivitas akademika UIN SU Medan.

Jika pada tahun ini tiga bidang mendapatkannya, tahun-tahun mendatang akan menyaksikan munculnya temuan-temuan dari bidang-bidang lainnya. Dengan lebih dari enam puluh program studi, UIN SU Medan tidak akan kekurangan genius untuk diberi award.

Katanya, orang bijak suka berkata, perjalanan jauh dimulai dari sebuah langkah kecil. WUA sudah diinisiasi menjelang usia emas kampus UIN Sumut.
“Persoalan selanjutnya adalah bagaimana memastikannya dilanjutkan dan direncanakan lebih teratur. Jika award-nya lebih rewarding tentu itu menjadi mimpi semua. Selamat Ulang Tahun UIN Sumut-UIN Kita.” Kata Prof Hasan Asari. (m19)

  • Bagikan