Virus Corona Bermutasi Untuk Mempertahankan Hidup

Virus Corona Bermutasi Untuk Mempertahankan Hidup

  • Bagikan
COVID-19.Virus termasuk bakteri atau makhluk mikrobiologi lainnya akan terus berupaya survive supaya dapat terus mempertahankan kehidupannya. Ilustrasi
COVID-19.Virus termasuk bakteri atau makhluk mikrobiologi lainnya akan terus berupaya survive supaya dapat terus mempertahankan kehidupannya. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Selayaknya makhluk hidup serupa manusia, virus termasuk bakteri atau makhluk mikrobiologi lainnya akan terus berupaya survive supaya dapat terus mempertahankan kehidupannya.

Karenanya, anggota Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sumut dr Restuti Hidayani Saragih SpPD, K-PTI, FINASIM, MH (Kes) menyampaikan, dalam dunia kedokteran mutasi virus merupakan hal yang biasa dan akan terjadi.

“Jadi mutasi ini bukan hal yang luar biasa dalam fenomena ilmiah kedokteran. Begitu juga terkait mutasi yang terjadi pada virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 dari awal di Wuhan, itu sudah banyak sekali, ratusan kali bahkan,” ungkapnya Jumat (19/3).

Dikatakan, pada hakikatnya virus memang mempunyai kemampuan dalam bermutasi. Misalnya saja dalam hal perubah anatomi, sifat dan lain sebagainya.

“Mutasi ini kenapa, karena merupakan sifat yang diberikan Tuhan kepadanya untuk mempertahankan hidupnya,” jelasnya.

Di negara-negara yang sistem pengurutan gennya (WGS) baik, dapat dilihat ada perubahan rantai genetik pada virus corona.

Menurutnya, hal ini baru akan menjadi dampak, ketika perubahannya itu ternyata membuat virus menjadi punya kekuatan lebih, lebih cepat menyebar, menyebabkan sakit lebih berat, dan membuat orang yang terinfeksi lebih gampang meninggal.

“Misalnya B117 asal Inggris, varian Afrika Selatan, varian Brazil P1 dan lain sebagainya,” ujarnya.

Musim Gugur

Restuti mencontohkan, virus corona B117 awal kemunculannya diumumkan di dunia pada saat musim gugur 2020 di Inggris. Lalu, sekitar dua bulan setelahnya, penelitian mengungkapkan jika mutasi ini 70 persen lebih gampang menyebar.

“Artinya kalau sudah dideteksi satu kasus, maka kecepatannya menyebar akan jauh lebih besar. Sehingga, bila tidak ditangani dengan baik 3T (tracing, testing dan treatment) longgar. Kemudian masyarakat eforia, terlebih bila sesat pemahamannya, karena sudah divaksin bisa sesuka hati, ya jadi,” terangnya.

Restuti melanjutkan, dalam penelitian B117 yang dipublish 10 Maret lalu, kembali diketahui jika ternyata virusnya tidak hanya menyebar lebih cepat.

Namun juga lebih besar dalam menyebabkan kematian apabila terinfeksi dibandingkan dengan varian virus corona lain.

“Untuk itu, masyarakat harus bisa mengetahui apa itu mutasi, mutasi apa saja, apa dampaknya dan bagaimana kita mengantisipasinya, supaya tidak terjadi perburukan dalam mengantisipasi pandemi Covid-19,” tandasnya. (cbud)

 

  • Bagikan