UNPAB Dan Harian Waspada Gelar Webincang Series

  • Bagikan
DEKAN Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Medan Dr Fuji Rahmadi P, SHI, MA, CIQaR, CIQnR (empat dari kiri) foto bersama para narasumber dan dosen usai acara Webincang Series, Kamis (27/1). Waspada/Rama Andriawan
DEKAN Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Medan Dr Fuji Rahmadi P, SHI, MA, CIQaR, CIQnR (empat dari kiri) foto bersama para narasumber dan dosen usai acara Webincang Series, Kamis (27/1). Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Fakultas Agama Islam dan Humaniora Universitas Pembangunan Pancabudi (UNPAB) Medan bekerjasama dengan Harian Waspada, menggelar Webincang Series dengan tema Optimalisasi Peran Media Massa Dalam Pendidikan dan Humaniora, bertempat di Gedung Perpustakaan UNPAB, Kamis (27/1).

Webincang Series menghadirkan tiga narasumber yakni Dr H Dedi Sahputra MA dari Harian Waspada, kemudian Ir H Mukhlis Malik M Sos dari Prodi Ilmu Filsafat UNPAB dan Juli Susanti SPd dari Prodi Ilmu Pendidikan Islam Anak Usia Dini, dengan Moderator Suryo Adi Sahfutra SThI MHum.

Juli Susanti SPd, dalam materinya Membumikan Dongeng Lewat Media Massa menyampaikan, di tengah era digital saat ini dongeng sempat kehilangan eksistensinya, hingga masyarakat menyadari nilai-nilai budaya
yang sedikit demi sedikit tergerus arus globalisasi.

“Di situlah bermunculan upaya-upaya pengembalian nilai-nilai moral bangsa. Dongeng menawarkan banyak manfaat dalam hal ini, mulai dari hiburan, strategi pembelajaran, pendidikan karakter, dan masih banyak lagi yang dongeng sumbangsih kan untuk mengembalikan budaya bangsa,” ujarnya.

Sejalan dengan globalisasi, kata dia, para pendongeng mulai akur dengan media massa dan mencoba membumikan dongeng melalui media massa.

“Sebagai generasi milenial, sudah pasti kita sangat akrab dengan ragam media massa. Mulai dari media cetak, media audio dan visual, media internet dan lain-lain. Berbagai media massa tersebut seyogianya bermanfaat dalam kehidupan,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan media massa kita dapat mempercepat penyebaran berbagai informasi kepada masyarakat luas. “Untuk itu, membumikan dongeng melalui media massa adalah langkah yang tepat untuk mengangkat kembali dunia perdongengan di era digital ini,” pungkasnya.

Ir H Mukhlis Malik M Sos, lewat materinya Peran Media Massa Dalam Pengembangan Filsafat dan Tasawuf menyampaikan, sejatinya mahasiswa filsafat memang harus banyak membaca untuk menguatkan argumentasi dalam setiap opininya.

“Namun bukan berarti bahwa mahasiswa filsafat adalah orang-orang yang mengucilkan diri untuk terus tenggelam dalam pertanyaan- pertanyaan eksistensial mengenai dirinya. Bahkan, mahasiswa filsafat dikenal sebagai mahasiswa yang sangat mudah bergaul dengan mahasiswa lintas bidang karena memang filsafat menuntut mereka untuk membuka diri,” katanya.

Dikatakannya, meskipun ilmu filsafat dianggap tidak punya manfaat yang bisa dirasakan secara empiris. Namun di kalangan para akademisi, filsafat dikenal sebagai induk dari segala ilmu.

Dr H Dedi Sahputra MA mengatakan, berbicara tentang media, maka akan ada dua turunannya, yakni media massa dan media sosial, yang keduanya berfungsi untuk mendistribusikan informasi.

“Informasi itu didiskusikan melalui kedua medianya tetapi pola, konsekuensi, kemudian efeknya itu berbeda, antara media massa dan media sosial,” ucapnya.

Selain itu, media massa juga memiliki apa yang dinamakan Flow of Copy atau seleksi dalam proses penyajian berita. “Melalui proses ini ada beberapa konsekuensi yang terjadi, pertama berita tersaring, dan memiliki apa yang disebut news value atau nilai berita. News value inilah yang jadi inti berita yang disiapkan oleh media massa,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan, soal dampak berita di media massa dan media sosial. Berita-berita di media massa, informasinya sudah hampir pasti kebenarannya. Sementara di media sosial, masih ada keraguan saat informasi tersebut dilihat oleh khalayak.

Ia menyebut, media massa adalah alat konfirmasi bagi media sosial, ketika kebenaran media sosial masih diragukan.

“Di media sosial tidak ada flow of copy. Kita hari ini punya informasi, detik itu juga langsung terupload. Di media sosial, kita wartawannya, kita redakturnya, kita pemimpin redaksinya, dan pemilik perusahannya. Ketika kita punya akun media sosial, informasi kita bisa sebar detik itu juga. Artinya tidak ada check and balance, tidak ada keseimbangan berita. Kebenaran media sosial masih sangat relatif,” tandasnya.

Sebelumnya Dekan Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Medan Dr Fuji Rahmadi P, SHI, MA, CIQaR, CIQnR dalam sambutannya mengatakan, saat ini dunia semakin maju dan dipenuhi level digitalisasi pengetahuan.

“Maka kita dituntut untuk masuk pada wilayah itu, salah satu media yang kita terima dalam menyambung informasi baik itu bersifaf berita, baik ilmu pengetahuan dan wawasan itu adalah media massa,” sebutnya.

Karena itu, kata dia, Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Medan merajut kerjasama dengan media massa. “Apalagi denga harian Waspada, kalau di Sumut ini hampir semua masyarakat, baik yang di kota maupun yang di pelosok kampung akan mengenang harian nasional Waspada. Kita tahu Waspada ini sudah memberi kontribusi lebih kurang 75 tahun,” ujarnya.

Kerjasama ini, sebagai upaya untuk meningkatkan peran media massa dalam pendidikan masyarakat. “Harapannya tidak banyak, pertama kita minta bantuan Harian Waspada agar bisa membina atau mengajari dosen dan mahasiswa terkait dengan jurus tulis menulis di media massa,” pungkasnya.

Dalam kegiatan itu turut hadir Ketua Prodi Ilmu Filsafat Dr Ir Syarifuddin MH, Sekretaris Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB Mhd Habibu Rahman, SPd MPd para dosen dan Mahasiswa di Fakultas Agama Islam dan Humaniora UNPAB. (m32).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.