Waspada
Waspada » UNICEF Prediksi 2 Juta Anak Indonesia Jatuh Miskin
Medan

UNICEF Prediksi 2 Juta Anak Indonesia Jatuh Miskin

PERLINDUNGAN ANAK. UNICEF prediksi 2 juta anak Indonesia jatuh miskin. Ilustrasi
PERLINDUNGAN ANAK. UNICEF prediksi 2 juta anak Indonesia jatuh miskin. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Diramal Lembaga PBB yang mengurusi masalah kesejahteraan anak Unicef  yang memperkirakan lebih dari dua 2 juta anak Indonesia jatuh ke jurang kemiskinan akibat pandemi corona, pemerintah diminta segera ambil sikap.

Direktur Eksekutif Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumut, Keumala Dewi dan Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK-PUSPA) Kota Medan, M, Jailani MA menyampaikan pendapatnya akan hal ini, Jumat(5/3).
Menurut, Direktur Eksekutif Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumut, Keumala Dewi, banyak faktor pendukung terjadinya kemiskinan itu.
Salah satunya biaya hidup yang makin mahal, tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan untuk orang tua dan orang muda yang tersedia, sehingga pengangguran akan memperburuk keadaan keluarga.
Di sisi lain, kata dia, ketidak cakapan dalam mengelola pemasukan, juga berkontribusi, misalnya ketika ada uang, apakah orang tua terbiasa dengan tabungan pendidikan anak?
Atau memahami pola makan sehat. Kemampuan memilah management keuangan rumah tangga juga bisa membantu keluarga untuk tangguh menghadapi situasi sulit dan ini minim pendampingan dari pemerintah, termasuk kekurangan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya dan potensi di sekitar, kekurangpekaan ini akan berkontribusi pada kemiskinan, padahal terlepas dari tidak adanya uang, sumber daya disekitar bisa berkontribusi banyak pada ketangguhan masyarakat.
“Dan ini pada akhirnya akan menentukan kesejahteraan anak,” katanya.
Saat disinggung, bagaimana peran pemerintah dalam hal ini,Keumala menjawab harus lebih konkrit dalam mendesign program pemberdayaan keluarga dan masyarakat yang berorientasi pada ketangguhan dalam menghadapi bencana, krisis dan ketidak pastian ekonomi.
“Kita belajar dari beberapa situasi bencana, masyarakat terdampak langsung terputus akses dari kebutuhan dasar, yang jika pemerintah memiliki program pemberdayaan, maka ini bisa diatasi dan tidak terlalu tergantung pada program bantuan. Sedangkan bantuan yang diberikan tidak lah cukup, paling hanya untuk keperluan 1 bulan saja, sementara berkaca pada situasi ini, akan masih panjang yang kita jalani,” katanya.

JPS Tidak Terdisain

Sebelumnya,Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK-PUSPA) Kota Medan, M Jailani MA berpendapat, kemiskinan ini menunjukkan bahwa economic dan family resilience kita sangat lemah.
Selain itu jaringan pengaman sosial kita juga tidak terdisain dengan baik karena imbas atau impact terbesar tentu ke anak, karena merupakan kelompok yang paling rentan.
“Kalau terkait pendataan , memang sistem data yang terpusat di BPS tidak bisa jadi patokan karena updatingnya sangat panjang periode dan household basis. Jadi kelompok rentan tidak tercover. Kemudian, identifikasi kelompok rentan tidak terverifikasi pada level grass root karena mengandalkan kepala lingkungan,” katanya.(m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2