Waspada
Waspada » Tim Pengabdian USU Bina Desa Lubuk Kertang Brandan Barat Langkat
Medan

Tim Pengabdian USU Bina Desa Lubuk Kertang Brandan Barat Langkat

PELATIHAN pemanfaatan limbah tanaman mangrove (kulit/kayu dan daun mangrove) sebagai pewarna alami dengan teknik ecoprint di Desa Lubuk Kertang.
PELATIHAN pemanfaatan limbah tanaman mangrove (kulit/kayu dan daun mangrove) sebagai pewarna alami dengan teknik ecoprint di Desa Lubuk Kertang.

MEDAN (Waspada): Tim Pengabdian USU yang diketuai oleh Prof Mohammad Basyuni, Wakil Ketua Dr Apri Heri Iswanto dan Sekretaris Dr Bejo Samet melaksanakan Bina Desa di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat.

Tim Pengabdian USU Bina Desa Lubuk Kertang Brandan Barat Langkat yang dilakukan selama dua hari, dengan fokus pemanfaatan limbah tanaman mangrove.

Ada  6 kegiatan dilaksanakan oleh tim dosen, salah satunya adalah pemanfaatan limbah tanaman mangrove sebagai pewarna alami dengan teknik ecoprint.

Ini dilakukan dengan Koordinator Tim Dr  Iwan Risnasari dan anggota yang terdiri atas Prof  Dr Erman Munir, M Sc,  Dr Deni Elfiati,  Arif Nuryawan, S Hut, M Si, PhD, dan Harisyah Manurung, S Hut, M.Si.

Kegiatan dilakukan selama dua hari yakni 11 dan 15 Agustus.

Kegiatannya berupa pelatihan terhadap ibu-ibu anggota kelompok wanita tani mandiri dan beberapa siswa Madrasah Tsanawiyah di Desa Lubuk Kertang.

Koordinator Tim Dr  Iwan Risnasari, Kamis(20/8) menyebutkan kegiatan difokuskan pada pemanfaatan limbah tanaman mangrove.

Ini dilakukan mengingat ekosistem mangrove yang cukup penting di Sumatera Utara terletak di  Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat dengan luasan kurang lebih 638.47 ha.

Ekosistem mangrove di Lubuk Kertang memiliki keunikan tersendiri, karena sempat mengalami kerusakan yang parah  pada periode 1999-2012.

Kemudian muncul kesadaran akan lingkungan pada masyarakat hingga akhirnya berhasil memulihkan hutan mangrove, bahkan hutan mangrove Lubuk Kertang menjadi ikon wisata Langkat.

Ditambahkannya, namun dengan kondisi pandemic COVID 19 selama beberapa bulan terakhir ini pemasukan dari wisata mangrove Lubuk Kertang menurun.

Untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil hutan mangrove yang dapat diusahakan dalam kondisi pandemic ini, maka dilakukanlah pelatihan pemanfaatan limbah tanaman mangrove sebagai pewarna alami pada berbagai media seperti kain, kulit, kertas dan keramik (mug).

Hampir semua bagian dari tanaman mangrove, yaitu daun, buah, batang dan akar dapat menghasilkan bahan pewarna alami.

Hal ini sangat relevan dengan isu lingkungan, karena data menunjukkan bahwa 17-20% pencemaran air yang disebabkan oleh industri berasal dari aktivitas pewarnaan dan finishing tekstil.

Salah satu teknik pewarnaan alami yang berkembang beberapa tahun ini adalah ecoprint (ecoprinting).

Dalam teknik tersebut tidak hanya menghasilkan warna, tetapi juga dapat terbentuk pola (jejak) pada media yang berasal dari daun atau bunga,”ungkapnya.

Proses Transfer

Dijelaskanya teknik ecoprint diartikan sebagai proses mentransfer warna dan bentuk/pola  ke kain melalui kontak langsung antara kain dan daun.

Transfer warna tersebut dimungkinkan karena daun memiliki pigmen warna yang akan keluar melalui proses pemanasan/pengukusan.

“Dalam perkembangannya teknik ecoprint kemudian dapat diaplikasikan juga pada media lain seperti kulit hewan, kertas dan kayu,”ujarnya.

Saat kegiatan berlangsung, Kepala Desa Lubuk Kertang, Zul Insan menyambut baik pelatihan ini.

Harapannya agar  produk Ecoprint bisa diintegrasikan dengan produk purun yang sudah lama dilakukan masyrakat Desa Lubuk Kertang.

Dengan adanya produk ecoprint maka variasi produk purun juga akan semakin banyak.  Desa Lubuk Kertang juga berharap agar masalah pemasaran produk produk yang dihasilkan juga bisa dibantu promosinya. (m22)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2