Waspada
Waspada » Tiga Terdakwa Kasus Pembunuhan Dituntut 2, 5 Tahun Penjara 
Medan

Tiga Terdakwa Kasus Pembunuhan Dituntut 2, 5 Tahun Penjara 

KORBAN penganiayaan tewas. Keluarga Berharap Keadilan setelah tiga terdakwa kasus pembunuhan dituntut 2, 5 tahun penjara.Waspada/Ist 
KORBAN penganiayaan tewas. Keluarga Berharap Keadilan setelah tiga terdakwa kasus pembunuhan dituntut 2, 5 tahun penjara.Waspada/Ist 

MEDAN (Waspada): Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negeri (PN) Medan menuntut 2,5 tahun penjara kepada tiga terdakwa kasus penganiayaan menewaskan Abadi Bangun. Keluarga korban menilai tuntutan itu tidak wajar dan seperti ada indikasi permaianan.

“Sidangnya seminggu lalu di PN Medan. Dalam sidang tuntutan dibacakan Jaksa, menuntut ketiga pelaku 2,5 tahun penjara. Apa tidak aneh, kasus pembunuhan dihukum sebegitu ringan,” ujar istri korban Eva Boru Sihombing warga Jalan Bahagia, Medan Baru, Minggu (11/10).

Ia mengatakan, dalam pemeriksaan di Polrestabes Medan, penyidik menjerat berbagai pasal kepada ketiga terdakwa, yaitu Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat 1 sub Pasal 170 ayat 2 ke 3 atau Pasal 351 ayat 3 KUHPidana.

Begitu juga ketika hakim membacakan surat dakwaan terhadap para terdakwa, mereka dijerat dengan pasal yang sama karena telah menghilangkan nyawa seseorang.

“Saya tanya kepada orang yang paham hukum, apa sudah adil dituntut 2,5 tahun penjara. Katanya tidak. Disitulah saya tahu bahwa itu tidak benar, karena pasal-pasal itu telah berkekuatan hukum penuh dan dapat menjerat para pelaku dengan hukuman seumur hidup,” sebutnya.

Setelah mendapat penjelasan itu, ia menyadari apa yang telah diterbitkan media tentang pembunuhan suaminya tidak seluruhnya benar.

Apalagi disebutkan korban dianiaya hingga tewas karena menyerang membawa parang akibat nasi goreng gratis.

“Saya pastikan itu tidak benar. Bagaimana suami saya melawan orang, dia jalan saja tidak bisa, karena stroke. Bagaimana dia bisa memegang parang, sedangkan dia stroke. Saya punya bukti video kalau suami saya stroke. Saya juga punya banyak saksi yang bisa membuktikan itu di persidangan,” ujarnya.

Namun, disebutkannya, ia tidak punya uang menyewa pengacara untuk mengawal kasus kematian suaminya. “Saya ini orang susah. Suami saya tidak meninggalkan warisan, saya tidak bekerja. Bagaimana saya bisa menyewa pengacara, sedangkan untuk makan saja susah,” ujarnya lagi.

Namun ia berharap Kepala PN Medan dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut melihat ketidakadilan itu. Sebab, tuntutan itu tidak wajar dan tidak berkeadilan.

Nasi Goreng

Peristiwa penganiayaan menewaskan Abadi Bangun dilakukan pemilik Cafe Delicious Mahyudi bersama dua karyawannya, Mursalin, 32, dan Agus Salim, 32, pada Januari 2020.

Saat itu disebutkan, korban meminta nasi goreng kepada tukang masak, namun karena tukang masak kelamaan memberi disebabkan meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik Cafe, korban emosi dan melemparkan nasi goreng yang sudah diterimanya kepada tukang masak.

Setelah itu ia pergi dan kembali lagi ke cafe membawa parang, hendak menyerang tukang masak.

Saat itulah terjadi pengeroyokan dan penganiayaan terhadap korban hingga kemudian tewas. Hal inilah yang menurut istri korban tidak benar. (m10)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2