TGB: Tuduhan Penistaan Agama 4 Nakes Siantar Bukan Fatwa MUI

  • Bagikan
ULAMA kharismatik Sumatera Utara (Sumut), Tuan Guru Batak (TGB), Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk MA. TGB harapkan penistaan terhadap tenaga kesehatan (nakes) tidak terulang lagi. Waspada/Ist
ULAMA kharismatik Sumatera Utara (Sumut), Tuan Guru Batak (TGB), Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk MA. TGB harapkan penistaan terhadap tenaga kesehatan (nakes) tidak terulang lagi. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Ulama kharismatik Sumatera Utara (Sumut), Tuan Guru Batak (TGB), Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk MA, menegaskan sangat tidak tepat, keliru dan berlebihan jika kasus yang menimpa tenaga kesehatan (nakes) di RSUD Djasamen Saragih yang dituduh menista agama Islam, tuduhannya berasal dari MUI Siantar.

“Tidak benar jika tuduhan 4 nakes RSUD Siantar yang saat ini terjerat pasal Penistaan Agama, tuduhannya berasal dari MUI Siantar. Tidak ada sama sekali itu. Kita juga heran masalah penistaan agama tersebut terkesan sengaja dibuat-buat oleh oknum tidak bertanggungjawab,” kata TGB, Rabu (24/2) saat dihubungi dan dimintai tanggapannya terkait berkembangnya pemberitaan tentang pasal penistaan agama yang menimpa 4 nakes di Siantar.

Siaran pers yang diterima Waspada, Rabu (24/2) menyebutkan, TGB menyebut, dirinya sudah ngobrol panjang dengan Ketua MUI Siantar KH M Ali Lubis dan Sekretaris MUI Siantar H Ahmad Ridwansyah.
Bahwa mereka tidak pernah menyebut ‘penistaan agama’. Jadi ini datang dari sekelompok elemen bukan dari MUI.

Bahkan, MUI sudah menggelar rapat terkait ini, sudah memanggil suami korban dan pihak RSUD serta sejumlah elemen, sepakat di sini ada kekeliruan dan pelanggaran syariat Islam dalam pelaksanaan fardhu kifayah, pihak RSUD sudah meminta maaf serta sudah saling memaafkan.

Jadi untuk kasus hukum, MUI tidak lagi terlibat. Karena untuk persoalan hukum, itu urusan keluarga almarhumah yang membuat pengaduan ke pihak kepolisian.

“Itu yang sebenarnya, dan silahkan dikonfirmasi ke MUI Siantar, itulah penjelasan mereka,” ungkap TGB yang juga selaku Tuan Guru Serambi Babussalam Simalungun.

Dukungan

TGB memberikan pembelaan dan dukungan terhadap 4 tenaga kesehatan (nakes) forensik di Pematangsiantar yang ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama, karena memandikan jenazah wanita suspek Covid-19.

Menurut TGB, peristiwa itu bukan faktor kesengajaan sehingga bisa dimaklumi, karena nakes tersebut dalam keadaan darurat.

Kata dia, ada kekeliruan dan pelanggaran syariat Islam dalam fiqh jenazah. Namun, situasi memaksa mereka melakukan itu, sehingga mereka atas keterbatasan dan ketidaktahuannya melakukan itu.

“Tapi inikan darurat. Ini juga soal fiqh. Pihak RSUD juga sudah memberikan waktu kepada suami korban untuk memandikan jenazah atau mencari orang lain untuk memandikan jenazah istrinya,” katanya.

Tetapi, lanjut TGB, karena waktu yang terbatas dan suami almarhumah juga sudah menandatangani persetujuan dimandikan pihak rumah sakit, namun karena ini suasana covid, kategori darurat, memang ada kekeliruan karena faktor ketidak-tahuan dan keterbatasan, sehingga tentu sangat berlebihan jika ini dituding sebagai penistaan agama.

Oleh karena itu, Dosen program doktor UINSU tersebut menegaskan, sebagai warga dan tokoh agama dari Siantar Simalungun, ia sangat menyesalkan adanya sekelompok elemen yang ‘ngotot’ menjadikan ini sebagai kasus penistaan agama.

Menurutnya, sebelumnya juga pihak RSUD sudah meminta maaf, oknum Nakes sudah diberi sanksi, bahkan Direktur RUSD juga sudah dicopot, lantas maslahat apa yang mau dikejar lagi di situ.

Dukung Petisi

Saat bersamaan juga, TGB mendukung adanya petisi ‘Jangan Kriminalisasi Nakes.’ Dikutip dari laman Change.org pada Selasa (23/2) sekitar pukul 14.45, setidaknya lebih dari 6.229 orang sudah menandatangani petisi berjudul ‘Jangan Kriminalisasi Nakes!’ tersebut.

Latar belakang kasus itu bermula saat empat Nakes di RSUD Djasamen Saragih menangani jenazah pasien suspek Covid-19 berinisial Z.

Sebelumnya, pasien perempuan berusia 50 tahun tersebut dinyatakan meninggal pada 20 September 2020.
Seperti layaknya pasien Covid-19 yang meninggal, jenazah harus diurus dengan protokol kesehatan. RSUD Djasamen Saragih hanya memiliki empat nakes bagian forensik, di mana mereka semua berjenis kelamin laki-laki.

Mulanya suami korban, Fauzi menolak ketika jenazah istrinya akan dimandikan keempat Nakes lelaki tersebut.

Akhirnya pihak Nakes meminta Fauzi untuk mencari orang lain. Karena tidak berhasil mendapatkan orang lain untuk memandikan jenazah istrinya, Fauzi menandatangani surat persetujuan untuk memberi izin jenazah istrinya dimandikan nakes.

Namun belakangan, suami dari pasien membuat laporan ke kepolisian atas tuduhan penistaan agama. Padahal sejak awal sang suami telah menyetujui proses tersebut.

Tuduhan penistaan agama tersebut diduga muncul lantaran fatwa pengurus MUI Pematang Siantar. Saat ini, kasus yang menjerat empat petugas medis itu pun telah masuk ke dalam proses persidangan.

Di sisi lain, TGB meminta semua pihak agar sama-sama menjaga kondusifitas, menjaga kerukunan, mengambil iktibar dan hikmah dari semua peristiwa ini agar ke depan tidak terulang lagi.

“Kita harus juga memikirkan ketenangan almarhumah, kemaslahatan umat dan bangsa. Jangan saling menyalahkan atas keangkuhan pribadi, agama Islam adalah agama penolong dan damai,” kata ulama kharismatik Sumut yang juga pengasuh Rumah Sufi dan Peradaban ini. (cpb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.