Tersangka Daur Ulang Rapid Test Dijerat UU Money Laundering

  • Bagikan
MONEY Laundering. Tersangka daur ulang rapid test dijerat dengan UU Money Laundering. Ilustrasi
MONEY Laundering. Tersangka daur ulang rapid test dijerat dengan UU Money Laundering. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Polda Sumut masih mengintensifkan pemeriksaan lima tersangka kasus dugaan daur ulang stik rapid test swab antigen terhadap calon penumpang di Bandara Kualanamu Internasional (KNIA).

Kelima tersangka, yakni Bisnis Manager Laboratorium Kimia Farma berinisial PM dan admin berinisial SR, DJ, M serta R. Mereka dipersangkakan melanggar UU Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen. Terhadap tersangka PM dan M, ditambah dengan UU Money Laundering.

“Undang-Undang Kesehatan ancaman hukumannya penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar, sedangkan UU Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan denda Rp2 miliar,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol. Hadi Wahyudi, Selasa (18/5).

Khusus kepada tersangka PM dan M, sebutnya, ditambah Pasal UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atau Money Laundering, karena ditemukan dugaan itu. “Ini masih didalami,” sebutnya.

Dugaan tersebut, karena adanya informasi PM membangun rumah mewah di Sumatera Selatan.

Kapolda Sumut Irjen Pol. RZ Panca Putra Simanjuntak pada konferensi pers, Kamis (29/4) mengatakan, praktek daur ulang stik rapid test swab antigen kepada calon penumpang di Bandara KNIA berjalan sejak 17 Desember 2020. Setiap harinya, calon penumpang yang mendapat rapid test antara 150-200 orang.

“Namun yang dilaporkan ke bandara dan Kantor Laboratorium Kimia Farma Jalan Kartini, Medan hanya sekira 100 orang. Sisanya merupakan keuntungan didapat PM, rata-rata sekira Rp30 juta digunakan untuk PM dan lembur karyawan laboratorium,” kata Kapolda.

Tersangka PM, 45, asal Lubuk Linggau Selatan II Kota Lubuk Linggau, Prov. Sumsel merupakan penanggungjawab laboratorium dan yang menyuruh melakukan penggunaan cutton buds swab antigen bekas. Dari praktek itu, pengakuan tersangka PM mendapat keuntungan sekira Rp1,8 miliar.

“Masih terus didalami apakah uang itu disetor ke kas atau tidak. Sedangkan barang bukti uang diamankan Rp149 juta,” katanya. (m10)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.