Tawuran Di Belawan Ternyata Sudah Ada Sejak 40 Tahun Silam

Tawuran Di Belawan Ternyata Sudah Ada Sejak 40 Tahun Silam

  • Bagikan
ALFIAN My Sekretaris Umum Permabem. Tawuran antarkelompok dan warga di Kecamatan Medan Belawan sudah ada sejak 40 tahun. Waspada/Ist
ALFIAN My Sekretaris Umum Permabem. Tawuran antarkelompok dan warga di Kecamatan Medan Belawan sudah ada sejak 40 tahun. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): SEOLAH-OLAH sudah menjadi tradisi, peristiwa tawuran antarkelompok warga atau kelompok pemuda di Kecamatan Medan Belawan memang bukan cerita baru. Tawuran itu merupakan masalah klasik yang terjadi sejak 40 tahun silam.

Meski sudah berkali-kali dilakukan perdamaian antar kelompok warga yang bertikai dengan melibatkan tokoh masyarakat, Muspika dan Polri namun tidak menyelesaikan masalah. Tawuran tetap terjadi dan seolah-olah sudah menjadi tradisi.

Begitu juga dengan tindakan tegas dari Polres Pelabuhan Belawan yang sudah menangkap para pelaku tawuran namun tidak membuat tawuran berhenti, bahkan tawuran tersebut semakin anarkis.

Sekretaris Umum Persaudaraan Masyarakat Belawan Maju ( PERMABEM ) Alfian My, 51 (foto), menyebutkan, tawuran antar antarpemuda yang terjadi di Belawan bukanlah peristiwa baru bahkan sudah terjadi sejak 40 tahun yang silam. Sudah berapa orang yang meninggal dunia akibat luka bacok dan tikaman namun tidak membuat efek jera bagi masyarakat.

“Tawuran itu sudah terjadi sejak 40 tahun silam namun hingga sekarang tidak ada penyelesaiannya meskipun sejak tawuran dulu sudah menimbulkan korban jiwa. Sudah beberapa orang korban meninggal dunia akibat tawuran itu,” cerita Alfian, warga Belawan Lama Kel. Belawan I Kec Medan Belawan, kepada Waspada, Minggu (25/7).

Alfian mengisahkan, konon, awalnya yang sering tawuran adalah kelompok pemuda warga Gudang Arang dengan Belawan Lama.

“Biasanya pemicunya hanya masalah sepele yang tidak jelas dan berkembang hingga terjadinya tawuran,” sebut Alfian yang juga pengurus organisasi nelayan ini.

Menurut Alfian, seringnya terjadi tawuran antar kelompok warga Gudang Arang dan Belawan Lama ini sepertinya menjadi cikal bakal terjadinya tawuran lainnya di sejumlah lokasi di pesisir Medan Utara hingga sekarang ini.

Tawuran bisa terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu. Bisa saja terjadi di bulan suci Ramadhan bahkan di Hari Raya Idul Adha pun tawuran terjadi.

Akibatnya para pengguna jalan raya di Jl. KL Yos Sudarso dan akses jalan umum lainnya jadi terganggu termasuk aktivitas masyarakat lainnya.

Alfian menilai, mudahnya warga terprovokasi untuk melakukan tawuran karena sumber daya manusia (SDM) nya sangat rendah, belum lagi peranan orangtua yang seharusnya peduli dengan anak-anaknya malah membiarkan anaknya ikut tawuran bahkan menjadi penonton tawuran tersebut.

“Kondisi seperti ini sangat miris. Seharusnya, orangtua melarang anak-anaknya untuk keluar pada sore atau malam hari sehingga tidak ikut tawuran,” ujar Alfian.
Selain itu, tambah Alfian, sebagian besar orangtua di pesisir Belawan itu berprofesi sebagai nelayan. Pergi

sore dan pulang Subuh atau beberapa hari kemudian sehingga tidak bisa mengontrol anak-anaknya pada malam hari.

Menurut pria berusia 52 tahun ini, tawuran yang terjadi itu bukan untuk merebut kekuasaan sempat bergejolak tapi sepertinya sengaja dilakukan untuk membuat keributan di jalan raya sehingga menganggu ketenangan masyarakat umum bahkan menimbulkan kerugian jiwa dan harta benda masyarakat lainnya menjadi korban.

Duduk Bersama

Untuk mencegah agar tawuran tidak terjadi lagi, Alfian berharap agar semua pihak, mulai dari Pemko Medan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama dan Polres Pelabuhan  Belawan duduk bersama untuk mencari solusinya sehingga tawuran bisa diredam.

Selain itu, tambah Alfian, peranan kepala lingkungan, Babhinkamtibmas, Babinsa dan orangtua serta patroli aparat Kepolisian sangat berperan besar untuk melakukan cegah dini.

“Patroli mobil Kepolisian, Babhinkamtibmas dan person Reskrim serta kepala lingkungan untuk membubarkan setiap orang yang berkumpul pada malam hari tanpa tujuan yang jelas sekaligus membubarkannya,” sebut Alfian seraya menambahkan tindakan tegas dari Polres Pelabuhan Belawan yang telah menangkap 6 provokator dan pelaku tawuran diharapkan bisa membuat efek jerah pagi warga masyarakat.
Alfian juga berharap agar patroli dari Polsek Belawan dan Polres Pelabuhan Belawan harus ditingkatkan.
Alfian juga menyebutkan, bila tawuran tidak bisa dicegah maka para investor enggan untuk membuka usahanya di kota pelabuhan ini.

“Semua orang tau, Belawan merupakan kota pelabuhan dan kawasan bisnis namun bila keamanan belum terjamin karena masih ada tawuran sehingga mengurungkan investor untuk menanamkan investasinya,” pungkas Alfian. (m27)

 

 

  • Bagikan