Waspada
Waspada » Tak Semua Pelajar Di Belawan Aktif Ikuti BDR
Medan

Tak Semua Pelajar Di Belawan Aktif Ikuti BDR

HASIL penelitian Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menyebutkan, tak semua pelajar di masa Covid-19 aktif ikuti belajar dari rumah (BDR). Iustrasi
HASIL penelitian Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menyebutkan, tak semua pelajar di masa Covid-19 aktif ikuti belajar dari rumah (BDR). Iustrasi

MEDAN (Waspada): Hasil penelitian Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menyebutkan, tak semua pelajar di Belawan semasa Covid-19 aktif ikuti belajar dari rumah (BDR).

Tak semua pelajar di Belawan aktif Ikuti BDR dengan alasan tidak memiliki sarana belajar, seperti handphone Android.

Penelitian GNI, yang merupakan salah satu aanggota Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK Puspa), Kota Medan, dilakukan dengan melibatkan 227 siswa sebagai responden.

Hasilnya: hanya 66,51% yang ikut BDR, sedangkan 33,49% tidak, lantaran tak punya HP Android.

Hal ini diijelaskan Anwar Situmorang selaku Program Manager GNI Medan dan Deli Serdang, Kamis (10/9).

Kata dia, responden adalah siswa di wilayah Kelurahan Belawan II dan Desa Bulucina, yakni siswa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas.

Lebih lanjut disebutkannya, meskipun anak memiliki sendiri HP Android dan kuota internet, ternyata tidak semua anak juga aktif belajar setiap hari.

Dari 125 siswa yang memiliki HP Android, hanya 29,60% yang setiap hari mengikuti pembelajaran, sedangkan sisanya 70,40% pernah absen beberapa kali.

“Penelitian ini juga menemukan bahwa guru masih sering memberikan tugas-tugas individu seperti menyelesaikan soal-soal hitungan dan meringkas buku.

Tugas-tugas seperti ini dianggap membosankan oleh siswa, dan tidak selalui diikuti dengan diskusi yang intens antara guru dan siswa.

Bahkan guru jarang sekali menghubungi siswa untuk bertanya tentang pemahaman siswa tentang materi pembelajaran, termasuk menanyakan kondisi psikologis siswa.

“Siswa yang bosan dengan model pembelaran seperti ini dan tidak terpantau oleh orang tua dan guru memilih untuk bermain atau bekerja yang diantaranya turun ke jalan,” kata Anwar.

Lanjut Anwar, hal ini berdampak pada, perkembangan anak. Pertama, hak anak untuk mendapatkan akses pendidikan yang baik menjadi kurang dipenuhi.

Bekerja

Kalau ini terjadi, dalam waktu panjang akan membuat anak putus sekolah, dan akhirnya akan menambah tingkat kemiskinan.

Kedua, situasi BDR yang tidak baik akan membuat anak tidak memiliki informasi yang kuat sebagai bekal untuk menjalani masa depannya kelak.

Memang, sambung dia, saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19 di mana pandemi ini memaksa anak harus menjalani BDR.

“Akan tetapi dengan situasi BDR yang kurang baik, seperti yang kami temukan, maka dampaknya akan menjadikan anak tidak belajar dan membuat mereka justru bekerja,” ungkapnya.

Maka, sambung dia, GNI memberikan solusi. Pertama, GNI mendorong Pemko Medan perlu melakukan pemetaan BDR ini lebih luas lagi, lembaga seperti GNI siap utk bekerjasama.

Kedua, guru perlu diperkuat dalam melakukan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak dalam masa BDR ini, sehingga anak tidak memobasankan mengikuti pelajaran.

Untuk hal ini, GNI juga bisa membantu untuk memberikan pelatihan Active Learning bagi guru dan kepala sekolah, yang nantinya melaui pelatihan ini juga guru akan dilatih untuk menerapkan modul pembelajaran masa BDR yang sudah didesain oleh pemerintah.

Untuk membantu sekolah menyambut pembelajaran tatap muka nantinya, GNI akan membantu sekolah menyiapkan sarana prasarana protokol kesehatan. Seperti membantu sekolah membuatkan tempat cuci tangan, memberikan masker kepada anak dan tenaga pendidik, sehingga sekolah nantinya sudah siap mengadakan tatap muka.

Solusi Saat Pandemi

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Adlan SPd,MM menyebutkan saat ini memang sedang diberlakukan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

PJJ moda daring dengan beragam portal dan aplikasi yang sudah berjalan 50 hari efektif.

“Jika terjadi kejenuhan baik pada peserta didik dan pendidik bisa kami maklumi. Tapi Kota Medan tetap konsisten tidak akan membuka sekolah buat pembelajaran tatap muka, sebab belum ada aturan yang membolehkannya dilakukan.

Kami terus melakukan penguatan pembelajaran seperti terus mengingatkan kepala sekolah melalui refleksi program, monitoring, penyelenggaraan webinar untuk memotivasi guru dan orangtua. Pengawas satuan pendidikan juga telah mmbuat laporan secara daring,” kata Adlan.

Hal lain disampaikanya, pembelajaran luring juga sedang proses penguatan dengan pelatihan guru membuat modul pembelajaran yang lebih mendorong kemandirian anak belajar di rumah.

“Kami sudah membuat buku panduan yang mengatur standar minimal bagi guru, kasek, pengawas dan orangtua saat anak belajar di rumah,” katanya.

Bahkan katanya, setahu kami belul ada daerah lain di Sumut yang melakukan ketentuan PJJ sedetail kita di Medan.

Itu terbukti ketika Direktorat SMP membuat Rakor Bidang Pembelajaran dan Penilaian 7-8 September lalu, u tuk Provinsi Sumut.

Dari 34 kab/kota yang ikut Rakor hanya Disdik Kota Medan yang bisa memaparkan langkah-langkah PJJ yang dilakukan dalam bentuk Rencana Tindak Lanjut( RTL), ” ungkapnya. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2