Waspada
Waspada » Stop Belajar Mengajar Di Sekolah
Medan

Stop Belajar Mengajar Di Sekolah

KETUA Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW-GPI) Sumatera Utara, Ahmad Zaim Syah. Untuk mencegah makin meluas penyebaran pandemi Covid-19, disarankan stop belajar mengajar di sekolah dan alihkan belajar dengan sistem daring. Waspada/Ist
KETUA Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW-GPI) Sumatera Utara, Ahmad Zaim Syah. Untuk mencegah makin meluas penyebaran pandemi Covid-19, disarankan stop belajar mengajar di sekolah dan alihkan belajar dengan sistem daring. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada):  Kasus pandemi Covid-19 di Kota Medan hari demi hari terus meningkat, dengan korban yang cenderung bertambah. Untuk mencegah makin meluas penyebarannya, disarankan stop belajar mengajar di sekolah dan alihkan belajar dengan sistem daring (online).

“Sebaiknya stop proses belajar mengajar di sekolah dan solusinya bisa dialihkan melalui sistem belajar secara daring,” kata Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW-GPI) Sumatera Utara, Ahmad Zaim Syah (foto) kepada Waspada, Sabtu (31/5)..

Berdasarkan catatannya, dari 21 kecamatan di kota Medan, 19 kecamatan masuk zona merah, dan 2 kecamatan zona kuning.

“Diperkirakan, seluruh kecamatan bakalan zona merah,” imbuhnya.

Menurut Sekretaris 1 PW Pengurus Wilayah Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PW KB PII) Sumut ini, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan.

“Terutama orang tua/wali murid, apalagi jika Pemko Medan tetap ngotot mengaktifkan kembali belajar mengajar tatap muka di sekolah,” kata Wakil Bendahara DPP KNPI ini.

Terlebih langkah tersebut dilakukan tanpa proses kajian dan penelitian yang mendalam dari para pakar kesehatan.

Dia meminta penelitian dilakukan harus secara objektif dan tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

“Penting dimintai masukan/rekomendasi dari para pakar kesehatan, karena ini menyangkut nyawa, tak ada nyawa cadangan manusia di dunia,”ujarnya.

“Bukan Walikota Medan yang memberi nyawa manusia, tapi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Dia mengingatkan untuk memikirkan nasib anak-anak yang akan sekolah nantinya di tengah pandemi Covid-19, yang kian merajalela.

Paranoid

Secara psikologis, orang tua murid/wali murid saat ini mengalami paranoid dan dilema, karena pandemi Covid-19.

“Sebaiknya proses belajar mengajar di sekolah distop saja, dan solusinya bisa dialihkan melalui sistem belajar secara daring,” katanya.

Guna mendukung proses belajar mengajar, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa digunakan, seperti peyediaan dan pemberian paket gratis internet kepada seluruh siswa/i se-Kota Medan.

“Jika Plt Walikota Medan masih tetap ngotot mengaktifkan belajar mengajar tatap muka di sekolah selama pandemi Covid-19 belum musnah dari Kota Medan, patut disesalkan apakah adanya kepentingan yang bermain terhadap keputusan tersebut,” katanya.

“Atau Plt Wali Kota Medan dalam hal ini mungkin mendapat tekanan dari pihak pihak tertentu,” tanyanya.

Dia menyebutkan, mencegah lebih baik dari pada mengobati, dan kesehatan tidak bisa dibeli dengan uang.

Keluarga adalah harta yang paling berharga serta perasaan was-was dari orang tua murid/wali murid.

“Inilah yang terus menghantui jika liburan sekolah tidak diperpanjang sampai kota Medan benar-benar bebas dari pandemi Covid-19,” pungkasnya. (cpb)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2