Siswa Tuna Rungu Smart Aurica Ikuti Kegiatan Fieldtrip Mewarnai dan Melukis

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Yayasan Mendengar Bicara (Smart Aurica School) bersama komunitas Barisan Belakang dan Gambar Bareng menggelar Field trip atau pembelajaran diluar sekolah di Taman Ahmad Yani, Medan, Sabtu (20/11).

Fieldtrip kali ini, mengunakan konsep alam terbuka dan mengusung tema Spirit Creativity With Art para siswa diajak menggambar dan mewarnai untuk mendukung saraf motorik serta meningkatkan kecerdan dan kreativitas bagi anak berkebutuhan khusus.

Anak tampak bersama dan antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari mewarnai, melukis di Canvas yang dibimbing langsung oleh para guru serta komunitas Gambar Bareng. Acara dimulai pukul 09:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB.

“Fieldtrip merupakan salah satu metode pembelajaran di Smart Aurica School Namun karena Covid-19 hampir dua tahun kegiatan ini ditiadakan sementara. Kali ini tak hanya mengundang siswa, para alumni dan orang tua untuk kegiatan menggambar dan mewarnai,” ujar Pendiri Yayasan Mendengar Bicara (Smart Aurica School), Seftiana Sari.

Kehadiran Smart Aurica School adalah satu-satunya sekolah di Medan yang mendidik anak tuna rungu dengan basis mendengar dan berbicara. Dengan berbagai program yang membantu perkembangan anak baik motorik maupun intelektual.

“Kedepannya kami berharap dapat membantu dan memfasilitasi anak berkebutuhan khusus. Dan juga bisa mengabdi membantu anak tuna rungu bisa mengikuti pendidikan di sekolah umum,” harap Ibu Sari sapaan akrabnya.

SMART Aurica School berada di Jalan Sei Batang Hari No 114 Medan. Saat ini mempunyai 28 siswa Tuna runggu. Anak yang mengalami gangguan pendengaran atau tuli walaupun sudah pake alat bantu dengar atau implan koklea mereka pun harus diajarkan untuk mendengar dan berbicara.

Kepala Sekolah Smart Aurica School, Rizki Febrika mengatakan anak disabilitas sebenarnya memiliki banyak potensi layaknya anak non-disabilitas. Ia mengakui bahwa melukis memberikan banyak manfaat bagi muridnya.

“Manfaatnya yang tadinya anak itu nggak bisa diam dia menjadi lebih tenang. Lalu yang tadinya sulit konsentrasi menjadi mudah konsentrasi. Jadi memang ada keseimbangan otak yang dilatih dengan melukis,” jelasnya.

Tita Anin selaku Ketua Komite yang juga wali murid mengatakan sekolah ini sangat membantu sekali untuk anak yang mengalami gangguan pendengaran, agar nantinya mereka dapat berkomunikasi layaknya anak yang normal.

“Saya dari Kisaran sengaja pindah sementara ke Kota Medan karena hanya disini yang ada pendidikan khusus anak tuna runggu, dan sekolah ini sangat membantu sekali untuk perkembangan anak yang mengalami gangguan pendengaran. Saya berharap nantinya anak yang terapi di Aurica dapat diterima dan melanjutkan ke sekolah umum,” kata Tita.

Melalui Sekolah ini telah mem­buat komunitas untuk para orangtua yang anaknya tunarungu. Komunitas ini juga dibuat menjadi ajang tempat mereka bertukar pikiran. (cdk)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *