Waspada
Waspada » Sistem Belajar Siswa Selama Covid-19 Perlu Dievaluasi
Medan

Sistem Belajar Siswa Selama Covid-19 Perlu Dievaluasi

PENGAMAT dan Pemerhati Pendidikan Sumut, Drs Ali Nurdin, MA. Sistem belajar bagi para siswa selama pandemi Covid-19 perlu dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Sumut maupun kabupaten/kota. Waspada/Ist
PENGAMAT dan Pemerhati Pendidikan Sumut, Drs Ali Nurdin, MA. Sistem belajar bagi para siswa selama pandemi Covid-19 perlu dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Sumut maupun kabupaten/kota. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Sistem belajar bagi para siswa selama pandemi Covid-19 perlu dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Sumut maupun kabupaten/kota.

Sistem belajar siswa selama Covid-19 perlu dievaluasi guna mengetahui apa kendala dan kemajuan yang dicapai dalam sistem pendidikan online atau daring.

Demikian antara lain disampaikan Pengamat dan Pemerhati Pendidikan Sumut, Drs Ali Nurdin, MA (foto), Minggu (14/6).

Kata Ali Nurdin, sebenarnya pihak Dinas Pendidikan baik provinsi maupun kabupaten/kota tidak terlalu sulit untuk menelaah atau menghimpun hasil hasil pembelajaran di rumah melalui sistim daring.

Selama tiga bulan terakhir (Maret-Mei) sejak diberlakukannya sistem belajar daring, perlu evaluasi terhadap hasil pembelajaran.

Jika belum nampak peningkatan hasil secara signifikan, perlu membuat langkah terpadu guna meningkatkan hasil dari belajar sistem daring.

Tolak ukur kurang efektifnya belajar daring,sambung Ali Nurdin, dapat dilihat dari beberapa indikator.

Antara lain, materi yang diajarkan perlu disesuaikan dengan metode pembelajaran secara daring. Inilah salah satu kelemahan bagi guru-guru.

Kemudian belajar di rumah dalam jaringan (daring) rawan menimbulkan kebosanan.

Tingkat produktivitas siswa cenderung menurun. Tenaga pendidik sebagai ujung tombak harus memutar otak agar pembelajaran kreatif efektif dan menyenangkan bisa terwujud.

Pembelajaran dalam jaring (daring) materi yang diterima dan didengarkan siswa sangat terbatas sekali.

“Jika guru tidak kreatif, yang terjadi justru tugas siswa menjadi menumpuk.  Bagi tingkat pendidikan dasar (SD, SMP) jenjang rendah kadang kerepotan. Apalagi untuk orang tua dan pengasuh mau tidak mau harus siap,” katanya.

Meskipun lewat daring, kurikulum harus sesuai situasi dan kurikulum yang berlaku. Intinya tidak membebani siswa ketika di rumah.

“Guru dan orang tua belum siap menerima dan menerapkan sistem daring,”katanya.

Dia menyebutkan,sebagaimana kita ketahui bahwa belajar di rumah dengan sistem daring media utama adalah internet.

Bermasalah

Dalam hal jaringan internet juga banyak bermasalah. Aksesbilitas secara daring dan tatap muka sangat banyak berbeda.

Akses daring belum sepenuhnya mampu 100 persen. Bisa dikatakan hanya kisaran 40-60 persen bisa mengakses secara baik.

“Tentu banyak faktor, pertama mengenai jenis spesifikasi ponsel atau gawai. Kedua, tentunya nanti berimbas ke jaringan atau kuota internet.

Ketiga, tentu biaya yang dikeluarkan tidak murah. Ketiga faktor tersebut jika tidak dipecahkan akan berimbas pada kesalahan informasi antara siswa dan guru,”ungkapnya.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan adalah sistemnya dibenahi sesederhana dan seefektif mungkin.

Untuk mengukur hasil adalah evaluasi dan mendengarkan jajak pendapat dan masukan dari pakar, praktisi pendidikan, terutama guru dan orang tua bahkan para siswa itu sendiri.

Kepada Dinas Pendidikan dan Balai Diklat untuk mengadakan pelatihan kepada tenaga pendidik khusus sistem dan tekhnik pembelajaran online/daring.

Guru sebagai aktor. Bagaimana guru bisa menguasai materi. Guru harus modern dan tidak gaptek.

“Kepada dinas pendidikan untuk mengawasi kinerja guru mengajar sistem daring di rumah. Bila perlu mengawasi Bimbingan Teknis (Bimtek).

Demi menyambut ajaran baru, kompetensi guru juga wajib ditingkatkan. Bila perlu, guru segera memberikan pemetaan rinci kepada siswa.

“Perihal akses internet agar tidak mengganggu jalannya pembelajaran,” ungkapnya. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2