Sidang Dugaan Pemalsuan Akta, Saksi Sebut Pembuatan Dilakukan Di Jalan Juanda

Sidang Dugaan Pemalsuan Akta, Saksi Sebut Pembuatan Dilakukan Di Jalan Juanda

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Sidang dugaan pemalsuan akta dengan terdakwa David Putranegoro menghadirkan saksi Antony, yang merupakan keponakan dari terdakwa. Ia memberikan keterangan di hadapan Hakim Ketua Dominggus Silaban.

Dalam kesaksiannya, ia menjelaskan, akta nomor 8 dan 9 adalah saling berkaitan dan dibuat di rumah Jalan Juanda. Ketika pembuatan akta-akta tersebut saksi Antony mengaku berada di sana bersama istrinya.

Dikatakan Antony bahwa dirinya anak pertama dari Syamsudin. Sedangkan Syamsuddin anak keempat dari hasil perkawinan Jong Tjin Boen dengan Lim Lian Kiau ( istri pertama). “Jadi Jong Tjin Boen adalah kakek,” ucap Antony pada persidangan di Ruang Cakra 6 PN Medan, Selasa (12/10).

Antony juga membenarkan adanya pertemuan di rumah Jalan Juanda. Meski tidak mengingat persis tanggal dan bulan, namun saksi Antony masih ingat tahunnya sekitar 2008.

Antony mengatakan pada hakim, dalam setiap minggu, ada dua atau sampai tiga kali Antony mengunjungi kakeknya. Bahkan saat mau menikah pada tahun 1997, Jong Tjin Boen memintanya agar menempati rumahnya yang di Jalan Asia Raya yang berada di Kompleks Asia Mega Mas.

Setelah menikah pun Antony tetap berkunjung ke tempat kakeknya, sebab sejak kecil saksi Antony sangat dekat dengan kakeknya.

Begitu juga mengenai pertemuan di rumah di Jalan Juanda dibenarkan oleh saksi. Ketika Ketua Majelis Hakim Domingus Silaban dan Hakim Anggota Dahlia Panjaitan menanyakan tentang kondisi sang kakek pada saat itu,

Antony mengaku melihat kakeknya dalam kondisi sehat dan sebelum notaris Fujianto datang saksi sempat berbincang-bincang dengan kakek serta sempat melihat kakek (Jong Tjin Boen) dan nenek (Choe Jit Jen) duduk berkumpul bersama Suriati, Jong Gwek Jan, Jong Nam Liong, Lim Soen Liong, Mimiyanti (Jong Mei Yen), David Putranegoro dan Alm Ramli.

Pembagian Hak Waris

Di sisi lain, JPU Candra menanyakan kepada saksi apakah tahu isi Akta no 8 yang dibuat pada saat itu. Saksi menjawab mengerti soal itu. “Ngerti pak jaksa tentang pembagian hak waris 12 persen untuk anak laki- laki dan 4 persen untuk perempuan kecuali Mimiyanty bahagiannya sama dengan anak laki- laki 12 persen. Bahkan aset-aset yang tercantum dalam akta nomor 8 baru bisa dibagi setelah 30 tahun,” jelasnya.

“Tapi saksi tidak berada di dalam saat pembuatan akta no 8 tersebut. Bagaimana saksi bisa tahu isi akta tersebut, ” tanya JPU Candra Naibaho. Antony menjawab, dia mengetahui hal itu karena sempat mendengarkan saat pembacaan akta no. 8 tersebut oleh Notaris Fujianto Ngariawan.

“Jadi, saya tahu pada saat itu karena mendengarkan soal pembagian hak untuk laki-laki 12 persen dan perempuan 4 persen tapi untuk Mimiyanti tetap 12 persen. Bahkan saksi Antony tidak ada mendengar kegaduhan dari dalam. Suasana pada waktu itu semua ceria dan tertawa, jadi tidak ada pertengkaran dan keributan,” ujarnya.

Antony kembali menjelaskan bahwa Akta 8 dan 9 saling berkaitan. Meskipun akta tersebut dihibahkan kepada enam orang ahli waris, tetapi juga merupakan hak milik bersama.

Ketika dipertanyaan, kenapa ayahnya Syamsuddin tidak hadir pada saat itu. Antony menjelaskan benar ayahnya tak hadir, tetapi pertemuan di Juanda tersebut disampaikan saksi kepada Ayahnya dan menganjurkan agar beliau segera mendatangi kantor Notaris Fujianto Ngariawan SH untuk menandatangani akta no. 8 tersebut.

Akan tetapi saksi tidak tahu persis kapan orang tuanya mendatangi kantor notaris Fujianto untuk menandatangani akta 8. Antony baru tahu kalau orang tuanya mendapat bagian dividen setelah ayahnya meninggal dunia dan sejak ada laporan kepolisian yang diajukan oleh Jong Nam Liong kepada David sekitar tahun 2018 lalu. (m32).

Foto: Saksi saat memberikan keterangan di persidangan. Waspada/ist.

  • Bagikan