Waspada
Waspada » Sejarahwan: Kehadiran Kesawan City Walk Tergesa-gesa
Medan

Sejarahwan: Kehadiran Kesawan City Walk Tergesa-gesa

SEJARAWAN Kota Medan yang juga Ketua Pusat Studi Humaniora, Lembaga Pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari. Kehadiran Kesawan City Walk dinilai tergesa-gesa. Waspada/ist
SEJARAWAN Kota Medan yang juga Ketua Pusat Studi Humaniora, Lembaga Pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari. Kehadiran Kesawan City Walk dinilai tergesa-gesa. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Kehadiran Kesawan City Walk yang ditandai dengan soft launching pada Minggu (28/3) petang di Jalan Ahmad Yani Medan dinilai Sejarawan Kota Medan, yang juga Ketua Pusat Studi Humaniora, Lembaga Pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Medan,  Dr  Phil Ichwan Azhari, giat itu sangat tergesa-gesa.

“Tergesa-gesa kayaknya, merawat dan mengelola heritage sebuah kota jangan disederhanakan dengan menghidupkan kuliner dan wisata,” tegasnya, di Medan, Selasa (30/3).

Memang dikatakannya ia menyambut baik dan gembira rencana Walikota Medan membenahi dan menyelamatkan kawasan Kesawan sebagai kawasan heritage.

Kawasan Kesawan sebutnya sudah sangat lama diterlantarkan dan dibiarkan rusak serta salah urus oleh Pemko Medan sebagai warisan sejarah kota yang penting.

Untuk itu pembenahannya harus memperhatikan reputasi lama Pemko sendiri yang menelantarkan kawasan ini.

Pembenahan kawasan ini tidak bisa dilakukan secara mendadak dan terkesan Tergesa-gesa tanpa melihat berbagai dokumen perencanaan, pembiaran dan kegagalan Pemko di masa lalu dalam menyelamatkan kawasan heritage ini.

“Faktor faktor historis, dinamika sosial ekonomi dan budaya kawasan ini harus ditelaah sebelum kebijakan baru dijalankan,” jelas sejarahwan yang mengaku sudah letih selama 12 tahun mengingatkan agar Pemko Medan menyelamatkan heritage di kota Medan.

Dalam Penataan bangunan bersejarah katanya harus dengan berpegang pada undang undang cagar budaya harus menjadi prioritas.

Bangunan yang rusak dan terlantar diambil alih atau dikelola oleh pemerintah, dirawat, difungsikan misalnya sebagai galeri sejarah atau museum, galeri seni, kafe tempat berbagai komunitas kota berkumpul sebagai ruang ruang ekspresi. Semuanya dilakukan dengan latar bangunan heritage yang ada.

Ia memberi masukan agar bangunan yang rusak dan kumuh diberi bantuan untuk direnovasi dan dicat atau dibuat mural dengan melibatkan seniman kota Medan. Sebelumnya di jalan perdana ada mural seni tiga dimensi “Becak Medan”, karya pelukis dunia yang diabaikan, terlantar begitu saja.

“Alangkah baiknya kalau itu dijadikan rujukan, dipromokan dan dibuat lainnya yang menggambarkan berbagai Ikon kota Medan,” ucapnya lagi.

Sudah sejak 10 tahun akunya ia bicara dengan Pemko Medan agar Warenhuis diambil dijadikan Museum Sejarah Kota Medan.

Medan termasuk kota yang buruk karena tidak memiliki museum Kota. Sejarah panjang kota ini harusnya tergambarkan di museum itu. Jika museum bisa dibuat di salah satu kawasan heritage itu, maka kawasan ini menjadi destinasi untuk melihat sejarah peradaban kota.

“Harap diingat bangunan di situ bukan hanya bangunan kolonial. Ada bangunan situs sejarah penting di ujung jalan Hindu, situs Sekolah/ Mahtab 1930 yang masih berdiri, yakni sekolah Al Washliyah.

Bangunannya satu kompleks dengan mesjid Gang Bengkok. Jika jalan ke situ ditata dengan baik masuk Jalan Hindu ujung tembus ke mesjid Gang Bengkok itu jadi destinasi wisata religi yang mengesankan.

Lantas gedung Maktab itu dijadikan Museum Al Washliyah. Sehingga disamping Museum Tjong A Fie ada perimbangan untuk museum keagamaan.

Selanjutnya bisa dibuat galeri seni/sejarah Melayu Deli, India/Sigh, Arab, Jawa dll berbagai komunitas yang pernah berkontribusi dalam sejarah peradaban kota Medan,” bebernya.

Prioritas Utama

Lanjutnya lagi, banyak hal lain yang bisa dikembangkan berbasis heritage bangunan bersejarah dan aktifitas lama Kota Medan.

Jika ini dibenahi jadi prioritas utama maka pengunjung potensial akan datang dan banyak objek yang ingin dilihat. Saat itulah baru kuliner dikembangkan. Bukan kuliner duluan lokasi heritage-nya belum dikembangkan, belum dirawat dan dijadikan ruang ruang ekspresi.

Jika sudah mulai bagus penataan heritage-nya, maka restoran, warkop, pedagang kaki lima yang selama ini sudah berfungsi lama di kawasan itu harus menjadi prioritas utama untuk meningkatkan fungsinya, dikembangkan, dan dibina.

Contoh yang bagus dan bertahan di situ adalah resto Tip Top. Tapi ada juga kedai kopi, mie rebus, nasi soto, nasi biryani, es krim, sate padang dan lainnya yang sudah ada lama dan berfungsi di kawasan itu.

Setelah itu barulah berbagai area kuliner baru dikembangkan disandingkan dengan berbagai heritage yang ditata duluan.

Sehingga ia mengharapkan Jangan mendadak dijadikan pusat jajanan baru, sebentar ramai lalu secara alamiah meredup karena pusat peradaban di heritage yang ada tidak diurus, tidak dikembangkan lebih dulu.

“Jika Walkot baru bisa melakukannya maka itulah salah satu cara cerdas mengelola kawasan heritage kota Medan, yang memiliki sejarah gemilang sebagai Paris van Sumatera,” tandasnya. (cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2