Satgas Beberkan Dua Kekhawatiran Covid-19

Satgas Beberkan Dua Kekhawatiran Covid-19

  • Bagikan
ANGGOTA Bidang Penanganan Kesehatan-Ketua Tim Penanganan Penyakit Infeksi Emerging Satgas Penanganan Covid-19 Sumut dr Restuti Hidayani Saragih SpPD, K-PTI, FINASIM, M.H (Kes). Waspada/Ist
ANGGOTA Bidang Penanganan Kesehatan-Ketua Tim Penanganan Penyakit Infeksi Emerging Satgas Penanganan Covid-19 Sumut dr Restuti Hidayani Saragih SpPD, K-PTI, FINASIM, M.H (Kes). Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pandemi Covid-19 khususnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) hingga saat ini masih belum selesai. Karenanya, walau belakangan ini trend kasus yang didapatkan terus menurun, namun Satgas Penanganan Covid-19 Sumut tetap mengingatkan agar tidak bereuforia mengabaikan protokol kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan.

Anggota Bidang Penanganan Kesehatan-Ketua Tim Penanganan Penyakit Infeksi Emerging Satgas Penanganan Covid-19 Sumut dr Restuti Hidayani Saragih SpPD, K-PTI, FINASIM, M.H (Kes) (foto) menyampaikan, sebab ada dua kekhawatiran yang sangat perlu diantisipasi. Pertama adalah potensi lonjakan kasus, dan kedua adalah potensi masuknya varian Delta Plus AY.4.2.

“Karenanya kita meminta masyarakat tidak bereforia dan menahan diri untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi Covid-19 bagi yang belum,” ungkapnya, Senin (15/11).

Restuti menjelaskan, saat ini kondisi pandemi Covid-19 Sumut memang dalam keadaan terkendali. Namun, terkendali itu, sebut dia, bukan berarti pandemi telah selesai, meski berbagai kelonggaran telah diberikan seperti pada aktivitas perekonomian dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang dilakukan secara terbatas.

“Terbatas ini bukan hanya dari segi jumlah, tapi kita harus tetap membentengi diri dengan 5M plus vaksinasi dan 3T,” jelasnya.

Restuti membeberkan, pihaknya memang memiliki dua kekhawatiran terhadap potensi lonjakan kasus dan masuknya varian Delta Plus AY.4.2 ke Sumut. Untuk lonjakan kasus, menurutnya dapat terjadi seiring libur Natal dan Tahun Baru.

“Biasanya 2-4 kali masa inkubasi, berarti antisipasinya bulan Desember sampai Februari 2022. Jadi selama 4-8 minggu kita lihat, mudah-mudahan tidak ada lonjakan, kalau kita tidak eforia dan menahan diri,” terangnya.

Kemudian, lanjut Restuti, adalah potensi masuknya varian Delta Plus karena seperti di negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia varian tersebut sudah ditemukan. Oleh karena itu, ujar Restuti, hal ini tentu menjadi warning bagi kita, karena bukan tidak mungkin varian tersebut akan bisa masuk dan didapatkan di Tanah Air.

“Saat ini pemerintah dan unsurnya terus melakukan pendeteksian. Mudah-mudahan (varian Delta Plus) tidak ada,” harapnya.

Restuti menambahkan, varian Delta Plus AY.4.2. ini secera transmisi, kemampuan penularannya jauh lebih cepat dari varian Covid-19 yang sebelumnya telah ada. Kemudian, varian ini juga memiliki kemampuan escape (lolos) dari pertahanan diri (imun) yang sudah terbentuk dalam tubuh.

“Dengan penularan yang lebih cepat ini maka tentu artinya akan ada lonjakan. Jadi masyarakat tetap prokes 5 M, segera vaksinasi Covid-19 jika belum dan dukung pemerintah melakukan 3T, sama seperti waktu-waktu yang lalu,” pungkasnya.

Terpisah, melalui data milik Kemenkes RI, Provinsi Sumut disebutkan memperoleh penambahan lima kasus konfirmasi positif baru, sehingga total kasusnya menjadi 105.963 orang. Kemudian untuk kasus sembuh diperoleh penambahan 19 kasus menjadi 102.899 orang.

Sedangkan kasus kematian, tetap bertahan di angka 2.889 orang. Oleh karena itu, maka saat ini kasus aktif, atau jumlah penderita Covid-19 Sumut terisisa 175 jiwa. (cbud)

  • Bagikan