Waspada
Waspada » RS Haji Hanya Layani Pasien Ibu Dan Anak Terpapar Covid-19
Medan

RS Haji Hanya Layani Pasien Ibu Dan Anak Terpapar Covid-19

RAPAT dengar pendapat Komisi E dengan Rumah Sakit Haji Medan, dan dinas lain di ruang dewan, Rabu (2/9). DPRD Sumut kaget RS Haji hanya layani ibu dan anak terpapar Covid-19. Waspada/Partono Budy
RAPAT dengar pendapat Komisi E dengan Rumah Sakit Haji Medan, dan dinas lain di ruang dewan, Rabu (2/9). DPRD Sumut kaget RS Haji hanya layani ibu dan anak terpapar Covid-19. Waspada/Partono Budy

MEDAN (Waspada): DPRD Sumut mengaku heran karena selama ini Rumah Sakit Haji ternyata hanya melayani pasien ibu dan anak yang terpapar Covid-19. Ke depan, dewan minta Pemprovsu melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) jangan setengah-setengah melayani masyarakat yang terjangkit pandemi itu.

“RS Haji layani pasien ibu dan anak yang terpapar Covid-19 cukup mengagetkan kita, walaupun rumah sakit ini bukanlah rumah sakit rujukan,” kata Ketua Komisi E Dimas Tri Aji.

Dia mengatakan hal itu pada rapat dengar pendapat dengan Direktur RSU Haji dr Khainir Akbar Yusuf di ruang dewan, Rabu (2/9).

Dengan status melayani untuk ibu dan anak, Dimas khawatir masyarakat tidak seutuhnya mendapatkan layanan terkait pandemi Covid-19.

“Mungkin saja nanti korban bisa bertambah, karena masyarakat yang berobat dikhwatirkan akan bercampur, tak lagi ibu dan anak yang teridap Covid akan tertular ” lanjut Dimas.

Dimas menyebutkan, dengan klaim sejumlah dokter yang menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 diperkirakan melandai pada Desember 2020, DPRD Sumut berharap GTPP tidak lagi parsial menangani penyakit itu, tetapi harus tuntas.

“Kita mohon GTPP tegas lah, jangan separuh-separuh. Ini ada rumah sakit untuk ibu dan anak, padahal kan pasien teridap Covid kan bukan mereka saja, tetapi seluruh masyarakat tak terkecuali,” katanya.

Direktur RSU Haji dr Khainir Akbar Yusuf membenarkan rumah sakitnya melayani pasien khusus ibu dan anak yang masuk dalam kategori pengawasan Covid-19.

“Tapi toh nantinya tetap dirujuk ke rumah sakit yang telah ditentukan,” ujarnya.

Adapun untuk masyarakat yang ingin berobat hanya sebagai rapid test. Jika kemudian diketahui terpapar Covid-19, RSU mengeluarkan nota ke rumah sakit rujukan.

Dia juga membenarkan bahwa status perawatan ibu dan anak sudah dikordinasikan dengan GTPP, namun anggarannya tak ditanggung sepenuhnya.

“Ini bagian dari layanan dari rumah sakit kami untuk masyarakat, namun untuk layanan ibu dan anak yang terpapar kami utamakan dan tetap dikordinasikan dengan GTPP,” ujarnya.

Jangan Setengah-setengah

Mendengar penjelasan ini, anggota Komisi E Mustafa Kamil membingungkan kebijakan GTPP yang memilah-milah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.

“Maunya full-lah (penuh) jangan untuk ibu dan anak saja, bagaimana kita mau menangani tuntas pandemi itu,” katanya.

Politisi NasDem ini yang juga dokter bedah ini mengaku pusing bagaimana seorang dokter di rumah sakit fokus mengobati ibu dan anak.

Padahal setiap hari jumlah korban yang meninggal dan terpapar yang terus bertambah bukan mereka saja, tetapi semua usia.

Apalagi, rumah sakit rujukan di Sumut sulit menerima pasien terpapar Covid-19 kalau tidak ada akses, relasi atau kawan di sana.

“Wah ini kacau juga, padahal RSU Haji kan punya pemerintah, kenapa pula yang dirawat ibu dan anak saja,” katanya.

Merespon ini, Direktur RSU Haji dr Khainir Akbar Yusuf berjanji akan berkordinasi dengan GTPP Pemprovsu, agar terutama nanti pada refosucing tahap III, status rawat ibu dan anak tak lagi parsial tetapi penuh untuk masyarakat luas.

“Nanti ada anggaran Rp 500 miliar tahap III, kita berharap RSU dapat tambahan anggaran dan sekaligus akan kita declare status kita melayani masyarakat umum,” tegasnya. (cpb)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2