Refleksi Hari Pendidikan Nasional Terhadap Tingginya Perokok Anak

Refleksi Hari Pendidikan Nasional Terhadap Tingginya Perokok Anak

  • Bagikan
YAYASAN Pusaka Indonesia. Prevalensi jumlah perokok anak dari tahun ke tahun menunjukan angka yang cukup mengkhawatirkan dan peningkatan. Ilustrasi
YAYASAN Pusaka Indonesia. Prevalensi jumlah perokok anak dari tahun ke tahun menunjukan angka yang cukup mengkhawatirkan dan peningkatan. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Prevalensi jumlah perokok anak dari tahun ke tahun menunjukan angka yang cukup mengkhawatirkan dan peningkatan.

“Masalah perokok anak harusnya menjadi masalah serius di tataran lembaga pendidikan, apalagi kita harus mencapai target Indonesia emas di tahun 2024 ini,” ujar Elisabet Juniarti, Koordinator program Tobaco Control Yayasan Pusaka Indonesia sekaitan Hari Pendidikan Nasional, Minggu (2/5).

Dijelaskanya, dari data riset kesehatan dasar kementrian kesehatan, di tahun 2013 prevalensi perokok anak di usia 15 tahun ke bawah 7,2%, ditahun 2016 meningkat menjadi 8,8% dan tahun 2018 sebanyak 9,1%.
Atau diperkirakan dalam jumlah lebih dari 60 juta anak melakukan aktivitas merokok. Padahal rokok sangat berbahaya bagi kesehatan anak.

“Tentu saja ini menjadi sebuah tantangan untuk menurunkan jumlah perokok anak bukan saja dari iklan promosi dan sponsor rokok saja yang begitu gencar mempengaruhi anak-anak tetapi kalangan internal sendiri termasuk orang tua dan tenaga pengajar,”ucap Elisabet Juniarti

Dia menyebutkan, Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) yang konsen terhadap perlindungan kesehatan anak melihat di banyak sekolah belum memiliki komitmen bersama untuk menurunkan angka perokok anak.

Apresiasi

Hal lain disampaikannya, YPI mengapresiasi sekolah yang sudah menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Sekolah. Namun disayangkan masih ada juga sekolah yang belum melakukan itu bahkan masih menemukan guru yang merokok di sekolah.

“Guru itu teladan bagi anak-anak. Sehingga penting bagi guru untuk bisa ikut mengimplementasikan perda KTR di sekolah-sekolah. Jadi guru tak sekedar melarang siswa merokok, tetapi ia juga tidak seharusnya merokok di sekolah,” ujar Elisabet menambahkan.

Data dari dinas kesehatan Kota Medan. Sudah sekitar 90% sekolah yang telah menerapkan perda KTR. Perda KTR ini mengatur larangan merokok di 7 kawasan termasuk di sarana pendidikan.

Selain melarang aktifitas merokok, memasang iklan dan sponsor, bahkan tidak dibenarkan penyediaan tempat asbak rokok

Namun yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah merebaknya rokok vave. Disebutkan Elisabet konsumsi rokok elektronik ini juga mengalami peningkatan di usia pelajar di antara usia 10 sampai 18 tahun.

Dari tahun 2016 yang hanya 1,2%, di tahun 2018 meningkat menjadi 10,9%.

Momen Hari Pendidikan Nasional ini, Elisabet berharap guru bisa menyampaikan informasi yang baik dan larangan merokok kepada pelajar. Sebab angka perokok anak sudah begitu mengkhawatirkan bagi kesehatan mereka di masa yang akan datang. (m22)

  • Bagikan