Refleksi Hari Kartini, Sumut Juga Miliki Pejuang Perempuan Handal

Refleksi Hari Kartini, Sumut Juga Miliki Pejuang Perempuan Handal

  • Bagikan
SEKRETARIS Umum DHD45, H Eddy Syofian. Refleksi Hari Kartini, Sumut juga miliki pejuang perempuan handal. Waspada/ist
SEKRETARIS Umum DHD45, H Eddy Syofian. Refleksi Hari Kartini, Sumut juga miliki pejuang perempuan handal. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Refleksi Hari Kartini pada 21 April yang dirayakan setiap tahun, Sumatera Utara sesungguhnya memiliki sosok pejuang. Sosok sosok tersebut diakui tidak seperti Kartini  yang memliki teman untuk berkorespodensi kepada sahabatnya di Belanda tentang terbelenggunya wanita-wanita  Indonesia dari kebodohan dan ketertindasan.

Hal ini disampaikan Sekretaris Umum DHD45, H Eddy Syofian (foto), Rabu (21/4).

Kata dia, sosok wanita pejuang dari Sumut antara lain Kardiyem, Salbiyah yang langsung berjuang di medan revolusi sebagai mata-lata  untuk membantu para pejuang dipimpin Bejo.

Dalam buku “Peranan Wanita Dalam Revolusi Kemerdekaan di Sumut 1945-1949″ karya Dr Suprayitno,  dkk” diungkap keberanian sosok beberap wanita yang ikut dalam perjuangan.

Misalnya, Ibu Kardiyem beliau menjadi mata2 ( Seko) ketika operasi Laskar Bejo di wilayah Labuhan Batu, Kardiyem menyamar sebagai pedagang sayur dan bisa menyusup ke wilayah pertahanan Belanda untuk mendapat informasi tentang rencana operasi tentara Belanda.

Begitu juga ada sosok Ibu Salbiyah di Wilayah Simalungun menjadi mata-mata untuk Laskar Bejo.

Ada juga Mularia Saragih yang bergerak ke Sipirok untuk menggugah para pemuda dan masyarakat mwnghimpun dana untuk perjuangan revolusi.

Ada juga Rohana Kudus yang pernah berjuang di Medan dan akhirnya diusul menjadi Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat.

“Mereka memang tidak seperti Kartini tetapi semangatnya tak pernah padam untuk membebaskan Indonesia dari penjajah”ujar Sekretaris Umum DHD45 Sumut ketika diminta tanggapannya di Gedung Juang 45.

Dia menyatakan jauh sebelum Indonesia merdeka, banyak wanita-wanita terdidik di Sumatera Utara pada zamannya  mendirikan Surat Kabar Perempuan dan menyebarkannya ke kaumnya.

8 Surat Kabar

Dalam catatan Musium Pers Sumut tercatat ada 8 Surat Kabar antara lain: Perempuan Bergerak (1919-1920) surat kabar yang dianggap penjajah radikal, karena keberaniannya mendukung perjuangan.

Ada juga Surat Kabar Soeara Iboe di Sibolga (1932), Beta Tarutung (1933), Boroe Tapanuli (Sidempuan) dan di era awal kemerdekaan muncul Majalah Dunia Wanita Medan (1949-1980).

“Ini menujukkan wanita-wanita Sumatera Utara telah mengukir perannya dalam.perjuangan” ujarnya seraya prihatin saat ini begitu banyaknya  wanita-wanita terdidik tetapi tidak ada media yang khusus menyuarakaan tentang perempuan dan perjuangannya,”ujarnya.

Hal lain disampaikannya, di Hari Kartini ini, mantan Kadis Kominfo Sumut ini menyampaikan harapan kepada masyarakat agar jangan ada lagi yang melecehkan perempuan dengan label dapur  dan kasur .

“Meski ada wanita yang tidak berkarir di.luar rumah, tetapi pikiran dan cakrawala kaum.perempuan harus menembus batas batas dunia,” katanya.

Semangat kaum perempuan tidak boleh padam. Salah satu perjuangan yang masih terus dilakukan hingga saat ini adalah membangun kesetaraan terutama kesempatan menikmati pendidikan yang tinggi dan posisi strategis dalam bidang politik, eksekutif, dan judikatif maupun legeslatif.

“Jangan ada lagi pembatasan atau quota  dalam bidang legeslatif dan eksekutif,” sebutnya.

Dia berharap, di era melenial saat ini jangan ada lagi kekerasan dalam rumah tangga. Hak perlindungan kekerasan dalam rumah tangga harus dikawal.

Pendidikanlah yang bisa meretas masalah diskriminasi kaum perempuan ini. Dia akhir penjlesannya dia  berharap kepada sejarawan maupun para pendidik meng ungkap sosok wanita tangguh pada masa kemerdekaan.

“Kita bangga pada Ibu RA Kartini tapi mungkin di daerah kita masing masing ada Kartini-Kartini hebat yang menginspirasi  masyarakat sesuai zamannya.

DHD45 Sumut akan terus menggali sosok wanita dari Sumut yang pernah berjuang pada masa revolusi dan masa awal kemerdekaan guna menjadi inspirasi generasi saat ini.

“Bila memungkinkan dan memenuhi persyaratan kita ajukan menjadi calon pahlawan nasional seperti Ibu Kardiyem, Ibu Salbiyah, Ibu Mularia Saragih dan bunda Ani Idrus,” pungkasnya. (m22)

  • Bagikan