Waspada
Waspada » PW PUI Sumut Shalat Ghaib Untuk Ali Jaber Dan Habib KH Ali Bin Abdurrahman
Medan

PW PUI Sumut Shalat Ghaib Untuk Ali Jaber Dan Habib KH Ali Bin Abdurrahman

KETUAUmum PW PUI Sumut, Dr H Sakhira Zandi. PW PUI Sumut shalat ghaib untuk Ali Jaber dan Habib KH Ali Bin Abdurrahman, Sabtu (16/1). Waspada/ist
KETUAUmum PW PUI Sumut, Dr H Sakhira Zandi. PW PUI Sumut shalat ghaib untuk Ali Jaber dan Habib KH Ali Bin Abdurrahman, Sabtu (16/1). Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Pimpinan Wilayah Persatuan Umat Islam (PW PUI) Sumut menggelar shalat ghaib untuk ulama kharismatik Indonesia yang wafat, yakni Syeikh KH Ali Shaleh Muhammad Ali Jaber dan Habib KH Ali bin Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Sebelumnya PUI Sumut juga melaksanakan shalat ghaib untuk korban pesawat Sriwijaya Air.

Ketua Umum PW PUI Sumut, Dr H Sakhira Zandi (foto), Sabtu (16/1) menyebutkan, shalat ghaib untuk Ali Jaber dan Habib KH Ali Bin Abdurrahman dilaksanakan di Masjid Agung Ahmad Bakri Kisaran setelah sholat Zuhur pada Sabtu (16/1) bersamaan digelarnya Pelantikan DPD PUI Kab Asahan Priode 2021 – 2026,.

Disebutkannya, wafatnya ulama adalah musibah. Kita semua mengakui bahwa wafatnya ulama adalah sebuah musibah bagi umat Islam. Karena, ulama adalah pewaris Nabi. Wafatnya ulama berarti hilangnya pewaris Nabi.

Wafatnya ulama adalah musibah bahkan ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabda yang artinya:

“meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

“Sebagai musibah dalam agama yang diibaratkan oleh Nabi laksana bintang yang padam, wajar bila kita bersedih ditinggal wafat seorang ulama. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam sendiri menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya ulama pertanda kemunafikan,” ujarnya.

Transfer Warisan

Hal lain disebutkannya, wafatnya ulama bermakna diangkatnya Ilmu. Kesedihan yang benar sebab ditinggal wafat seorang ulama bukanlah kesedihan berdasar nafsu karena kehilangan fisiknya.

Kesedihan ini sejatinya adalah karena kehilangan orang yang mentrasfer warisan kenabian kepada umat.

Kehilangan orang yang membimbing di jalan kebenaran sesuai dengan cahaya ilmu pengetahuan.

Kehilangan orang yang dalam dadanya tersimpan bermacam ilmu yang diperlukan dalam menjalani kehidupan. Sehingga wafatnya ulama bermakna kehilangan ilmu pengetahuan.

“Inilah cara memaknai kesedihan ditinggal wafat ulama yang sesuai dengan ajaran agama kita. Bukan seperti orang-orang yang kehilangan artis idola. Seorang bijak pernah mengatakan, “It’s better to light a candle than curse the darkness”, menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan,” tambahnya. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2