Puasa Baik Bagi Penderita Maag

Puasa Baik Bagi Penderita Maag

  • Bagikan
SEORANG penderita maag. Puasa di bulan suci Ramahan relatif baik nagi penderita maag. Ilustrasi
SEORANG penderita maag. Puasa di bulan suci Ramahan relatif baik nagi penderita maag. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Berpuasa di bulan Ramadan menjadi kewajiban seluruh umat muslim yang melaksanakannya. Dalam kondisi tertentu, puasa juga relatif baik bagi penderita maag.

Hal ini disampaikan Dr dr Taufik Sungkar SpPD dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) dalam satu pembicangan di Medan, belum lama ini.

Khusus untuk maag, ada beberapa kondisi orang-orang tertentu dengan kelainan lambung atau dispepsia itu puasa sesuatu seperti momok. Apakah mereka bisa menjalankan puasa?

“Secara garis besar dispepsia dibagi dua, yaitu dispepsia fungsional dan dispepsia organik,” ungkapnya saat ngobrol santai bersama Prof Delfitri Munir baru-baru ini.

Taufik menjelaskan, dispepsia fungsional artinya secara struktur organnya tidak ada kelainan. Ini terjadi karena perubahan pola makan, misalnya waktu makan yang tidak teratur ataupun jenis makanan yang dikonsumsi tidak beraturan atau tidak sesuai.

Nah, inilah yang menyebabkan rasa nyeri ataupun gembung pada penderita dispepsia fungsional.

“Dari sini muncul pertanyaan, penderita dispepsia fungsional tersebut apakah boleh menjalankan ibadah puasa? Beberapa literatur menyampaikan bahwa dengan berpuasa maka orang-orang ini justru keluhan dispepsianya akan membaik, karena dengan berpuasa mereka diatur pola makannya. Dengan kata lain, selama berpuasa pola makannya akan teratur,” terangnya.

Atur Pola Makan

Dikatakan Taufik, berpuasa di bulan ramadan bagi penderita maag berarti mengatur pola makan yang seimbang.

Dalam waktu sebulan, diatur pola makan yang sama. Memang, di awal menerapkannya atau sekitar 1 minggu pertama puasa, lambung akan beradaptasi.

“Mereka akan merasakan rasa yang tidak nyaman selama sepekan awal menjalankan puasa karena lambung masih beradaptasi dengan pola baru. Sebelum ramadan makan tiga kali sehari atau lebih, sedangkan ketika ramadan hanya dua kali,” kata dia.

Namun, setelah itu atau minggu keduanya lambung sudah bisa beradaptasi. Nah, kondisi ini akan membuat penderita dispepsia fungsional merasa nyaman apalagi menjaga pola makannya.

Seperti tidak mengonsumsi makanan berlemak atau minuman bersoda. Tentunya, ini akan membuat lambungnya merasa lebih nyaman dan keluhan lambungnya tidak akan muncul.

“Mungkin pada minggu pertama puasa mereka perlu konsumsi obat lambung yang bertujuan untuk menurunkan kadar asam lambungnya pada saat sahur ataupun berbuka. Namun pada minggu kedua sudah bebas atau tidak perlu lagi konsumsi obat lambung, karena lambungnya sudah terbiasa,” papar Taufik.

Luka Di Lambung

Dia melanjutkan, untuk penderita dispepsia organik, secara struktur lambungnya ada masalah. Biasanya terdapat luka di lambung atau polip, hingga yang lebih berat adalah kanker di lambung.

Penderita penyakit lambung dengan kondisi seperti ini harus mempertimbangkan. Artinya, konsultasi dulu ke dokter spesialis untuk menjalankan puasa.

“Kalau tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan, misalnya pasien dispepsia organik tanpa adanya muntah darah, tidak ada buang air besar hitam, tidak mengalami muntah-muntah yang berlebihan. Maka, boleh dianjurkan melakukan puasa. Meski begitu, tentu harus mengonsumsi obat-obatan yang menurunkan produksi asam lambung pada saat sahur dan berbuka puasa,” jabarnya.

Taufik juga mengungkapkan, ada beberapa cara ataupun tips yang bisa dilakukan untuk menghindari timbulnya gejala dispepsia. Tips pertama, pola makan saat sahur jangan konsumsi makanan dalam jumlah yang besar.

“Mungkin penderita dispepsia ini akan ketakutan dan menganggap, saat berpuasa sekitar 12 jam maka harus makan yang banyak. Ini justru asumsi yang salah, karena ketika makan dalam jumlah yang besar tentu membuat kerja lambung akan menjadi lebih berat. Hal itu lantaran diproduksi lagi asam lambung dalam jumlah yang tinggi untuk mencerna makanan yang masuk dalam jumlah banyak,” tutur dia.

Kondisi tersebut akan membuat rasa tidak nyaman di perut, seperti nyeri, begah dan sebagainya. Karena itu, dianjurkan mengonsumsi makanan secukupnya, tidak berlebihan.

“Begitu juga ketika berbuka puasa, sebaiknya mengonsumsi minuman dan makanan yang manis secukupnya. Setelah melaksanakan ibadah salat maghrib, barulah makan dalam jumlah yang cukup,” sambung Taufik.

Apabila masih lapar lagi, setelah menunaikan salat tarawih boleh memakan makanan ringan. “Ini artinya, disarankan penderita maag makannya sedikit-sedikit tetapi sering, sehingga kerja lambung tidak semakin berat,” ujarnya.

Hindari Makan Pedas

Tips kedua, Taufik melanjutkan, jenis makanan yang dikonsumsi. Hindari baik saat sahur maupun berbuka puasa makanan yang pedas, mengandung lemak yang tinggi, hingga mengandung minyak. Sebab ketiga jenis makanan tersebut dapat memicu produksi asam lambung yang begitu tinggi. Jika tetap dikonsumsi, maka akan menimbulkan rasa tidak nyaman di perut.

“Begitu juga dengan minuman, dianjurkan minum air putih yang cukup. Ada beberapa literatur menyampaikan, dengan konsumsi cairan yang cukup maka bisa meningkatkan PH lambung sehingga kondisi lambung tidak begitu asam. Selain itu, hindari juga minuman yang asam, berkarbonasi atau bersoda atau mengandung kafein,” pesan dia.

Tak hanya itu, Taufik menambahkan, kebiasaan merokok usai sahur atau berbuka tidak boleh lagi dan harus dihindari. Sebab dengan merokok, maka nikotin yang terkandung dalam rokok akan merusak mukosa saluran pencernaan hingga menyebabkan gangguan.

Kemudian, kebiasaan yang perlu dihindari lainnya yakni setelah makan berbaring atau bahkan tidur. Ini jelas tidak boleh, karena kalau tidur atau berbaring setelah makan, maka isi yang ada di dalam lambung akan naik ke dalam kerongkongan sehingga akan menyebabkan rasa tidak nyaman di dada.

“Sebaiknya, setelah santap sahur maka duduk dulu sekitar 2 atau 3 jam. Tak kalah pentingnya juga hindari faktornya pemicu stres, karena ketika stres dapat meningkatkan produksi asam lambung,” tandasnya. (cbud)

  • Bagikan