Waspada
Waspada » PTM Terbatas Benteng Batasi Pelajar Dari Covid-19
Medan

PTM Terbatas Benteng Batasi Pelajar Dari Covid-19

SEJUMLAH ahli tampil pada Diskusi Virtual Mengintip Persiapan Sekolah Tatap Muka, di Medan, Sabtu (3/4). Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas merupakan benteng untuk membatasi pelajar dari Covid-19. Waspada/Ist
SEJUMLAH ahli tampil pada Diskusi Virtual Mengintip Persiapan Sekolah Tatap Muka, di Medan, Sabtu (3/4). Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas merupakan benteng untuk membatasi pelajar dari Covid-19. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas merupakan benteng untuk membatasi pelajar dari Covid-19. Karena, dengan digelarnya PTM Terbatas ini, para anak usia sekolah akan teredukasi dan faham apa itu Covid-19 dan menjadi tahu menyikapinya.

Hal ini diungkapkan Ketua Komisi E DPRD Sumut, Dimas Tri Adji, S.I. Kom pada diskusi online yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pengda Sumut pada Sabtu (3/4).

Pada diskusi online bertopik ‘Mengintip Persiapan Sekolah Tatap Muka di Sumut, Sinkronisasi Kebijakan dengan Realita itu, Dimas Tri Adji juga menyampaikan bahwa berdasarkan tinjauannya di Sumatera Barat (Sumbar) dibukanya sekolah tatap muka malah para siswa menjadi faham apa itu Covid-19 seperti bagaimana menjaga 5 M, bagaimana bersikap terhadap Covid-19.

“Anak pelajar di Sumut saat ini kondisi riilnya telah memenuhi warung-warung internet (warnet), kedai kopi atau kafe, rental PlayStation juga penuh. Jadi kalau konsepnya kita balik, pembelajaran tatap muka ini benteng sebenarnya. PTM itu sebenarnya Edukasi, Advokasi terhadap peserta didik kategori usia pelajar untuk menghindari Covid-19,” jelasnya.

Bahkan ditegaskannya, dikatakan sebagai benteng, karena usia pelajar akan lebih peduli jika menjalankan prokes secara langsung, kalau sekarang, sebutnya, anak usia pelajar itu belajar di rumah, di luar rumah belum tahu pengawasan orang tua apalagi guru tidak bisa mengawasi mereka diluar rumah.

Jadi pihaknya menghimbau agar semua pihak membuka pikiran tentunya dengan konsep metode yang terukur juga dengan aturan protokol kesehatan (prokes) agar segera dilakukan pembelajaran tatap muka di Sumut.

Dengar Pendapat

Sebagai tanda keseriusannya untuk mendorong PTM pada April ini, pihaknya akan melakukan dengar pendapat kembali bersama Dinas Pendidikan Sumut untuk membuat kesimpulan apa yang akan dilakukan bersama dan untuk disampaikan kepada Gubernur Sumut untuk segera dicarikan solusinya oleh para ahli.

Di awal diskusi disebutkannya bahwa sudah banyak provinsi lain melakukan ujicoba PTM terbatas, seperti Sumbar, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta.

“Pemprovsu Jateng pada 5 April akan membuka 140 sekolah melakukan tatap muka, 35 SD,35 SMP, 35 SMA, 35 SMK, ini dilakukan uji coba sekolah tatap muka. Di sini memang penduduknya padat dan angka Covid-19-nya sangat dinamis,” ujarnya.

Begitu juga Jabar sebanyak 2500 sekolah akan melakukan pembelajaran tatap muka pada bulan April ini, Jatim 5 ribu sekolah diseluruh jenjang. Dan Jakarta Sama sama kita tahu 100 sekolah April ini dilakukan sesuai rilis Dinas Pendidikan DKI Jakarta baru-baru ini.

Tak hanya itu, Dimas juga membeberkan kondisi Sumut saat ini bahwa dimana-mana sudah ramai dan penuh.

“Tempat bermain anak penuh, Pernikahan sudah mulai berjalan jadi saya kira di tingkat desa, dusun protokol kesehatannya juga sangat rendah bahkan taman wisata semua sudah dibuka. Kemarin saya berangkat dari Berastagi ke Medan selama 3 jam menggunakan mobil karena padatnya jalanan. Arena anak di pusat perbelanjaan seperti remot kontrol, mandi bola semua sudah dipenuhi pengunjung bahkan anak-anak ada di sana,” ujarnya.

Sehingga tegasnya ini bisa menjadi andalan semua pihak bahwa konsep berfikir belajar tatap muka akan menimbulkan klaster bisa dibalik yaitu belajar tatap muka terbatas dengan protokol Kesehatan terukur itu akan menjadi benteng kedepan untuk kategori usia pelajar dalam memahaminya covid-19 menghindar dari Covid-19.

Pembicara lainnya, Idham Khalid, SKM, MKes, Kadis Pendidikan Kota Tebing Tinggi dalam paparannya didiskusi itu bahwa ia menegaskan bahwa Tebingtinggi sejak Januari 2021 sudah siap untuk membuka sekolah tatap muka dan bahkan persiapan PTM yang direncanakan pada Juli 2021 mendatang pihaknya sudah siap 100 persen.

“Kami kota Tebingtinggi sebenarnya Januari 2021 ini kita sudah siap untuk PTM dan kesiapan kami sudah 100 persen,” katanya. Ini ditegaskannya karena secara fisik, penegakan prokes disekolah sudah disiapkan secara matang. Sasarannya ada 244 satuan pendidikan terdiri dari sekolah negeri 90 unit dan swasta 153 unit dengan jumlah siswa sasaran sebesar 31897 siswa.

Spanduk Imbauan

Disebutkan juga bahwa persiapan yang mereka lakukan di antaranya sudah menerapkan 5 M, membuat spanduk imbauan, semua sekolah sudah ada wastafel dan Sampai pada persiapan ruang kelas jaga jarak di Tebingtinggi ini sudah siap.

Menanggapi yang dipaparkan kedua narasumbernya itu, Prof Dr Usman Pelly, MA Ph D yang merupakan Antropolog dan Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed) bahwa Sumbar dan khususnya Tebingtinggi bisa dijadikan pionir untuk PTM di Sumut.

Untuk itu dikatakannya, Kabupaten/kota bisa bergabung dnegan kota Tebingtinggi sehingga menjadi maping proses persiapan PTM di Sumut.

“Pemerintah Sumut harus banyak menjadikan Sumbar sebagai contoh dalam menggerakkan semua komponen untuk PTM, unsur yang paling penting, guru dan ornag tua dan Tebingtinggi itu bisa menjadi pionir,” tandas Usman Pelly.

Sementara itu, Ketua IAKMI Pengda Sumut, Destanul Aulia, SKM, MBA, MEc Ph.D menyatakan menggelar diskusi virtual ini untuk melihat seperti apa gambaran kesiapan PTM di Sumut. IAKMI Sumut juga siap untuk membantu pemerintah dalam menyakinkan guru, orang tua dan peserta didik melalui aspek promosi kesehatan.(cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2