Waspada
Waspada » Prof Syawal: Saat Ini Daya Juang, Kreativitas Berpikir Kritis Sangat Dibutuhkan
Medan

Prof Syawal: Saat Ini Daya Juang, Kreativitas Berpikir Kritis Sangat Dibutuhkan

PROF Syawal Gultom. Dua karakter diri harus dimiliki sarjana baru Unimed dalam menyongsong masa depan. Pertama memiliki daya juang, kemudian kreativitas berpikir kritis. Waspada/Ist
PROF Syawal Gultom. Dua karakter diri harus dimiliki sarjana baru Unimed dalam menyongsong masa depan. Pertama memiliki daya juang, kemudian kreativitas berpikir kritis. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Prof Syawal Gultom (foto) mengatakan, dua karakter diri harus dimiliki sarjana baru Unimed dalam menyongsong masa depan. Pertama memiliki daya juang, kemudian kreativitas berpikir kritis.

“Dua karakter diri tersebut merupakan kunci sukses , terlebih di era pandemi Covid-19, ” kata Prof. Syawal Gultom saat menyampaikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan Unimed program S3, S2, S1 dan D3 Unimed yang digelar secara daring, Rabu (2/12).

Dia mengatakan, tidak ada kesulitan apapun yang akan menghalangi kecuali daya juang sudah melemah. Hanya daya juang yang memerdekakan negeri ini, bukan senjata dan bukan pula teknologi. Karena itu belajar dan berkacalah pada kultur yang kita miliki, yaitu daya juang.

Menurutnya, pertanyaan krusial menggelitik adalah bagaimana bisa survive pada pekerjaan baru di masa depan sementara untuk pekerjaan yang sekarang masih berada pada seputaran isu tidak siap bekerja, tidak relevan dan lain sebagainya.

Prof Syawal mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah seluruh tatanan hidup masyarakat. Mengubah cara berpikir, cara berinteraksi yang akhirnya berdampak pada kesehatan, pendidikan, ekonomi, agama, sosial, budaya dan seluruh lini peradaban manusia.

“Sejatinya, pandemi seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Bila hidup kita akan berdampingan untuk beberapa saat dengan covid, maka daya juang untuk hidup sehat bahkan semua faktor internal dan eksternal di luar tubuh kita yang memberi dampak sehat akan kita eksplorasi sebaik mungkin,” ujarnya.

Relevan

Cara berpikir seperti ini, menurunya, yang sangat relevan dimiliki dalam rangka menyongsong berbagai perubahan yang akan terus terjadi, baik oleh tuntutan kebutuhan maupun oleh lompatan teknologi yang dapat saja berkembang atas kreasi umat manusia.

Pertanyaan yang amat sangat krusial adalah setelah menjadi lulusan Diploma, S1, S2 atau S3, kemampuan apa yang secara terus relavan diasah dan dimiliki sehingga tangguh menghadapi masa depan? The 4 C’s and The 6 C’s harus dikembangkan oleh diri wisudawan.

Konstruksi hirarkis dari 4 C (Critical Thinking, Comunication, Collaboration dan Creativity) menunjukkan bahwa kreativitas terjadi dari interaksi yang solid antara berpikir tingkat tinggi, keandalan berkomunikasi dan kegigihan untuk bekerja sama.

Formula konstruktif ini menunjukkan bahwa proses pembentukan ke empat keterampilan ini memerlukan hirarkhi dan dilakukan sedini mungkin.

Berpikir tingkat tinggi yang telah dibakukan sebagai warisan terpenting pendidikan akan sangat menentukan kualitas kehidupan beragama, bersosial, berdemokrasi, berbagsa dan bernegara. Bila menggunakan penalaran algoritmis, kemiskinan itu bermula dari cara berpikir yang berujung pada cara bekerja.

Didukung C5

Untuk lebih memantapkan kreativitas berkembang, maka perlu didukung C5 (Computational Thinking) dan C6 (Compassion).

Computational thinking terdiri dari abstraction (focus pada informasi penting, abaikan detail yang tidak relevan), algorithm (kembangkan solusi- Langkah demi Langkah-atau aturan untuk menyelesaikan masalah).

Pattern recognition (cari kesamaan diantara dan di dalam masalah), decomposing (urai masalah atau sistem yang kompleks kedalam bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditemukan akar masalahnya).

Lebih jauh katanya, khusus untuk Indonesia bahwa kemiskinan itu sangat kontradiktif dengan potensi alam yang sangat luar biasa. Bangsa ini masuk di jajaran negara makmur. Namun, potensi yang luar biasa ini tidak serta merta memberi kesejahteraan bagi segenap rakyat sebab sesuai data BPS bahwa jumlah rakyat miskin masih mencapai 24,79 juta.

Karena pergeseran dari Resource Driven Economy/ Efficiency Driven Economy Bangsa dengan “keterbatasan pengelolaan” potensi IPTEK dan INOVASI menuju Innovation Driven Economy. Bangsa INOVATIF yang menguasai IPTEK, mandiri, dan berdaya saing global adalah peluang sekaligus tantangan ini.

Inovasi

Bagi wisudawan tentu memberi peluang untuk terus berinovasi dan secara langsung dapat memilih sektor yang berada dalam areal interest masing-masing.

Penggerak utama dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang adalah tingginya produktivitas, kemajuan inovasi, dan peningkatan pendapatan riil yang juga akan memberi peluang bagi generasi untuk menata ulang seluruh kompetensi yang bersesuaian.

Indeks Inovasi Global Indonesia (2019) yang berada pada posisi dua terendah se-ASEAN (negara tetangga di ASEAN tertinggi adalah Singapura dan Malaysia) juga kontradiksi dengan potensi anak-anak Indonesia, oleh sebab itu eksplorasi dan pemanfaatan 6 C’s menjadi pilihan untuk menempatkan lulusan PT sebagai agent of economic development.

“Saya yakin seluruh wisudawan yang diwisuda saat ini dan seluruh alumni Unimed, dapat hidup sukses berkarir dimanapun, karena sesungguhnya kita Unimed telah memberikan bekal dan kompetensi yang cukup untuk berkarir di dunia kerja. Sebagai pendukung keberhasilannya adalah mari bentuk diri saudara semua untuk memiliki daya juang dan kreativitas berpikir kritis yang baik,” katanya (m19)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2