PROF. SYAHRIN: PARA SARJANA JANGAN GAMANG MENGHADAPI MASA DEPAN

  • Bagikan
  MEDAN, ( Waspada); Para sarjana harus hadir di tengah masyarakat untuk memajukan bangsa dan peradaban karena mereka adalah manusia yang tercerahkan untuk menjadi pelita dan mendinamisasi masyarakatnya, sambil mengutip ayat al-Qur’an surah at- Taubah ayat 122.
   Demikian disampaikan Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, Koordinator Kopertais Wilayah Sembilan saat memberi kata sambutan pada Wisuda Sarjana Tahap 2 Tahun 2021 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

   Lebih Jauh Prof. Syahrin mengatakan bahwa terdapa 47 perguruan tinggi Islam Swasta di Sumatera Utara dengan 36.000 mahasiswa, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi primadona Koopertais. 

3 Tantangan Kesarjanaan Indonesia,
Prof. Syahrin, ahli pemikiran Islam itu mengedepankan bahwa kini kesarjanaan Indonesia menghadapi tiga tantangan. Pertama, tantangan keilmuan. Sebab, pasca kolonialisme masyarakat timur menghadapi sekularisasi pendidikan dan keilmuan yang ditandai antara lain dengan pemisahan pendidikan menjadi pendidikan umum dan pendidikan agama.

Juga terjadi ya pemisahan ilmu umum dan ilmu agama. Padahal, menurutnya sumber ilmu dan Maha Guru semua ilmu adalah satu, Allah Swt.
Solusi untuk tantangan pertama ini adalah upaya sungguh-sungguh dari semua perguruan tinggi Islam melaksanakan integrasi ilmu, integration of knowledge atau Wahdatul Ulum, sihingga pada hakekatnya ilmu itu adalah satu meski dapat dikatagorikan menjadi Islamic Sciences dan Islamic Studies.


Tantangan kedua, kegamangan sebagian sarjana menghadapi masa depan mereka. Hal ini terjadi akibat perubahan struktur dan ketersiaan kerja yang mengalami perubahan yang luar biasa.
Seperti diketahui, demikian Prof. Syahrin, Bahwa dengan transformasi IT dunia telah kehilangan lebih kurang 25.000 jenis lapangan kerja. Akan tetapi pada saat yang sama dunia telah menghadirkan 40.000 lapangan kerja baru.

Koordinator mengingatkan agar para sarjana yang diwisuda ‘silakan memasuki lapangan kerja’ baru itu. Akan tetapi perlu diketahui bahwa 40% dari lapangan kerja baru dunia itu hanya relevan bagi mereka yang memiliki talenta.
Sembari mengutip petunjuk Bapak Presiden Jokowi, selama ini hanya 20% lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai bidang studi ya. Selebihnya bekerja pada sektor lain sesuai talentanya.


Kenyataan ini memaksa kita untuk dilakukannya pengembangan talenta secara serius di seluruh perguruan tinggi.
Tantangan ketiga, menurut Koordinator adalah kurangnya kemamlpuanblulusan perguruan tinggi untuk mengimplementasi ilmu-ilmu mereka akibat pendidikan yang sering hanya mengajarkan teori dan konsep, sangat sedikit menginternalisasi kemampuan dan ketrampilan implementasi ilmu.


Untuk meningkatkan konfidensi dan menghilangkan kegamangan para lulusan perguruan tinggi menghadapi masa depan, diperlukan keseriusan setiap perguruan tinggi menerapkan integrasi ilmu, integration of knowledge, atau wahdatul ulum.
Upaya itu relevan dengan gagasan kampus merdeka dan merdeka belajar.
Di akhir sambutannya Koordinator menyampaikan selamat kepada para wisudawan sembari mempersilahkan mereka untuk hadir dalam pengembangan masyarakat, pembangunan peradaban.(m28)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *