Waspada
Waspada » Pengadilan Diminta Segera Eksekusi Tanah Madrasah Arabiah
Medan

Pengadilan Diminta Segera Eksekusi Tanah Madrasah Arabiah

HAKIM Gosen Butarbutar (memakai batik) bersama para pihak saat menggelar sidang lapangan di Jl Kuda, Medan. Masyarakat minta eksekusi tanah Madrasah Arabiah segera dilakukan. Waspada/Rama Andriawan
HAKIM Gosen Butarbutar (memakai batik) bersama para pihak saat menggelar sidang lapangan di Jl Kuda, Medan. Masyarakat minta eksekusi tanah Madrasah Arabiah segera dilakukan. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Masyarakat Pembela Tanah Wakaf (MPTW) mendesak Pengadilan Negeri (PN) Medan segera eksekusi tanah Madrasah Arabiah Islamiah di Jl Kuda, Medan.

Tanah yang dulunya merupakan wakaf milik masyarakat itu, kini sudah berubah jadi rumah pribadi.

Meski sudah dinyatakan berkekuatan hukum tetap sejak tahun 2008, namun upaya eksekusi tanah Madrasah Arabiah terus tertunda, karena pemilik  rumah terus melakukan gugatan balik.

“Ini sebenarnya sudah final. Sejak 2001 diputus di PN Medan kita menang. Mereka banding di PT Medan kita juga menang. Di MA juga kita menang atas kasasinya,” kata Abdul Salam Karim B, SH, kuasa hukum warga pemilik tanah wakaf, di sela sidang lapangan di Jl Kuda, Jumat (24/1)..

Dijelaskan, hal yang sama saat di PK, juga menang. Jadi sebenarnya tidak ada lagi upaya untuk menggugat ke bawah dengan objek yang sama dan tergugat yang sama,” terangnya.

Surat peringatan pengosongan secara sukarela (aanmaning) juga sudah keluar tahun 2014, tetapi tetap saja pemilik rumah terus berulang-ulang melayangkan gugatan, yang diduga hanya untuk memperlambat eksekusi.

“Harusnya bisa dilakukan eksekusi. Ini juga dasarnya, sesuai dengan penetapan eksekusi No.06/ Eks 2014/270/Pdt.G/2000/PN.Mdn tanggal 18 Juli 2014,” ujarnya.

Untuk itu, masyarakat berharap pengadilan bersikap adil dan kembali mengembalikan tanah wakaf ke masyarakat.

“Karena perkara ini sudah terlalu lama, sudah 20 tahun tidak ada kepastian hukum kepada masyarakat yang sudah memenangkan terhadap kasus ini,” ungkapnya.

Abdul Latif Balatif SE, salah salah satu yang mewakili masyarakat mengatakan, Madrasah Arabiah Islamiah ada sejak 1935. Sudah cukup banyak para pendahulu yang sudah meninggal, yang dulunya ingin merebut kembali tanah wakaf itu.

Kemudian perjuangan terus dilanjutkan dari tahun ke tahun.

“Lihat saja bagaimana masyarakat sangat antusias. Masyarakat ingin tanah ini kembali  dipakai untuk gedung serbaguna setiap bulan puasa, juga digunakan untuk Salat Tarawih dan Idul Fitri. Kami merindukan suasana sekolah madrasah dulu,” katanya.

Pada sidang lapangan itu, hakim ketua Gosen Butarbutar, disaksikan oleh para pihak melihat tanah wakaf bekas madrasah yang kini jadi rumah permanen dan melakukan pengukuran objek yang dimaksud dalam perkara.

Pada perkara ini, pihak madrasah sebagai tergugat diantaranya, H. Usman Ahmad Balatif, Abdul Naser Bahadjadj, alm. Mubarak Azis digugat para penggugat yang terdiri dari Yayasan Sech Oemar Bin Salmin Bahadjadj, Ali Umar Bin Salmin Bahadjadj, Every, Lim Sun San, Oei Giok Leng dan Go Tiong Tjho. (Cra)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2