Waspada
Waspada » Pengabdian Masyarat, Dosen Fakultas Pertanian USU Inisiasi Pemulihan Petani Korban Erupsi Sinabung
Medan

Pengabdian Masyarat, Dosen Fakultas Pertanian USU Inisiasi Pemulihan Petani Korban Erupsi Sinabung

PETANI salak di Desa Mardingding Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo saat melakukan pertemuan bersama Tim LPPM USU rangkaian pengabdian masyarat. Waspada/Ist
PETANI salak di Desa Mardingding Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo saat melakukan pertemuan bersama Tim LPPM USU rangkaian pengabdian masyarat. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Melalui rangkaian pengabdian masyarat, dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan iniasi pemulihan penghidupan petani korban erupsi Gunung Sinabung melalui pengembangan agroindustri berbasis salak. Kegiatan yang telah dilakukan ditahun 2019 tersebut untuk membangkitkan semangat petani salak untuk mendapatkan keuntungan dari produksi salak yang berkualitas.

Ketua Tim Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (LPPM USU), Ir Yusak Mayunianta MP, mengatakan, pengabdian masyarakat ini sebagai rangkaian pengabdian masyarakat ditahun 2018 yang telah sukses berjalan di Desa Kutambaru Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo dan dilanjutkan ditahun 2019 di Desa Mardingding yang mulai tahun 2000an petani sudah menanam salak pondoh di wilayah desa dan ternyata cukup berhasil.

“Tapi sayangnya pengembangan komoditas salak di Desa Mardingding belum berjalan optimal karena masih dilakukan dengan metode yang sederhana. Petani menjual salak dalam bentuk buah segar ke Pasar Berastagi hingga ke Medan. Sering terjadi harga per kg salak terlalu rendah dan petani tidak dapat menikmati keuntungan dari usaha tani salak,” ujarnya kepada Waspada, Minggu (12/1).

Di sisi lain, jelasnya, salak merupakan tanaman tahunan yang memiliki kontribusi yang bersifat kontinyu dan berjangka panjang dalam pembentukan pendapatan keluarga petani. Salak yang terpapar awan panas dan debu vulkanik pada awalnya mengalami tekanan pertumbuhan atau kerusakan tanaman tetapi akan pulih kembali pada beberapa waktu kemudian. Apalagi, potensi lahan tersedia di Desa Mardingding baik dari sisi luasan maupun kesesuaian lahan bagi pengembangan salak relatif besar.

“Mempertimbangkan potensi produksi salak dalam jangka panjang, daya tahan salak terhadap erupsi serta didorong oleh keinginan meningkatkan nilai tambah produk salak maka melalui hasil runggu yang difasilitasi Tim Pengabdian LPPM USU, petani salak Desa Mardingding menyepakati dan memilih salak sebagai entry point pemulihan penghidupan petani Desa Mardingding yang menjadi korban Erupsi Sinabung,” ucapnya.

Untuk itu sesuai dengan kesepakatan, ungkap Yusak, maka pengabdian masyarakat tersebut dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan diskusi peluang wirausaha agroindustri salak, pelatihan pengolahan salak, pelatihan pengemasan dan labeling, pelatihan manajemen produksi hasil olahan berbasis salak, pembentukan kelompok usaha agroindustri salak, persiapan sertifikasi produk, review pengabdian dan promosi produk.

“Hasil pengabdian yang telah dilakukan itu mendapat respon yang sangat baik, serta secara signifikan pengabdian benar-benar telah berhasil membawa dampak peningkatan pendapatan bagi para ibu rumah tangga. Tim Pengabdi juga terus mendorong petani untuk mempromosikan produk mereka. Secara umum hasil evaluasi memberikan gambaran bahwa proses pengabdian berjalan dengan lancar dalam arti pencapaian target-target kegiatan terkait waktu pelaksanaan, jumlah peserta kegiatan, kualitas output setiap tahapan kegiatan, dampak kegiatan dan respon masyarakat, telah sesuai yang diharapkan yakni adanya peningkatan pengetahuan tentang peluang usaha agroindustri berbasis salak,” tuturnya. (cyn)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2