Penanganan Covid-19 Harus Miliki Strategi Hulu Dan Hilir

Penanganan Covid-19 Harus Miliki Strategi Hulu Dan Hilir

  • Bagikan
PERHIMPUNAN DOKTER UMUM INDONESIA. Untuk memutus mata rantai dan menekan jumlah dalam penanganan kasus pandemi, pemerintah harus memiliki strategi hulu dan hilir. Ilustrasi
PERHIMPUNAN DOKTER UMUM INDONESIA. Untuk memutus mata rantai dan menekan jumlah dalam penanganan kasus pandemi, pemerintah harus memiliki strategi hulu dan hilir. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Untuk memutus matarantai dan menekan jumlah penanganan pandemi Covid-19, pemerintah harus miliki strategi hulu dan hilir.

Penanganan Covid-19 harus miliki strategi hulu dan hilir agar pandemi ini bisa dicegah penularannya.

Strategi hulu, artinya dimana pemerintah melakukan penguatan edukasinya, baik pencegahan sakit,pencegahan dini dan pencarian kasus Covidnya. Dari mulai RT/RW, kelurahan maupun kecamatan.

Bila kita kuat penangan di hulu maka tujuan memutus rantai dapat ditekan sedini mungkin.

Sedangkan strategi hilirnya adalah rumah sakit. Di mana setiap kabupaten harus memiliki rumah sakit khusus sebagai tempat berobat.

Sementara setiap provinsi juga harus memiliki rumah sakit khusus rujukan Covid-19 ini,jelas Reinaldi.

Ini sangat penting dilakukan termasuk dalam pelaksanaan strategi ini.

Di mana pemerintah harus menetapkan kebijakan di setiap kabupaten memiliki satu rumah sakit khusus yang hanya menangani pasien Covid-19 tidak pasien lain.

Dan satu rumah sakit di provinsi yang juga khusus menangani proses pasien Covid tanpa pasien lain.

Dan rumah sakit di provinsi yang menjadi rumah sakit khusus menangani Covid ini juga menjadi rujukan dari rumah sakit dari berbagai daerah.

Terutama bila kondisi pasien Covid kasus sedang dan berat.

Demikian antara lain terungkap menangani kasus Covid sebagai upaya memutus rantai penyebaran pandemi yang sampai saat ini belum berakhir.

Pendapat itu diungkapkan Prof Reynaldi dokter spesialis paru dari rumah sakit Persahabatan Jakarta yang juga penanggung jawab nasional dengan WHO dalam penelitian vaksin.

Dalam acara virtual dengan insan medis dari berbagai persatuan dokter di Indonesia tersebut juga menghadirkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy sebagai salah satu nara sumber yang berlangsung, Sabtu, (25/7)

Pelaksanaan seminar virtual tersebut diprakarsia Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) pusat dengan salah satu temanya “Pandemi Belum Tamat, Banyak Dokter Yang Telah Wafat”.

Lebih jauh dikatakan Reinaldi, bahwa rumah sakit khusus untuk menangani pasien Covid tidak boleh dicampur adukkan dengan pasien yang bukan Covid.

Seperti sekarang ini yang mana banyak rumah sakit swasta ikut menangani pasien Covid.

Tapi, juga menerima atau menagani pasien lain yang bukan Covid. Padahal pandemi ini adalah seharusnya penuh ditangani pemerintah.

Kenapa dokter di Indonesia dan perawat yang tergabung dalam tim medis yang wafat dalam proses memberikan pelayanan Covid cukup tinggi di Indonesia?

Padahal kita semua tahu virus ini menyangkut saluran pernapasan. Dan kita memahami saat bernafas kita menghirup oksigen yang disitu ada bakteri, virus.

Cepat Menular

Sementara di rumah sakit yang menjadj rujukan menangani pasien Covid tapi juga menangani pasien yang bukan Covid.

Ini membuka kemungkinan orang yang bersenggolan dengan bukan Covid. Sebab, 85 persen orang yang bukan Covid bersenggolan dengan Covid akan cepat menularkan.

Bila ini tidak cepat ditangani pemerintah, maka rumah sakit akan menjadi salah satu spentrum sebagai penular dari virus ini. Ini adalah kekeliruan kita,papar Reinaldi.

Juga lanjut Reinaldi, bila penanganan ini setengah-setengah maka hasilnya juga setengah-setengah.

Bila edukasi atau strategi hulu juga dilakukan tidak maksimal maka sulit kita nenekan jumlah yang terpapar dan memutus rantai Covid ini.

Lagi menurut Reinaldi, para dokter yang telah berumur 60 tahun seharusnya tidak boleh lagi ikut menangani pasien Covid.

Biarlah para dokter muda yang menanganinya dengan melengkapi APD level tiga.

“Bila semua ini dapat diterapkan maka para dokter dan tim medis di rumah sakit berlabelkan Covid ini fokus menangani pandemi ini sehingga audit yang dilakukan akan lebih efisein”,sebut Reinaldi.

Kita juga mengharapkan tingkat zero untuk memutus korban para dokter kita yang gugur dalam proses penanganan Covid ini bisa tercapai.

Pemerintah jangan takut bila masalah kesehatan ini dapat tertangani dengan baik, itu artinya, para dokter juga sudah membantu menangani perekonomian bangsa ini,ucap Prof Reinaldi

Menyikapi masukan ini Menteri Koordinstor Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PKM) RI Muhadjir Effendy mengatakan, strategi hulu dan hilir ini akan menjadi masukan bagi pemerintah.

Itu perlu dilakukan meski saat ini pemerintah juga sudah memiliki beberapa rumah sakit khusus yang ditetapkan hanya untuk menangani pasien Covid ini.

Menteri mengakui untuk rumah sakit khusus memang belum maksimal diterapkan di Indonesia.

Masukan ini akan menjadi pertimbangan sekaligus akan menjadi masukan bagi saya dan kementerian terkait.

Sebab, kita terus menerima masukan bahkan kritikan untuk memperbaiki kekurangan sampai pandemi ini berakhir,ujar menteri.

Displin

Sekaitan banyaknya jumlah tenaga medis yang wafat saat bertugas, Menteri juga meminta kepada tim dokter yang menangani Covid untuk disiplin memakai alat pelindung diri (APD) level tiga.

Agar benar-benar dapat melindungi para dokter yang menangani pasien Covid.

Sebab, bila para dokter atau perawat yang tertular dan bahkan menjadi korban pandemi ini.

Itu artinya, kita sangat kehilangan tenaga yang sangat berharga untuk membantu proses penanganan Covid-19 ini.

“Kita sangat mengharapkan tetap adanya laporan dari berbagai daerah kabupaten/kota, bila ada kekurangan APD secepatnya untuk melaporkan ke komite penanganan pandemi ini,ucapnya.

Sementara Ketua Umum Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Pusat Dr. Abraham Andi Padlan Patarai, MKes meminta pemerintah untuk melakukan langkah-langkah strategis dan konkrit dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Sekaligus meminta pemerintah untuk melakukan langkah konkrit dalam melakukan investigasi atas meninggalnya para dokter saat sedang memberikan proses pelayanan Covid-19

Dikatakan Abraham, merasakan miris yang mans saat pandemi ini telah kehilangan banyak dokter baik dokter spesialis maupun umum wafat saat bertugas menangani prosrs Covid.

Menteri mengakui, kerugian besar bagi pemerintah bila kehilangan tenaga medis yang saat ini sebagai ratu dalam peperangan melawan pandemi ini.

Muhadjir mengatakan, tetap menerima masukan dari para tim medis di lapangan dalam memberikan pelayanan kepada pasien medis covid-19 dan tetap dibutuhkan komunikasi dari berbagai perhimpunan dokter di Indonesia.

Pemulihan Ekonomi

Dalam seminar tersebut Menteri juga mengungkapkan kronologis bermulanya Covid-19 masuk ke Indonesia hingga saat kebijakan terbentuk Komite untuk penanganan Covid-19.

Menteri juga mengungkapkan dampak dari Covid-19 kepada sektor ekonomi yang besar.

Oleh Komite Penanganan Covid-19, lanjut menteri, selain kesehatan juga melakukan pemulihan ekonomi (recovery).

Kajian dan pertimbangan pemerintah dalam merecovery perekonomian, sebutnya, karena dikuatirkan akan terjadi resesi ekonomi bila pemerintah tidak membuka akses sektor meski tetap melaksanakan protokol kesehatan.

“Realita di lapangan, bila pemerintah tidak membuka pemulihan ekonomi dikuatirkan resesi ekonomi akan menjadi terbuka lebar.

Karena itu pilihan pemerintah sembari merecovery ekonomi tapi kita juga tetap memperbaiki kesehatan untuk menekan tingkat kematian atau menekan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 ini,ujarnya

Untuk tenaga medis sebagai garda terdepan adalah yang yang paling rentan terkena dampak Covid ini. Karena itu disarankan kepada tim medis untuk melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat dengan menggunakan

Alat Pelindung Diri (APD) level tiga agar benar-benat aman, ucap menteri.

Sementara acara virtual oleh moderator Dr. Riswanto menyebutkan terdata jumlah tenaga medis yang wafat saat melayani pasien Covid-19 berjumlah 68 orang. 30 orang dokter spesialis, 35 dokter umum dan perawat. (clin)

  • Bagikan