Waspada
Waspada » Pemuda Peduli  Nelayan Prihatin Pukat Trawl Merajalela 
Medan

Pemuda Peduli  Nelayan Prihatin Pukat Trawl Merajalela 

SEJUMLAH kapal nelayan tradisional tertambat di tangkahan nelayan Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, belum lama ini. Pemuda Peduli  Nelayan prihatin pukat trawl yang makin merajalela. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
SEJUMLAH kapal nelayan tradisional tertambat di tangkahan nelayan Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, belum lama ini. Pemuda Peduli  Nelayan prihatin pukat trawl yang makin merajalela. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

BELAWAN (Waspada): Pemuda Peduli Nelayan Sumatera Utara prihatin melihat kapal-kapal pukat trawl semakin merajalela menangkap ikan di perairan Selat Malaka khususnya di Pantai Timur Sumatera Utara.

Pemuda Peduli Nelayan prihatin pukat trawl merajalela, yang mengakibatkan nelayan tradisional dan skala kecil makin sengsara. Karena, hasil laut dikuras oleh para pemilik kapal pukat trawl.

Maraknya kapal-kapal pukat trawl atau pukat harimau itu yang banyak bersandar di Pelabuhan Perikanan Gabion Belawan dan dimiliki oleh mayoritas pengusaha sipit tersebut membuat Pemuda Peduli Nelayan Sumatera Utara akan melakukan aksi unjuk rasa.

Mereka akan turun ke jalan-jalan guna memprotes keberadaan kapal-kapal pukat trawl tersebut.

Sasaran demo pertama adalah kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, disusul DPRD Sumut dan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara pada Selasa (11/2) mendatang.

Penanggungjawab aksi unjuk rasa, Adam Malik menyebutkan, selain menentang keberadaan kapal-kapal pukat trawl, massa aksi unjuk rasa juga mendesak intansi terkait agar menghentikan praktik alat tangkap bouke ami dan teri lingkung.

Alasannya, praktik itu telah melanggar Undang Undang No 45 tahun 2009 tentang perikanan.

“Keberadaan kapal-kapal pukat trawl yang semakin merajalela itu membuat nelayan tradisional semakin menjerit, karena hasil tangkapan ikan di laut semakin berkurang.

Bahkan, pukat trawl juga membuat rusaknya ekosistem dan biota laut,” jelas Malik saat dikonfirmasi Waspada, Jumat (7/2) terkait menjelang aksi unjuk rasa tersebut.

Sengsara

Oleh karena itu, tambah Malik, seharusnya PSDKP, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumut serta Badan Keamanan Laut (Bakamla) memiliki peranan penting dalam menertibkan praktik kapal-kapal pukat trawl yang semakin membuat nelayan tradisional sengsara.

“Kami akan melakukan aksi demo sekaligua menyampaikan sejumlah tuntutan ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, gedung DPRD Sumut dan Kejatisu,” ujar Malik, yang juga anak nelayan tradisional ini.

Menurutnya, aksi demo dimaksud diharapkan dapat mencari jalan keluar bagaimana cara mengatasi merajalelanya pukat trawl. 

Dikabarkan, kapal trawl beroperasi setiap hari tanpa menghiraukan keluhan nelayan tradisional.

Sebelumnya, masyarakat pernah demo menolak keberadaan kapal trawl, tapi berhenti operasi beberapa saat saja dan akhir-akhir ini beroperasi kembali. (h04)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2