Pemerintah Perlu Bentuk Cluster Belajar Di Masa Pandemi Covid-19

Pemerintah Perlu Bentuk Cluster Belajar Di Masa Covid-19

  • Bagikan
PENGAMAT Kebijakan Publik Dr H Sakhyan Asamara MP. Pemerintah perlu bentuk cluster belajar di masa pandemi Covid-19. Waspada/Ist
PENGAMAT Kebijakan Publik Dr H Sakhyan Asamara MP. Pemerintah perlu bentuk cluster belajar di masa pandemi Covid-19. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pengamat Kebijakan Publik Dr H Sakhyan Asamara MP (foto) mengatakan, pemerintah perlu bentuk cluster (gugus) tempat belajar di masa Covid-19.

Pemerintah perlu bentuk cluster belajar di masa Covid-19 jika belum berani mengambil risiko penularan pandemi itu di sekolah.

“Untuk pelajar, diberlakukan sistem secara berkelompok sesuai tempat tinggal, dengan membentuk cluster-cluster tempat pembelajaran, ” kata Dr H Sakhyan.

Dengan demikian, lanjut Sakhyan, guru tidak perlu datang ke sekolah, melainkan datang ke lokasi tempat tinggal penduduk,”

Kepada Waspada, Minggu (23/8), Dosen Senior Fisip USU itu menuturkan, dengan sistem protokol kesehatan yang ketat di lingkungan tempat tinggal, maka proses belajar di rumah secara berkelompok dapat dilakukan.

Namun diakui, hal ini bersifat sementara, menunggu antisipasi Covid 19 dapat diatasi.

Sedangkan untuk kalangan mahasiswa yang belajar di kampus-kampus, dapat diterapkan belajar tatap muka juga, dengan protokol kesehatan yang ketat.

Menurutnya, dosen dan mahasiswa boleh berada dalam satu ruang dengan tempat duduk yang sesuai dengan protokol kesehatan.

“Di setiap pintu masuk ruang kuliah, disiapkan alat pencuci tangan. Cara masuk kelas juga diatur tidak bergerombol, ” katanya.

Artinya. tertib satu per satu dikomandani oleh masing-masing Ketua kelas atau yang disebut dengan Komting (Komisaris Tingkat atau Komandan Tingkat).

Dosen mengajar dengan media infocus, sehingga jarak antara mahasiswa dan dosen dapat terjaga dengan baik.

Kebijakan Baru

Seberapa efektif belajar sistem online atau dalam jaringan (daring) di masa Covid-19, Dr H Sakhyan, mengatakan, harus terlebih dahulu dilihat pengelompokannya.

Yakni, kalangan siswa yang mencakup pelajar SLTA sampai ke pendidikan taman kanak-kanak dan sistem belajar untuk kalangan mahasiswa.

“Ini tentu saja berbeda, karena sistem pembelajaran di perguruan tinggi lebih banyak mandiri daripada tatap muka, dibanding untuk kelompok siswa yang bertatap muka,” katanya.

Namun sistem daring yang diterapkan pada kedua kelompok belajar tersebut tetap tidak efektif jika dibandingkan dengan sistem belajar tatap muka.

“Teori komunikasi mengatakan bahwa efektivitas komunikasi itu jauh lebih tinggi melalui komunikasi tatap muka jika dibandingkan dengan komunikasi lewat media,” katanya.

Menurut Dr H Sakhyan, sistem belajar online adalah sistem belajar dengan komunikasi bermedia, meski sekarang disebut dengan new media dengan berbagai variasinya.

Namun tetap juga disebut sebagai komunikasi bermedia, yang efektivitasnya di bawah dari komuniasi tatap muka.

Oleh sebab itu, jika belum berani mengambil resiko penularan di tempat belajar, maka pemerintah harus segera menyusun suatu kebijakan baru.

“Kita tentu saja berharap pemberlakuan cluster (gugus) tempat belajar seperti yang saya sebutkan di atas berjalan efektif, meski sifatnya sementara,” ujarnya.

Menyinggung harapan terkait pendidikan di masa pandemi, Ketua STIKP Medan berharap segera dapat diatasi.

“Informasinya vaksin untuk Covid-19 sudah ditemukan dan mulai diproduksi,” katanya.

Juga dengan adaptasi kebiasaan baru yang konsisten dan ketat, turut membantu menurunnya tingkat keterpaparan pandemi itu. (cpb)

  • Bagikan