Waspada
Waspada » Pelaku Usaha Perlu Strategi Bertahan
Medan

Pelaku Usaha Perlu Strategi Bertahan

PRESIDEN Direktur PT QIMS Intrasindo, Achmad Tarmizi Hutasuhut, saat memparkan integritas, strategi, sistem SDM untuk peningkatan produktivitas. Para pelaku usaha perlu memiliki strategi bertahan. Waspada/Anum Saskia
PRESIDEN Direktur PT QIMS Intrasindo, Achmad Tarmizi Hutasuhut, saat memparkan integritas, strategi, sistem SDM untuk peningkatan produktivitas. Para pelaku usaha perlu memiliki strategi bertahan. Waspada/Anum Saskia

MEDAN(Waspada):  Para pelaku usaha perlu strategi bertahan di era industri 4.0, jika tidak ingin usahanya bangkrut atau jalan di tempat.

Pointer pelaku usaha perlu strategi bertahan mengemuka saat berlangsungnya diskusi yang diselenggarakan Forum Manajemen, di Medan, Sabtu (22/2).

Adapun temanya “Peningkatan Produktivitas dengan Integrasi Strategi, Sistem dan SDM (Triple S) di Era Revolusi 4.0”, yang dirangkai dengan anniversary PT QIMS Intrasindo ke 18,

Pembicara pakar produktivitas, Prof Dr Ir Sukaria Sinulingga M Eng, Presiden Direktur PT QIMS Intrasindo, Achmad Tarmizi Hutasuhut dan Founder Indonesia Light Institute, Syahrul Komara.

Dalam paparanya, Achmad Tarmizi Hutasuhut menyebutkan dalam membangun bisnis,  pelaku usaha perlu strategi bertahan dalam merumuskan, mengimplementasikan serta mengevaluasi keputusan-keputusan lintas fungsional untuk mencapai tujuan.

Sedangkan masalah harga kata dia, produk dari luar negeri bisa mengalahkan produk lokal. “Masalahnya itu adalah di prodiktivitas. Produktivitas itu adalah output yang besar, input yang kecil.

Efisiensi itulah sebenarnya konsep diangkat topik ini agar perusahaan-perusahaan itu bisa meningkatkan produktivitasnya.

Jadi bisa bersaing dari sisi harga karena efisien dan mutunya bisa lebih baik ke depannya. Maka, pelaku usaha harus berpikir efesien dalam meningkatkan produktivitasnya.

Terpadu

Achmad Tarmizi melanjutkan, untuk meningkatkan produktivitas tadi diperlukan strategi terpadu dengan sistem dan SDM.

“Jadi strategi harus benar dulu, langkah kegiatan apa yang dilakukan untuk mencapai meningkatkan output yang produktif tadi harus benar arah strateginya.

Kemudian dibangun sistemnya proses-proses yang langkah-langkahnya, itu harus tepat. Harus jelas kalau bisa masuk ke digitalisasi, biar lebih cepat lebih akurat,” sebutnya.

Sekaitan dengan SDM dia juga mengingatkan harus ditingkatkan.

“Intinya, jangan strateginya dan sistemnya sudah bagus, namun SDM-nya tidak siap. Di sini harus ditingkatkan kompetensi dan komitmennya.

Dengan mencari orang-orang sesuai talenta sesuai dengan bakatnya. Kalau orang bakatnya main biola jangan suruh main gitar,supaya kita tetap bisa bersaing,”paparnya.

Pembicara, Syahrul Komara menyebutkan tidak sedikit perusahaan besar dan memiliki kualitas yang bagus, namun kolaps.

Saat ini sebutnya, sebagai pelaku usaha harus melihat permintaan pasar. Jangan konsumen dipaksa menerima produk yang ada.

Sebab dengan banyaknya pilihan saat ini membuat konsumen itu ‘benar-benar’ menjadi raja.

Sedangkan, Prof Sukaria menyebutkan dalam era industri 4.0 ini, jika bisnis konvensional maka prodiktivitas bagaimana memanfaatkan teknologi semakin mungkin oleh SDM yang ada.

“Kita tidak mungkin lagi bertahan dengan sistem kerja yang dilakukan selama ini. Namun memanfaatkan teknologi yang dengan SDM yang kompeten,” katanya.

Dengan adanya teknologi maka coast akan turun, efesiensi naik. Mau tak mau produktivitas akan naik kalau sdm betul-betul kompeten dengan teknologi yang digunakan.

Tanpa kompetensi, teknologi yang ada akan sia-sia. Sedangkan teknologi mahal, namun tidak produktif, jika SDM yang menghandle-nya tidak memiliki sense of belonging yang benar.

“Jadi teknologi itu tidak sekedar introduce, tapi latih dulu orangnya, sehingga dia tidak gegap teknologi,” ujarnya.(m37)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2