Pelaku Narkoba Mayoritas Pengangguran
banner 325x300

Pelaku Narkoba Mayoritas Pengangguran

  • Bagikan
PAKAR Sosial Dadang Dermawan Pasaribu. Dia mengatakan. umumnya pelaku narkoba baik itu pengedar atau pengguna itu mayoritas pengangguran. Waspada/Ist
PAKAR Sosial Dadang Dermawan Pasaribu. Dia mengatakan. umumnya pelaku narkoba baik itu pengedar atau pengguna itu mayoritas pengangguran. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Pakar Sosial Dadang Dermawan Pasaribu (foto) mengatakan, umumnya pelaku narkoba baik pengedar atau pengguna itu adalah mayoritas para pengangguran.

Pelaku narkoba mayoritas Pengangguran karena mereka tidak memiliki kegiatan positif atau pekerjaan untuk menahan jeratan barang haram tersebut.

Penilaian itu dikatakan Dadang menjawab Waspada, menyikapi Sumut sebagai pengguna narkoba urutan nomor satu di Indonesia, Rabu, (15/7) di Medan.

Menurut Dadang, ini adalah salah satu faktor sosial alasan mereka terjerat lingkaran barang haram ini.

“Jadi, bagaimana untuk mengantisipasi ini tidak lain bagaimana mereka bisa mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Karena itu, salah untuk mengurangi pelaku narkoba baik pengedar, pengisap atau pengguna narkoba itu adalah mengurangi pengangguran.

Terutama juga pada generasi muda yang dominan sebagai pengguna narkoba tersebut.

Tidak bisa dipungkiri pengguna narkoba tersebut umumnya pengangguran. Sekarang, yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah serius untuk menangani masalah pengangguran ini

“Saya tidak melihat masifnya pemerintah melihat kondisi sosial ini secara serius,” ucap Dadang.

Bila pengangguran ini tidak teratasi cenderung akan lebih memudahkan para generasi muda terpengaruh narkoba.

Itu terjadi karena tidak adanya pekerjaan dan tidak adanya keinginan bagi mereka untuk mengejar prestasi.

‘Sudah pasti dengan menganggur lebih cenderung bagi mereka terpengaruh dan terjerat akan barang haram ini,” ujarnya.

Sebabnya, lanjut Dadang, karena mereka memiliki banyak waktu untuk berkumpul dan melakukan pertemuan.

Tahun-tahun sebelumnya, banyak program yang dilakukan pemerintah dengan lembaga atau instansi yang bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

Tujuannya, untuk memberi peluang kepada masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan.

Pemerintah dalam hal ini sebagai penyedia anggaran dan bekerjasama dengan BLK dengan berbagai instansi tersebut.

Dengan melakukan pelatihan bagi calon tenaga kerja dengan berbagai keahlian selama tiga atau enam bulan.

Setelah itu mereka di perkerjakan ke pasar kerja di berbagai perusahaan atau keahlian seperti perbengkelan dan lainnya.

Tapi sekarang, ini jarang bahkan tidak terdengar BLK bekerjasama dengan instansi atau lembaga melakukan program ini seperti dulu, papar Dadang

Padahal, ini sangat membantu untuk mengurangi pengangguran dan akhirnya berpengaruh kepada penyakit sosial seperti pengguna narkoba.

Coreng Nama Sumut

Sumut peringkat pertama seperti yang diungkspjsn oleh Deputi Pemberantasan Narkotika BNN RI Irjen Pol Arman Depari.

Data dia peroleh hasil survei menyebutkan, Sumut sebagai provinsi paling banyak jumlahnya atau menjadi peringkat pertama pengguna narkoba.

Terutama pada generasu muda sebenarnya itu sudah mencoreng nama besar Sumut.

Bila dilihat secara umum, Ini kenapa, tidak lain ini disebabkan dua faktor.

Yakni,  kekosongan baik pencegahan, monitoring, pengendalian dan pengawasan dari keluarga, keagamaan, sosial dan kelemahan pemerintah.

Sehingga, dengan lemahnya pengendalian untuk pencegahan gampang mempengaruhi para pengguna barang haram ini tidak dapat dikendalikan.

Kedua menurut Dadang, Ini kenapa tidak lain karena lemahnya penegakan hukum sehingga tidak membuat para pengedar, pengguna ini jera. Efek jera masih lemah karena penegakan hukum yang lemah.

Dengan minimnya efek jera segi penegak hukum tidak membuat mereka jera.

Efek jera dalam konteks ini, Kita melihat tidak adanya efek jera dalam konteks ini.

Karena banyak orang yang yang terjerat narkoba, yang menghindari hukum badan, dengan melakukan rehabilitasi.

Setelah itu tidak ada sedikitpun tindakan hukum membuat masyarakat itu jera.

Dengan tidak adanya tindakan kelanjutan, maka pengguna narkoba tidak menurun atau berhenti.jumlah jumlah ini menurun atau berhenti. Justru, malah meningkat.

Itu artinya penegakan hukum masih lemah,ucap Dadang.

Kemudian, menurut Dadang lagi,kenapa Sumut dijadikan sasaran empuk para pengedar sehingga para pengguna pun terus meningkat, selain kedua faktor diatas tadi, Sumatera Utara, boleh dikatakan sebagai wilayah terbuka yang secara sosiologi, tempat mereka lebih leluasa melakukan pertemuan untuk melakukan transaksi pengedaran narkoba.

Kalau daerah lain misalnya Aceh boleh dikatakan lebih tertutup apalagi wilayah itu memiliki peraturan atau undang-undang lokal yang diterapkan meski bukan berarti di daerah itu tidak ada transaksi narkoba dan provinsi lainnya, tapi tidak seperti Sumut secara sosiologisnya lebih terbuka, tutupnya. (clin)

  • Bagikan