Pantun Harus Dilestarikan

Pantun Harus Dilestarikan

  • Bagikan
PANTUN. Ketua Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu Sumut, Tengku Ismail, menegaskan pantun merupakan potensi budaya yang harus dilestarikan, terutama oleh generasi muda. Ilustrasi
PANTUN. Ketua Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu Sumut, Tengku Ismail, menegaskan pantun merupakan potensi budaya yang harus dilestarikan, terutama oleh generasi muda. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Ketua Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu Sumut, Tengku Ismail, menegaskan pantun merupakan potensi budaya yang harus dilestarikan, terutama oleh generasi muda.

“Pantun memiliki potensi nilai yang sangat tinggi di dalam budaya maupun  seni, yang dapat dapat digunakan dalam banyak aspek, sehingga harus dilestarikan,” kata Ismail kepada Waspada, di Medan, Kamis (24/12).

Dia merespon keputusan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, UNESCO), yang telah menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, yang diumumkan di laman UNESCO, ich.unesco.org.

“Pantun, sebuah syair Melayu yang berima dalam lagu dan tulisan, baru saja ditorehkan ke dalam daftar #WarisanTakbenda. Selamat #Indonesia dan #Malaysia,” tulis UNESCO.

Terkait ini, Tengku Ismail, yang juga pemangku adat Melayu sekaligus pegiat pantun, menilai hal itu merupakan tantangan besar bagi generasi muda.

Sebab, pantun memiliki potensi nilai yang sangat tinggi di dalam budaya maupun  seni, yang dapat dapat digunakan dalam banyak aspek.

Sampaikan Aspirasi

Menurut Ismail, pantun dapat digunakan untuk menyampaikan aspirasi, kritik dan saran, dengan makna yang luas, namun dikemas dalam bahasa yang dapat diterima di kalangan sosial masyarakat, tanpa harus melakukan cara-cara anarkis.

Namun pantun juga merupakan potensi sekaligus jadi hempangan zaman, apabila budaya berbahasa pantun ini tidak dipersiapkan, dan dibiasakan menjadi asyik kepada generasi muda sebagai penerus.

Lebih-lebih dengan keputusan UNESCO, sehingga jadi tantangan baru pada generasi muda untuk lebih memahami apa makna yang terkandung di dalam pantun.

“UNESCO telah melihat potensi yang besar pada pantun, maka kita sebagai masyarakat maupun tokoh-tokoh adat bersama pemerintah, tidak cukup hanya dengan berpuas diri,”  kata Ismail.

Karena, lanjutnya, UNESCO menganggap ini budaya asli yang dimiliki Indonesia, sehingga patut dilestarikan berbahasa pantun, terutama oleh generasi muda.

Mulai dari pengenalan di keluarga, dari masyarakat lingkungan, maupun kegiatan sayembara-sayembara berbahasa pantun.

Training Dasar

Melalui Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu, pihaknya minta kepada generasi muda untuk senantiasa mengembangkan pantun, mulai dari dilakukannya training dasar untuk tahu menyampaikan pantun.

Kemudian, di mana meletakkan bahasa pantun itu, karena pantun banyak jenisnya, ada pantun adat, pantun agama, pantun muda-mudi maupun pantun teka-teki.

“Sebelum UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, kita telah fokus dalam pengembangan dan pelestarian bahasa pantun, mulai kita perkenalkan pantun melalui acara adat, pernikahan, maupun event-event apapun kita tetap selipkan konsep pantun di dalamnya,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan meskipun Medan maupun Indonesia sendiri multikompleks karena berbagai macam suku di dalamnya, namun seringkali di luar suku Melayu meminta untuk dapat memasukkan konsep berbahasa pantun dalam kegiatan pernikahan, dan syukuran.

Karena setelah melihat pantun, orang baru sadar bahwa pantun ini mengandung nilai seni yang tinggi, serta bahasa yang mudah untuk dicermati.

“Maka kalau kita ingin bersungguh-sungguh dalam pengelolaan dan pelestarian pantun ini, maka memang harus kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari kita, dan kami dari Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu membiasakan hal itu,” sambungnya.

Akhirnya tanpa disadari, orang yang melihat  memperhatikan dan menyadari bahwa pantun sebagai warisan budaya yang diwariskan para pendahulu yang tak ternilai harganya.

Langkah strategis selanjutnya, imbuh Ismail, pihaknya bersama para pegiat pantun beserta pemangku adat sebelumnya telah bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya  USU dengan menggelar workshop, dan praktik berbahasa pantun.

“Serta meletakkan adat istiadat dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan tahun depan budaya Melayu sudah dapat menjadi kurikulum,”  harapnya.

Hal itu dapat memperkuat dan mendalami unsur-unsur pantun yang ada di dalamnya, sehingga pantun sebagai warisan budaya tidak hilang tergerus oleh zaman.

“Ke depannya, kita juga berharap pemerintah bersama-sama  seluruh organisasi adat Melayu duduk bersama bicara terkait program dan gagasan konsep terkait pengembangan dan pelestarian berbahasa pantun,” tutup Ismail. (cmar)

  • Bagikan