Waspada
Waspada » Organisasi Nelayan Tak Mampu Protes Kapal Pukat Trawl
Medan

Organisasi Nelayan Tak Mampu Protes Kapal Pukat Trawl

Kapal-kapal pukat trawl yang setiap harinya mangkal di Gabion Belawan namun tak pernah ditangkap.Waspada/Ist
Kapal-kapal pukat trawl yang setiap harinya mangkal di Gabion Belawan namun tak pernah ditangkap.Waspada/Ist

BELAWAN (Waspada): Sejumlah nelayan kecil, nelayan tradisional dan aktivis peduli nelayan menyebutkan, meskipun banyak organisasi nelayan atau yang mengatasnamakan nelayan di kawasan pesisir Medan Utara dan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, namun tidak satu pun pengurus organisasi nelayan tersebut yang memprotes keberadaan kapal-kapal pukat trawl, pukat baukeami dan lamparan dasar.

“Seharusnya para pengurus organisasi nelayan atau organisasi yang membawa nama nelayan memprotes aktivitas kapal-kapal pukat trawl yang telah bertahun-tahun membuat seluruh nelayan berskala kecil dan nelayan tradisional sengsara karena hasil tangkapan ikan sangat minim,” sebut aktivis peduli nelayan Rahman Gafiqi SH kepada Waspada, Selasa (9/3) di tangkahan nelayan Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.

Dijelaskan Rahman, aktivitas kapal-kapal pukat trawl, kapal pukat bauleami dan pukat lamparan dasar selain membuat nelayan menderita karena minimnya hasil tangkapan juga membuat rusaknya ekosistem di laut dan merusak terumbu karang. Sudah saatnya nelayan sekarang ini harus disejahterakan karena sudah bertahun-tahun menderita.

“Seharusnya, para pengurus organisasi nelayan fokus pada upaya bagaimana caranya membuat nelayan sejahtera sesuai dengan program kerja utama pengurus organisasi sehingga program tersebut tidak hanya tertulis di atas kertas saja,” sebut Rahman.

Hal senada juga dilontarkan Syawaluddin ,50, nelayan kecil yang bermukim di Kecamatan Medan Marelan.

“Sudah 10 tahun saya jadi nelayan kecil namun tangkapan hasil laut sangat minim. Kapal-kapal pukat trawl  semakin merajalela karena aparat penegak hukum yang tergabung dalam Badan Keamanan Laut (Bakamla) tidak berani menangkap kapal-kapal pukat trawl tersebut,” tutur Syawal.

Diakui Syawal, permasalah nelayan kecil dan tradisional sangat kompleks. Tidak hanya soal keberadaan kapal-kapal pukat trawl, langkanya solar bersubsidi namun perhatian pemerintah sangat minim dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan kecil dan tradisional.

“Wali Kota Medan yang baru dilantik harus memperhatikan kesejahteraan nelayan sebagaimana janji-janji manisnya dulu saat melakukan kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wali Kota di kawasan pesisir Medan Utara,” ujar Syawal.

Perubahan

Sementara itu, Wak Zul ,60, sangat berharap kepada Wali Kota Medan yang baru bisa memberikan perubahan terhadap kondisi para nelayan di pesisir Medan Utara ini.

“Kapal-kapal pukat trawl adalah musuh utama para nelayan tradisional namun kami tidak bisa berbuat apa-apa meskipun dampaknya membuat kami semakin menderita berkepanjangan,” aku Wak Zul.

Oleh sebab itu, tambah Wak Zul, para nelayan tidak bisa menggantungkan nasibnya kepada sejumlah organisasi nelayan karena para pengurus organisasi nelayan tidak ada yang memprotes keberadaan kapal-kapal pukat trawl yang setiap harinya berpangkalan di gudang-gudang di kawasan Gabion Belawan. (m27)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2