OPD Di Medan Terus Berkolaborasi Turunkan Angka Stunting

  • Bagikan

MEDAN (Waspada):Angka Stunting di Medan saat ini masih tinggi meski persentansenya masih dibawah angka nasional yaitu 14 persen. Sedangkan Kota Medan kini berada di 0,46 persen. Kendati demikian untuk percepatan penurunan stunting ini, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di kota Medan terus bahu-membahu berkolaborasi untuk mengatasi persoalan kesehatan di masyarakat ini.

“Penanganan stunting sejauh ini sudah berkolaborasi dengan OPD terkait. Masing -masing OPD sudah bekerja dengan memiliki program khusus untuk percepatan penurunan stunting ini,” jelas Sub Koordinator Kesga dan Gizi Dinkes Medan, dr. Shereivia Faradillah saat ditanyai Waspada pada Rabu (25/5).

Ditambah lagi sebutnya kini sudah ada  kebijakan dana kelurahan sehingga masing-masing lokasi fokus (lokus) stunting sudah ada dananya untuk percepatan penurunan stunting.

“Dana kelurahan untuk penangan stunting ini diantaranya untuk pemenuhan sarana dan prasarana posyandu. Jadi pemantauan tumbuh kembang balita itu ujung tombaknya adalah di posyandu jadi posyandu harus dibereskan terlebih dahulu. Selain itu dana stunting di kelurahan ini juga untuk penyuluhan makanan tambahan kepada balita yang dibawa ke posyandu,” ungkapnya. 

Jumlah balita stunting berdasarkan data dari Dinkes Medan sebanyak 550 balita dari jumlah sasaran balita di Medan yaitu 119225 balita.

“Yang stunting Itu ada  550 balita, pravelensinya 0,46 persen masih dibawah angka nasional. Program nasional penurunan stunting 2024 diseluruh Kabupaten kota harus dibawah 14 persen. Medan memang sebelumnya jika berdasarkan hasil Survey SSGI, Kota Medan itu berada di angka 19,9 persen namun data riil kita saat ini  yakni 0,46 persen. Tahun 2024 kita optimis tercapai apalagi setiap OPD sudah berkolaborasi,” tegasnya.

Sementara itu, untuk Lokus stunting sendiri ada 63 lokasi,  paling tinggi ditemukan di Secanang, Belawan.  

“Disana banyak masyarakat ekonomi menengah kebawah kemudian sanitasi lingkungan disana juga bermasalah. Faktor penyebab stunting itukan banyak selain gizi, pola asuh, sanitasi,  dan juya akses kesehatan. Disana itu lebih kepada ekonomi dan buruknya sanitasi.  Bahkan masih ditemukan masyarakat buang BAB sembarangan dan juga akses air bersih sangat kurang,” ujarnya.

Untuk itu, agar percepatan penurunan  stunting ini tercapai, ia menghimbau kepada orang tua yang memiliki balita mulai usia 0 sampai 59 bulan diwajibkan datang ke posyandu agar dapat mengetahui pertumbuhan atau perkembangan anaknya. Mulai gizinya,  berat badan dan tinggi badan. (Cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.