Oknum ASN Dilaporkan Ke BKD Sumut
banner 325x300

Tak Nafkahi Keluarga, Oknum ASN Dilaporkan Ke BKD Sumut

  • Bagikan
KUASA Hukum RMB, Frien Jones Tambun. Oknum ASN dilaporkan ke BKD Sumut karena diduga tidak menafkahi keluarga. Waspada/Ist
KUASA Hukum RMB, Frien Jones Tambun. Oknum ASN dilaporkan ke BKD Sumut karena diduga tidak menafkahi keluarga. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Oknum Arapatur Sipil Negeri (ASN) dilaporkan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumut, karena diduga tidak menafkahi keluarganya.

Kuasa hukum RMB, sang istri itu, Frien Jones Tambun membenarkan oknum ASN dari salah satu kabupaten di Sumut itu dilaporkan ke BKD Sumut, dengan alasan tak menafkahi keluarga selama beberapa waktu.

Selain ke BKD, ASN berinsial MDHS juga dilaporkan kepada atasannya di dinas tempatnya bekerja dan pihak kepolisian.

Hal itu diceritakan RMB didampinigi kuasa hukumnya, Frien Jones Tambun saat menggelar konferensi pers di Medan, Jumat (16/10).

Diceritakan RMB, sejak menikah pada 2015, MDHS tidak pernah menafkahi keluarganya. Sebaliknya, justru RMB yang menafkahi layaknya kepala keluarga.

Bahkan di awal-awal berumahtangga, RMB banyak berkorban dengan melakoni sejumlah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya itu.

Mulai dari usaha laundry, agen produk, beternak sampai mengkredit mobil untuk suaminya yang menjadi supir online.

Semua itu dengan meminjam modal, kata RMB. Tapi semua usaha itu tidak berjalan mulus, kisah RMB.

“Pada 2018 saya bekerja di Filipina. Dari gaji itulah saya menafkahi keluarga dan membayar hutang-hutang yang telah menumpuk. Tiga bulan sekali saya pulang ke Medan. Sedangkan anak kami tinggal di rumah neneknya di Bagan Batu,” cerita RMB.

Pada Desember 2018, sambung RMB, suaminya itu diterima menjadi calon ASN di Kabupaten Samosir.
Mereka pun pindah ke kabupaten itu. Walau begitu RMB masih tetap bekerja di Filipina dan tetap mengirimkan gajinya untuk menafkahi suami dan anaknya itu.

“Sampai dia diangkat jadi ASN, tetap saya yang nafkahi. Dia tak pernah menafkahi keluarganya termasuk anaknya. Parahnya MDHS malah berselingkuh dengan perempuan lain,” katanya.

Foto-foto perselingkuhan itu ditemukan di handphonenya. Perempuan itu tinggal di Medan.

“Mereka berselingkuh (berhubungan badan) di Medan dan di rumah kami di Samosir,” lirih RMB.

Dijelaskan RMB, ia sendiri sudah tidak bekerja lagi di Filipina sejak Juli 2020. Ia pun ikut suaminya ke Samosir.

Dari sana ia tahu MDHS berselingkuh sejak 2019. Hal itu ia ketahui dari foto-foto di handphone MDHS.

Beberapa kali RMB minta komitmen dari MDHS, namun perselingkuhan itu tetap saja berlangsung. RMB juga mengaku masalah itu sebenarnya sudah diketahui keluarga besar masing-masing.

Karena itulah keluarga MDHS pernah akan menemui keluarganya. Namun tiga kali berjanji, tiga kali pula diingkari tanpa ada pemberitahuan.

“Jadi saya memang melihat tidak ada lagi niat baik mereka. Kepada MDHS saya juga pernah berbesar hati untuk menerimanya kembali, namun ia tetap berselingkuh. Kesabaran saya sudah habis,” kata RMB.

Kekerasan Psikis

Kuasa hukum RMB, Frien Jones Tambun, menambahkan, kliennya telah melaporkan kasus itu dengan beragam sangkaan.

Antara lain, kekerasan psikis dalam rumah tangga atau penelantaran anak dan istri (ke Polrestabes Medan), perzinahan (Polsek Sunggal).

Selain itu, MDHS sendiri juga sudah dilaporkan ke atasannya yakni Bupati Samosir dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Samosir.

“Klien kami meminta agar menindak tegas MDHS sesuai prosedur yang berlaku bagi ASN. Juga mendukung proses penegakan hukum atas pengaduan RMB,” kata Jones Tambun.

Selain itu klien kami meminta agar diberlakukan kebijakan dengan tujuan agar MDHS menghentikan perbuatannya dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga.

MDHS sendiri telah beberapa kali dihubungi untuk kebutuhan konfirmasi, namun tidak mengangkat telepon dan membalas pesan wartawan. (cpb/rel)

 

  • Bagikan