Ngaji Budaya PKS Sumut: Melestarikan Syair Melayu dan Launching Buku

Ngaji Budaya PKS Sumut: Melestarikan Syair Melayu dan Launching Buku

  • Bagikan
DEWAN Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumatera Utara menggelar kegiatan Ngaji Budaya untuk kedua kalinya dalam upaya melestarikan seni dan budaya di Sumatera Utara. Waspada/Ist
DEWAN Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumatera Utara menggelar kegiatan Ngaji Budaya untuk kedua kalinya dalam upaya melestarikan seni dan budaya di Sumatera Utara. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumatera Utara menggelar kegiatan Ngaji Budaya untuk kedua kalinya dalam upaya melestarikan seni dan budaya di Sumatera Utara.

Kegiatan yang dibidani oleh Bidang Seni Budaya DPW PKS Sumut ini juga disandingkan dengan Launching buku karangan Ketua DPW PKS Sumut, Assoc.Prof. Usman Jakfar, Lc, M.A. yang berjudul 100 Syair Religius.

Tema yang diusung ialah berangkat dari khazanah kebudayaan Melayu dengan topik Melestarikan Syair Melayu, Merawat Akal Budi Sumatera Utara.

Setelah sukses memoderatori Ngaji Budaya sebelumnya, praktisi seni Engran Ispandi Silalahi dipercaya kembali memandu acara ini. Selain itu, PKS Sumut menghadirkan pula pembicara yang ahli di bidang itu yakni Prof.Dr.dr. Umar Zein dan M. Raudah Jambak, di samping Ketua DPW PKS Sumut yang kali ini juga menjadi pembicara.

Sebagai pembicara pertama, Ketua DPW PKS Sumut mengutip hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya di dalam tiap syair itu terdapat hikmah. Sehingga banyak bidang keilmuan Islam yang pelajarannya diringkas dalam bentuk syair oleh para ulama.

“Waktu adalah modal kehidupan, nilainya lebih besar dari harta, semenitpun tak dapat ditangguhkan, sekalipun dibayar dengan dunia. Waktu adalah sangat signifikan, Allah bersumpah di dalam Al Quran, penggunaan waktu dijadikan ukuran, mendapatkan keuntungan ataupun kerugian.”, ujar Usman ketika membacakan cuplikan syairnya di Kantor DPW PKS Sumut, Medan, Minggu (21/11).

Eksistensi Syair Melayu

Sementara itu Prof.Dr.dr. Umar Zein mengulas tentang eksistensi Syair Melayu di Nusantara. Ia mengungkapkan bahwa syair merupakan puisi lama berbentuk ungkapan yang mengandung perintah, saran, ajakan, maupun larangan. Dan kesemua itu terdapat pada buku karya Usman Jakfar.

“Seberang tampak bunga melati, ada pula sepohon kentang. Sangat senang hati kami, karena PKS sudah mengundang”, kata Umar Zein mengawali paparannya.

Pembicara terakhir, M. Raudah Jambak, menambahkan penjelasan tentang bentuk syair ideal dan perkembangan syair. Syair yang semula hanya dituliskan, kemudian berkembang dengan turut dinyanyikan atau disenandungkan. Ia juga memberi apresiasi dan masukan positif terhadap buku 100 Syair Religius.

Moderator pada akhirnya menutup rangkaian acara dengan menyatakan bahwa akal budi masyarakat yang sedang tidak baik dapat dirawat dengan syair-syair inspiratif. (cpb)

  • Bagikan