Nek Atik Butuh Perhatian Serius Dari Pemerintah

Nek Atik Butuh Perhatian Serius Dari Pemerintah

  • Bagikan
NEK Atik (tengah) saat dikunjungi Tim KSJ Kecamatan Medan Belawan, Rabu (28/10) sekira pukul 17:00. Hidup sebatang kara, Nek Atik butuh perhatian serius dari pemerintah. Waspada/Ist
NEK Atik (tengah) saat dikunjungi Tim KSJ Kecamatan Medan Belawan, Rabu (28/10) sekira pukul 17:00. Hidup sebatang kara, Nek Atik butuh perhatian serius dari pemerintah. Waspada/Ist

BELAWAN (Waspada): SEJAK ditinggal pergi selama-lamanya oleh suaminya Muhammad Said, kehidupan Nek Atik, 55, semakin memprihatinkan. Kini hidup sebatang kara, Nek Atik butuh perhatian serius dari pemerintah.

Rumah gubuk kontrakan berada di Jl. PLTU Lingkungan II Kelurahan Belawan Sicanang Kecamatan Medan Belawan yang dihuninya itu sebenarnya jauh dari layak huni meskipun setiap bulannya Nek Atik yang hidup sebatang kara ini membayar uang sewa gubuk Rp 200 ribu per bulan.

Kondisi ekonominya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya lewat menjual barang-barang bekas yang dicari, dikumpul dan dijualnya setiap hari.

“Suamiku Muhammad Said, meninggal Enam tahun yang lalu. Sejak suamiku meninggal, hidupku semakin susah dan sebatang kara,” tutur Nek Atik sembari menyeka air mata yang bergulir dari kelopak matanya.

Kepada Tim Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) Kecamatan Medan Belawan dipimpin Aswin Ashyar yang mendatangi gubuk berukuran 2,5 × 4,5 itu, Nek Atik mengaku setiap harinya harus mengais rezeki di jalanan.

Yakni dengan mengumpulkan botol plastik sisa minuman air mineral atau barang bekas lainnya untuk dijual kepada penampung barang bekas atau botot.

“Alhamdulillah hasil menjual botol-botol bekas hari ini terjual Rp 10.000,” ujarnya.

Di gubuk yang tak layang huni itu, Nek Atik tinggal seorang diri, tanpa ada jamban atau sanitasi untuk buang air. Setiap harinya Nek Atik hanya ditemani seekor Kucing kesayangannya yang setia menemaninya.

Hanya sebuah tungku untuk memasak nasi dan air yang terdapat di ruang belakang sedangkan di bagian tengah dijadikan sebagai tempat pengumpulan botol plastik sisa minuman yang dikumpulkan sebelum dijual kepada penampung barang bekas.

Bagian depan ada sebuah dipan kecil sebagai tempat tidur wanita tua tersebut. Bila malam hari, gubuk tersebut hanya diterangi oleh sebuah lampu templok berbahan bakar minyak tanah.

Saat ditanya soal bantuan langsung tunai (BLT) atau bantuan untuk warga yang terdampak pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih digulirkan oleh pemerintah, Nek Atik mengaku tidak pernah menerima atau menikmati bantuan tersebut.

“Sampai sekarang saya tak pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah,” aku Nek Atik.

Diakui Nek Atik, wajar saja dirinya tidak menerima bantuan dari pemerintah karena saat ini dirinya tidak memiliki identitas diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau pun Kartu Keluarga (KK).

“Dulunya, saya memiliki KTP dan KK. Gubuk saya ini dulu pernah terbakar. Api juga membakar KTP, KK dan surat keterangan lainnya,” tutur Nek Atik.

Nek Atik mengakui bahwa untuk mengurus kembali KTP dan KK yang baru, dirinya tak punya uang dan tak ada orang yang mau membantunya.

“Aku tak punya uang untuk mengurus KTP dan KK, apalagi aku harus mencari barang bekas untuk bisa dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Nek Atik mengisahkan, sejak beberapa tahun silam dirinya harus mengeluarkan biaya sewa gubuk sebesar Rp 200.000 per bulan.

“Untuk tempat tinggal ini saya harus membayar Rp 20O.000 per bulan, sementara hasil mencari botot paling tinggi Rp15.000 per hari. Uang tersebut saya bayarkan untuk sewa gubuk dan keperluan beli minyak tanah dan beras serta ikan asin,” ujarnya seraya menunjukkan ikan asin yang tergantung di mangkok plastik.

Selamatkan Nenek Atik

Sementara itu, Relawan Kartini KSJ bernama Zainaf Yusuf, 47, Relawan Kartini KSJ yang ikut menjenguk Nek Atik menegaskan bahwa pemerintah berkewajiban menyelamatkan Nek Atik dari kesengsaraan yang dideritanya bertahun-tahun.

Nek Atik butuh perhatian serius dari pemerintah dengan mensejahterahkan rakyatnya agar hidupnya tidak sengsara.

“Nek Atik bisa ditempatkan ke Panti Jompo yang dikekola oleh UPT Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, karena di Rumah Jompo tersebut hidup nek Atik akan lebih teratur hidupnya dibandingkan tinggal di gubuk yang dibebani dengan pembayaran sewa dan membeli kebutuhan sehari-hari,” kata aktivis perempuan yang terlibat dalam kegiatan daur ulang sampah dan juga mengelola Pendidikan Anak Usia Dini di kawasan Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan ini.

Sebelum meninggalkan gubuk yang dihuni Nek Atik, Tim KSJ Kecamatan Medan Belawan memberikan sembako dan tali kasih kepada nek Atik agar bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. (m27)

  • Bagikan