MUI Sumut Minta Satgas Covid Tidak Bubarkan Jamaah Shalat Idul Adha

MUI Sumut Minta Satgas Covid Tidak Bubarkan Jamaah Shalat Idul Adha

  • Bagikan
SHOLAT IED DI TENGAH PANDEMI COVID-19. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara(MUISU), Dr H Maratua Simajuntak, menyampaikan agar Satgas Covid di Sumut, tidak melakukan pembubaran jamaah yang melaksanakan Shalat Idul Adha pada Selasa 20 Juli mendatang. Ilustrasi
SHOLAT IED DI TENGAH PANDEMI COVID-19. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara(MUISU), Dr H Maratua Simajuntak, menyampaikan agar Satgas Covid di Sumut, tidak melakukan pembubaran jamaah yang melaksanakan Shalat Idul Adha pada Selasa 20 Juli mendatang. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara(MUISU), Dr H Maratua Simajuntak, menyampaikan agar Satgas Covid di Sumut, tidak melakukan pembubaran jamaah yang melaksanakan Shalat Idul Adha pada Selasa 20 Juli mendatang.

“Ya, MUI dengan tegas meminta tidak ada pembubaran saat pelaksanaan shalat Id,sebab pasti tetap ada umat Islam yang melaksanakan shalat Id,”kata Maratua Simajuntak Jumat(16/7).

Pada dasarnya,kata Maratua,MUI Sumut sejalan dengan fatwa MUI Pusat dan pemerintah tentang pelaksanaan ibadah shalat Id. Dimana, dalam fatwa MUI Pusat tentang pelaksanaan ibadah, bahwa:

1. Aktivitas ibadah di masjid, mushalla dan tempat ibadah publik yang bersifat kerumunan seperti pengajian, majlis taklim, tahlil, istighatsah kubra, dan sejenisnya agar memerhatikan kondisi faktual di kawasan tersebut, untuk kawasan yang penyebaran covid19 tidak terkendali bisa mengambil rukhshah dengan melaksanakan ibadah di rumah.

Di daerah yang terkendali, penyelenggaraan ibadah dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, sebagai upaya untuk pencegahan potensi terjadinya mata rantai penularan.
2. Masjid dan tempat Ibadah tetap menyerukan adzan dan dilakukan oleh petugas yang secara khusus dan rutin melakukan seruan adzan, tidak berganti. Untuk Shalat rawatib bagi jamaah umum dapat dilakukan di rumah masing-masing.

3. Pelaksanaan shalat Jumat mengacu pada Fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Shalat Jum’at dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19, dilaksanakan dengan protokol kesehatan secara sangat ketat, dan hanya diikuti oleh jamaah warga setempat. Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa maka di Masjid tersebut tidak boleh diselenggarakan Sholat Jum’at dan umat Islam melakukan Shalat Zhuhur di rumah/kediaman masing-masing.

4. Pelaksanaan shalat Idul Adha mengacu pada Fatwa Nomor 36 Tahun 2020 tentang Shalat Idul Adha Dan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Wabah COVID-19, yang implementasinya diserahkan kepada Pemerintah atas dasar upaya mewujudkan maslahat (jalb al-mashlahah) dan mencegah terjadinya mafsadat (daf’u al-mafsadah).

“Tetapi, untuk masyarakat yang tetap akan melaksanakan shalat Id, tentu tidak bisa dilarang. Terlebih mereka yang berpendapat sudah tua, siapa tau tidak bisa lagi bertemu Id tahun depan,” kata Maratua.

Tidak Mengusir

Maka, sambung dia, Satgas Covid harus pula menghargai keputusan seseorang yang akan melaksanakan shalat. Tidak mengusir atau menghujat, tetapi memastikan apakah jamaah sudah ikuti prokes.

“Jika saat melakukan pengawasan di masjid, Satgas melihat jamaah tidak menggunakan masker, diberikan masker. Bukan marah-marah atau mengusir bahkan membubarkan,”ungkap Maratua.

Dia menyebutkan, sudah menyampaikan kepada para BKM harus mempersiapkan masker memberikan arahan prokes pada jamaah karena kondisi saat ini sedang menyebar wabah covid-19 dan tetap ada imam dan khatib di masjid dengan waktu khutbah tidak terlalu lama atau hanya 10 menit saja.

“Untuk umat Islam juga diimbau agar menjaga situasi kondusif dalam pelaksanaan shalat Id. Usai shalat hendaknya langsung pulang dan tidak berjabat tangan. Doa kita sebelum Idul Adha Covid di Sumut sudah pada lavel hijau,” kata Maratua. (m22)

  • Bagikan