Waspada
Waspada » Merdeka Belajar, Siswa Punya Kesempatan Lebih Luas
Medan

Merdeka Belajar, Siswa Punya Kesempatan Lebih Luas

punya kesempatan lebih luas
Pengamat Pendidikan Sumut, Ali Nurdin,MA saat memberikan paparan tentang siswa punya kesempatan lebih luas. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Merdeka belajar diberikan Mendikbud Nadiem Makarim,dapat dimaknai siswa diberi kesempatan lebih luas untuk mengembangkan bakat, minat dan keterampilan dirinya. Tidak tergantung sepenuhnya pada guru.

Bahkan disini peran dan fungsi guru lebih banyak sebagai informan, stimulan dan fasilitator. Hal itu disampaikan Pengamat Pendidikan Sumut, Ali Nurdin,MA,Kamis (2/1).

Siswa tidak hanya terfokus di dalam kelas tetapi belajar di luar kelas, di lapangan bahkan diluar sekolah. Bahkan guru yang selama ini dianggap sebagai ‘pemilik’ ruang kelas telah beralih kepada siswa yang menjadikan kelas sebagai lapangan sekaligus laboratorium dan secara aktif  menumpahkan ide, gagasan dan konsep konsep dirinya dalam kerangka proses perubahan.

Pada hakikatnya sambung  Ali Nurdin,  belajar bukanlah konsekuensi otomatis ketika semua informasi dituangkan ke dalam otak dan benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental, kerja, dan partisipasi aktif.

“Merdeka belajar bukan berarti siswa bebas sebebas bebasnya dalam menuangkan ide serta tingkah lakunya dalam belajar. Akan tetapi konsep merdeka belajar siswa secara mandiri harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

Siswa Perlu Mendengar

Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik siswa punya kesempatan lebih luas dan perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan dan membahas dengan orang lain, katanya saat diwawancarai.

Selanjutnya, tahapan yang paling penting, bagaimana siswa mengerjakannya, yakni menggambarkan dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contoh, mempraktikkan keterampilan dan mengerjakan tugas.

Agar siswa mendapatkan kesempatan mempraktikkan semua hal di atas, siswa harus mendapatkan otonominya secara utuh. Merdeka belajar  adalah siswa juga agen yang otonom. Siswa juga harus diberikan kebebasan luas dalam belajar.

“Janganlah guru membatasi siswa mengerjakan hanya latihan-latihan yang disiapkan guru. Berilah kebebasan siswa berlatih dengan materi latihan pilihannya sendiri.

Selama ini yang terjadi siswa terkungkung dengan RPP yang disusun guru.  Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dirancang kaku dengan langkah kerja sangat prosedural sehingga siswa harus melakukan kegiatan sangat rigid dalam setiap pelajaran,”katanya.

Dalam hal ini, sekolah dan guru menyediakan ruang kreativitas siswa untuk menerapkan ide pribadinya dalam menyelesaikan latihan-latihan pada setiap pelajaran. Siswa punya kesempatan lebih luas dan harus diarahkan saling membantu serta bekerja dalam kelompok untuk mencapai atau mengalami sebuah proses pembelajaran.

“Merdeka belajar intinya adalah independensi  membuat setiap siswa itu mampu mengeluarkan seluruh potensinya. Dengan kebebasan dimaksud, setiap individu mampu memaksimalkan dan berimprovisasi untuk memberikan segalanya dalam pembelajarannya. Siswa juga akan merasa sangat dihargai karena dipercaya dan diberikan keleluasaan bertindak,”ungkapnya.

Selain itu, ada hubungan yang saling memengaruhi antara otonomi, kebebasan dan kompetensi seseorang siswa. Artinya, jika otonomi seseorang ditambah, secara signifikan tingkat kompetensinya membaik. Demikian juga, jika otonominya dikurangi secara signifikan tingkat kompetensinya berkurang.(m37)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2