Waspada
Waspada » Masyarakat Jangan Terpecah Karena Aksi Teror
Medan

Masyarakat Jangan Terpecah Karena Aksi Teror

PRAKTISI Hukum Kota Medan Rahmad Yusup Simamora SH MH. Masyarakat jangan terpecah karena aksi teror. Waspada/Rama Andriawan
PRAKTISI Hukum Kota Medan Rahmad Yusup Simamora SH MH. Masyarakat jangan terpecah karena aksi teror. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Aksi-aksi teror yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab belakangan ini, tidak boleh sampai berdampak pada kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah dan menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Masyarakat semestinya punya andil untuk membantu pemerintah dalam hal ini para penegak hukum, untuk bersama-sama mengungkap teror tersebut.

“Kalau hal ini kita kait-kaitkan karena pemerintah dianggap selama ini tidak adil, saya kira kita sudah terlalu jauh berpikir ke sana. Karena itu, wajar bila menimbulkan perpecahan di masyarakat. Tapi faktanya, aksi itu memang ada,” kata Praktisi Hukum Kota Medan Rahmad Yusup Simamora SH MH (foto) kepada Waspada, Senin (5/4).

Ia menyampaikan itu, menyikapi kejadian teror yang terjadi di Kantor Mabes Polri dan di Gereja Katedral yang terjadi belum lama ini. Menurutnya, masyarakat harus mampu berpikir jernih memandang persoalan ini, apalagi menduga-duga aksi teror yang terjadi dilakukan agama tertentu.

“Sikap masyarakat yang demikian itu, justru bisa menimbulkan kegaduhan. Saya kira kita juga harus bersama-sama membantu aparat penegak hukum mengungkap kasus-kasus seperti ini. Bukan waktunya saling curiga mencurigai lagi. Karena tindakan seperti meresahkan kita semua,” ujarnya.

Menurut dia, aksi teror bisa menyerang siapa saja tanpa melihat latar belakang seseorang atau agamanya.

“Sasarannya bisa ke siapa saja. Bukan karena ada label agama tertentu. Tidak ada itu. Yang namanya teror, penyerangan, itu musuh semua agama, tidak boleh dilabelkan dengan agama tertentu,” ujarnya.

Ia berpandangan, masih adanya orang-orang yang melabelkan pelaku teror dengan keterlibatan agama tertentu, adalah sebuah bentuk upaya adu domba.

“Itu bentuk upaya adu domba yang selama ini sebenarnya kita sudah rukun-rukun saja. Artinya bukan karena ada perpecahan selama ini. Meskipun ada kubu-kubuan, tapi bukan karena soal teror. Itu hanya sebatas pada pilihan dalam kontestasi politik saja. Namanya teror, itu musuh bersama kita,” ucapnya.

Dipisahkan

Karena itu, ia mengimbau masyarakat yang selama ini sudah hidup rukun berdampingan, agar mengesampingkan pandangan munculnya teror karena ketidakadilan pemerintah ke masyarakat.

“Kita memohon ke masyarakat, supaya pandangan ketidakadilan pemerintah agar dipisahkan dengan kejadian-kejadian seperti ini. Karena apapun alasannya yang namanya peneror tidak dibenarkan,” tegasnya.

Justru seharusnya, kata dia, inilah saatnya masyarakat bersatu untuk saling menguatkan dan saling memberikan dukungan kepercayaan terhadap pemerintah.

“Sepanjang kita bisa berikan masukan dan kritikan ke pemerintah, kita lakukan saja. Selebihnya kita berdoa, dan kita bantu pemerintah supaya bisa berlaku adil bagi semua masyarakat,” imbaunya.

Kepada penegak hukum, ia berpesan, agar lebih ekstra hati-hati dan terus meningkatkan keamanan agar tidak lagi sering kecolongan terhadap aksi-aksi teror.

“Kepolisian harus lebih ekstra fokus kepada dalang dibalik ini, kenapa bisa terjadi. Oke lah kalau memang dilakukan tindakan kepada pelakuunya. Tapi yang lebih besar keberlanjutannya ya dalangnya ini, siapa penyusupnya, siapa yang mendoktrin ini. Itulah tugas terberat penegak hukum,” tandasnya.

Sebab menurutnya, teror tidak akan pernah habis dan para pelaku setiap saat bisa berkembang, setiap celah dimanfaatkan untuk terus meneror. (m32).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2